Senin, 03 September 2018

Nisi GND Reverse, Filter untuk Penikmat Sunset/sunrise yang Sesungguhnya


Di postingan sebelumnya saya telah membahas secara umum tentang GND filter dan memberikan sedikit ulasan untuk GND Medium 4 stop. Kali ini giliran GND Reverse 0.9 atau 3 stop.

Nisi iR Reverse GND 0.9
GND reverse ini bisa dikatakan GND yang spesial. Karena biasanya harganya sedikit lebih mahal dari GND jenis lain. Tapi jika Anda memilih Nisi, Nisi membandrol GND Reverse mereka sama dengan GND yang lain. Kecuali GND Medium, GND Medium Nisi dibandrol sedikit lebih mahal. 

Yang membuat GND ini spesial dikarenakan GND ini menurut saya yang paling pas untuk kondisi sunset / sunrise, di mana matahari sebagai area paling terang berada di tengah. Semakin ke atas, di mana cahaya matahari semakin memudar, area gelap GND ini semakin memudar.


Boleh dibilang ini adalah filter GND favorit saya. Memang GND medium 4 stop lebih fleksibel untuk bermacam situasi. Tapi jika mengkhususkan untuk pemandangan sunset/sunrise di mana batas horizonnya jelas, dan area paling terang berada di atas horizon, maka ini adalah favorit saya. Terlebih saya seorang penggemar sunset/sunrise saat posisi matahari menyentuh horizon.

Berbeda dengan GND Hard yang memiliki area gelap yang solid dari tengah ke atas. Transisi GND Reverse dari tengah ke area bawah cukup solid mirip GND Hard. Sedangkan transisi ke atas lembut mirip GND Soft. Semakin ke atas semakin pudar area gelapnya. Karena transisi yang spesial ini GND reverse menghasilkan gambar yang terlihat lebih natural di banding GND yang lain. Sayangnya karena transisi ke bawahnya cukup solid membuatnya agak sedikit susah untuk digunakan di mana garis horizon terhalang oleh objek-objek lain.

Yang saya gunakan adalah GND reverse 0.9 atau 3 stop. Memang terkadang GND 3 stop ini dirasa kurang kuat untuk mereduksi saat pemandangan sunset yang sangat kuat. Tapi masih bisa diperbaiki saat post prosessing. Mungkin jika untuk pemandangan sunrise/sunset yang sangat kuat harus menggunakan GND Reverse 1.2 atau 4 stop.

GND Reverse dari Nisi ini memiliki kualitas yang sama baiknya dengan GND yang lain. Di mana ketajaman foto tetap terjaga dan color cast yang sangat kecil. Untuk holder-nya saya masih menggunakan holder yang sama.

Contoh Foto

Pemadangan di Pulau Santolo.
Ini adalah pemandangan ketika matahari hampir menyentuh Horizon. Di mana area terang berada di atas horizon. Tapi jika kita lihat di foto, ada pepohonan yang menghalangi hampir setengah panjang horizon. Idealnya, kondisi seperti ini menggunakan GND Soft atau Medium. Tapi saya tetap menggunakan GND Reverse dengan sedikit melakukan editing saat post processing untuk menaikan area shadow pada pepohonan.
Pemandangan Matahari terbenam di Pulau Santolo

Di foto di atas, garis horizon terlihat jelas. Hanya terhalang oleh rumah di sebelah kanan, bukan masalah yang besar karena saya bisa memperbaikinya saat post processing. Dengan GND reverse ini area langit terlihat lebih natural, exposure langit terlihat pas dan merata dari mulai garis horizon hingga ke atas foto.
Terasering pesawahan di Desa Situsari, Cisurupan.

Pemangangan di sini, area Horizon tidak terlihat jelas karena terhalang oleh sawah dan punggung gunung Cikurai. Tapi karena waktu itu saya hanya membawa GND Reverse, jadi saya tetap memaksakan. Selanjutanya saya tetap memperbaiki area shadow saat post processing.
Blue hour di situ Bagendit.

Berikutnya, pemandangan blue hour di Situ Bagendit. Ini adalah pemandangan sekitar 15 menit setelah matahari tenggelam. Ketika langit mulai berubah dari biru menuju gelap. Tapi di area horizon cahaya langit masih terlihat kuat. Jadi saya tetap putuskan untuk memakai GND Reverse. Walaupun kita lihat ada pohon yang menghalangi.

Berikut hasil foto yang lain.
Golden Hour Situ Bagendit.
Golden Hour Situ Bagendit.
Golden Hour di Situ Sari.


Kesimpulan

Sejauh ini saya merasa puas dengan GND Reverse dari Nisi ini. GND ini mereduksi cahaya dengan baik dengan color cast yang sangat rendah. Transisinya menghasilkan gambar yang terlihat lebih natural dari jenis GND lain. Sayangnya agak susah jika dipakai untuk pemandangan dengan banyak objek yang menghalangi garis horizon.

Minggu, 26 Agustus 2018

Nisi Medium GND, Mungkin Hanya Satu filter GND yang Kamu Butuhkan


Sebelumnya saya secara umum telah menjelaskan tentang GND filter di sini. Kali ini saya akan memberikan sedikit ulasan dari pengalaman memakai Nisi Medium GND. Yang saya ulas di sini adalah Nisi iR Medium GND 1.2 (4 stop).

Saya sudah cukup lama memakai filter ini. Ini adalah filter GND pertama saya. Saya sudah memakai filter ini dalam berbagai kondisi memotret. Saya katakan ini adalah ulasan berdasarkan pengalaman saya memotret. Dan mungkin pengalaman setiap orang bisa sedikit berbeda.

Nisi Medium GND ini merupakan filter yang relatif baru. Baru diperkenalkan tahun kemarin. Banyak yang merespons positif kehadiran filter ini.

Sejauh ini hanya ada dua produsen yang telah mengeluarkan filter GND Medium. Pertama Lee filter, salah satu nama besar dalam industri filter dunia. Dan kedua, Nisi Filter. Perusahaan asal China yang selama beberapa tahun terakhir telah meningkat pesat dalam produk filternya.

Nisi telah menjadi terkenal karena kualitas gambarnya yang sangat baik dan color cast-nya yang sangat rendah. Nisi melapisi filter mereka dengan teknologi nano yang membuatnya sangat mudah dibersihkan dan tahan lama.
Teknologi Nano Nisi.
Sebelumnya kita telah mengenal filter GND hard dan GND Soft. Tapi di lapangan kita kadang menemukan situasi di mana tidak bisa dengan GND hard ataupun soft. Maka GND Medium adalah jawabannya. Transisi Nisi Medium GND ini merupakan perpaduan antara hard dan soft sehingga membuatnya lebih fleksibel di berbagai situasi dan kondisi.
Paket penjualan Nisi Medium GND.
Ketika anda membeli filter GND Nisi, kita akan berikan softcase dalam paket penjualan sebagai tempat menyimpan filter. Tapi, jujur saya sangat tidak suka softcase-nya. Disainya memang sangat stylish dan elegan tapi sangat tidak fleksibel saat mau memasukkan atau mengeluarkan filternya. Lagi pula softcase tidak akan melindungi filter dari benturan keras. berbeda dengan hardcase dari plastik yang umum dijual filter lain.

Ilustrasi Nisi Medium GND
Nisi memberikan ilustrasi bagai mana medium GND bekerja. Tapi menurut saya itu sedikit salah. Karena diameter lensa tidak sepanjang filter. Sehingga ketika kita memasang filter area transisi masih menutupi sebagian besar area lensa.
Transisi GND medium
Perbandingannya adalah diameter ring filter lensa ultra wide saat ini rata-rata 77mm (Walaupun ada yang memakai 82mm). Sedangkan area transisi Medium filter adalah 30 mm. Artinya jika kita menempatkan horizon tepat di tengah lensa, dan memasang filter lensa tepat di tengah-tengah. Maka sebagian besar area gelap adalah area transisi, bukan area solid. Bahkan area transisi akan sedikit turun ke bawah garis Horizon. Kita harus sedikit menurunkan filter agar bisa mendapatkan lebih banyak area solid.

Tapi walaupun demikian, transisi Medium lebih solid dari Soft GND. Jadi bisa dikatakan GND medium lebih kuat dalam mereduksi area terang ketimbang GND Soft. Dan karena lebih solid dan memiliki area transisi yang cukup. Maka GND medium lebih flesible dari Soft ataupun Hard.

Nisi GND Medium ini kompatibel dengan sistem Lee Filter ataupun sistem filter yang lain yang mendukung ketebalan 2mm dengan sistem 100x150mm. Jadi Anda tidak usah khawatir untuk ganti holder filter jika sudah memiliki holder filter yang lain.

Contoh Gambar
Ulasan tidak lengkap tanpa contoh foto. Saya akan memberikan beberapa contoh foto yang telah saya ambil menggunakan GND medium ini. Saya menggunakan Medium GND 4 stop. Saya telah melakukan post processing dengan Adobe Camera Raw hampir semua foto ini.

Situ Bagendit.
Saya mencoba untuk pemandangan sunset di Situ Bagendit. Di sini Saya tidak menempatkan filter secara lurus tapi agak miring ke kanan. Kenapa? Kita lihat ada pantulan cahaya di air di area foto sebelah kanan. Jika lurus, maka area air tidak akan tereduksi. Area transisi filter saya gunakan untuk mereduksi pantulan cahaya di air. Ini tidak mungkin bisa dilakukan kalau kita menggunakan GND Hard atau Reverse. Karena transisinya solid, maka akan susah jika harus diturunkan ke bawah untuk mereduksi pantulan cahaya di air.

Pemangan situ Bagendit dari belakang.
Berikutnya saya mencoba pemandangan matahari terbit, masih di Situ Bagendit, tapi dari arah belakang. Ini pemandangan sunrise yang sangat kuat. GND Medium 4 stop pun tidak bisa mereduksi dengan baik. Area darat masih under exposure sedangkan area langit exposurenya sudah cukup. Saya harus menaikkan area shadow dengan Adobe Camera Raw.

Matahari terbit di Situ Bagendit 1.
Matahari terbit di Situ Bagendit 2.
Kedua foto diatas diambil hampir bersamaan. Medium Nisi GND 4 stop mereduksi cahaya dengan sangat baik sehingga saya mendapatkan foto dengan exposure yang hampir merata.

Kesimpulan
Nisi Medium GND ini mungkin filter yang lebih fleksibel dari GND Hard ataupun Soft. Saya rasa ini akan jadi pertimbangan untuk anda yang akan membeli filter pertama anda.

Selera orang ketika memotret akan mempengaruhi hasil foto dari filter ini. Okai, memang tidak semua kondisi akan bisa teratasi dengan Medium GND seperti saat pemandangan di pantai di mana GND hard atau Reverse jauh lebih berguna. Tapi sedidaknya GND medium ini bisa mereduksi area untuk selanjutnya bisa kita perbaiki saat post processing.


Sabtu, 25 Agustus 2018

GND Filter, Filter Paling Mewah Fotografer Landscape

Pemandangan Matahari terbenam di Pulau Santolo.
Para fotografer landscape menghabiskan puluhan juta rupiah untuk membeli sensor yang canggih pada kamera mereka. Optik yang berkualitas pada lensa mereka. Dan ketika kita membicarakan filter, orang akan mengira itu efek warna di Android dan iPhone. Tidak, filter yang akan dimaksud di sini adalah filter optik tambahan yang digunakan para fotografer landscape untuk mengambil foto mereka.
Filter GND dan holder filter. (Photo by www.capturelandscapes.com)
Filter dan holder filter yang terpasang di kamera. (Photo by www.lifepixel.com.)

Kenapa GND filter itu perlu?
Karena sensor kamera yang harganya puluhan juta sekalipun belum lah sempurna.  Salah satu kelemahan kamera digital yang paling terlihat hingga saat ini yaitu Dynamic Range.

Sejak kamera digital lahir beberapa dekade lalu, produsen kamera terus berusaha memperbaiki kelemahan itu. Kemampuan dynamic range kamera sekarang sudah jauh meningkat tapi masih belum sempurna.

Dynamic range adalah kemampuan kamera mengenali cahaya dari yang paling terang, hingga yang paling gelap. Terang dan gelap di sini bukan warna tapi intensitas cahaya, yang terang tidak selalu putih, dan yang gelap tidak selalu hitam.

Setiap kamera memiliki kemampuan dynamic range yang berbeda. Semakin tinggi semakin baik pula. Kamera smartphone saat ini memiliki sekitar 8-10 Stop. Kamera D-SLR dan Mirrorless sekitar 11-14 stop. Hingga tulisan ini diposting, kamera dengan Dynamic Range terbaik masih di pegang Nikon D850 sekitar 14,8 Stop. Mata manusia? Luar biasa, mampu mengenali hingga 22 stop.

Perbedaan yang sangat terasa yaitu saat memotret sunset atau sunrise. Saat kita melihat pemandangan sunrise atau sunset. Langit yang cerah menerangi area darat. Semuanya indah. Tapi tidak bagi kamera.
Pemandangan matahari terbit yang saya ambil sendiri di atas rumah saya.
Area darat yang merupakan area shadow, area yang tidak tersinari langsung oleh matahari memiliki dynamic range yang sangat kecil, jauh berbeda dengan area langit. Hasilnya ketika kita memotret area darat akan tampak lebih gelap. Exposure darat dan langit menjadi tidak seimbang.

Setiap fotografer landscape pasti akan berjuang untuk mendapatkan seluruh gambar terpapar dengan benar. Ada yang memotret beberapa kali dengan tingkat exposure yang berbeda untuk kemudian melakukan post processing di photoshop. Itu sedikit merepotkan memang. Bagaimana cara untuk mendapatkan exposure sempurna dalam sekali memotrt? Jawabannya adalah GND Filter.
Dengan bantuan GND Medium saya bisa mendapatkan foto yang lebih baik.
Untuk mengurangi perbedaan exposure langit dan darat ini, maka fotografer menambahkan filter GND di depan lensa. Hasilnya fotografer akan mendapatkan foto dengan exposure yang lebih seimbang antara darat dan langit.

GND Filter
GND atau Graduated Neutral Desensity Filter adalah filter yang digunakan untuk mereduksi cahaya di area tertentu. Dan sesuai namanya Neutran Density yang artinya tidak mengubah warna foto. GND Filter ini memiliki dua bagian gelap dan transparan. Bagian atas yang merupakan area gelap biasanya digunakan untuk mereduksi area langit yang terang, sedangkan bagian transparan digunakan untuk area darat. Area gelap ini memiliki tingkat gelap yang berbeda, mulai dari 1 stop hingga sampai 5 stop, tergantung kebutuhan.
Pemandangan matahari terbit dengan bantuan GND Reverse 3 stop.
Diantara semua filter yang digunakan dalam fotografi, bisa dikatakan filter GND ini lah yang paling mewah. Selain dari fungsinya juga dari harga. Walaupun harga juga tergantung dari bahan GND tersebut.

Untuk memasang GND filter ini ditbutuhkan holder filter juga ring adapter untuk memasang holder pada lensa. Biasanya dalam satu holder terdapat beberapa slot yang bisa di isi dengan filter. Jadi kita bisa memasang beberapa filter sekaligus sesuai slot yang tersedia.

Ada tiga jenis GND dilihat dari bahannya.

Plastik
Paling murah juga kualitasnya tidak begitu bagus. Karena filter dari bahan plastik mengurangi ketajaman foto juga menghasilkan color cast yang sangat tinggi. Bisanya filter dari bahan plastik dibandrol dibawah Rp 500 ribuan.

Resin
Kelas menengah. Menghasilkan foto yang lebih baik dari bahan plastik. Lebih sedikit color cast juga menghasilkan ketajaman yang lebih baik. Dari segi harga bahan resin sedikit lebih mahal dari yang berbahan plastik. Harganya sedikit lebih mahal dari bahan plastik. Sekitar Rp 500 ribu sampai satu  juta rupiah.

Terakhir, berbahan kaca
Paling premium. Menghasilkan ketajaman foto yang sangat baik dan paling sedikit color cast bahkan sama sekali tanpa color cast. Tentu saja semua ini berbanding lurus dengan harga. GND yang berbahan kaca biasanya dibandrol mulai harga 1,5 juta sampai 3 jutaan tergantung merek dan jenis GND.

Jenis GND berdasarkan transisi
Filter GND ini berdasarkan transisinya memiliki beberapa jenisnya.

GND Hard Edge
GND ini memiliki transisi yang solid dari area gelap ke transparan. GND ini biasanya digunakan untuk memotret di mana garis horizon terlihat jelas tanpa ada objek lain. Contohnya seperti di pantai. Atau padang rumput, padang pasir di mana horizon benar-benar tak terhalang objek lain. Kerapatan yang sering dipakai biasanya 3 stop.
Ilustrasi GND Hard. Photo by Nisi Filter.
GND Soft Edge
GND ini memiliki transisi yang lembut dari area gelap ke terang. GND ini biasanya digunakan untuk memotret di mana garis horizon terhalang oleh objek-objek tertentu seperti bangunan, gunung, pohon. Kerapatan yang sering dipakai biasanya 4 atau 5 stop.
Ilustrasi GND Soft. Photo by Nisi Filter.
 
GND Reverse
Ini adalah filter GND yang khusus, biasanya harganya juga lebih mahal dari kedua jenis di atas. Reverse ini adalah versi kebalikan dari soft edge. Karena area gelap berada di tengah semakin ke atas semakin pudar. GND ini dikhususkan untuk pemandangan sunrise atau sunset tepat matahari sebelum tenggelam. Kerapatan yang sering dipakai biasanya 3 atau 4 stop.
Ilustrasi GND Reverse. Photo by Nisi Filter.

Pemandangan matahari terbenam di pulau Santolo dengan bantuan filter GND Reverse 3 stop.
GND Medium
Ini merupakan jenis GND yang relatif baru. Hanya ada dua produsen yang mengeluarkan GND jenis ini. Yaitu Lee Filter dan Nisi Filter. Filter ini merupakan filter yang merupakan tengah-tengah di antara filter GND Hard dan Soft. Transisi dari area gelap ke terang lebih kontras terlihat dari GND soft tapi tidak se solid GND Hard. Secara khusus saya telah mengulas filter ini. Bisa dibaca di sini.

GND Horizon
Ini merupakan filter GND yang lebih khusus lagi. Karena area gelap hanya di tengah saja. Filter ini digunakan untuk pemandangan matahari terbenam di mana, cahaya matahari memantul di air di mana tidak akan bisa diatasi oleh filter GND reverse. Filter ini merupakan filter yang paling mahal dari semua GND di atas. Hanya Nisi yang memproduksi filter jenis ini.
Perbedaan transisi GND. (Photo by www.lifepixel.com.)
Nisi GND Horizon
GND filter apa yang harus dibeli?
Pertanyaan yang sama seperti saya sebelum memiliki filter ini. Terutama untuk kita yang memiliki anggaran terbatas. Rasanya tidak mungkin membeli semua filter GND.

Setiap GND memiliki fungsi yang berbeda, tapi bukan berarti kita harus membeli semuanya. Jika Anda seorang fotografer pemula yang akan memutuskan membeli filter GND pertama Anda. Putuskan dulu apa yang akan sering Anda fotret. Jika pemandangan horizon yang lebih sering tak terganggu objek lain. GND Hard atau reverse lebih cocok untuk Anda.

Jika lebih sering memotret pemandangan matahari terbenam atau terbit di mana banyak objek yang menghalangi, maka GND soft atau medium lebih cocok untuk Anda. Kerapata yang sering dipakai 4 stop.

Adakah GND yang bisa dipakai untuk segala kondisi?
Sebenarnya tidak ada, tapi jika kita sedikit lebih kreatif mengakali situasi. Bisa memilih GND Soft 4 stop atau Medium 4 stop.

Dulu sebelum Medium GND lahir, GND Soft 4 stop yang banyak direkomendasikan untuk segala kebutuhan. Sekarang banyak fotografer yang lebih merekomendasikan GND Medium sebagai filter GND yang bisa dipakai hampir di semua kondisi. Kita hanya butuh lebih kreatif untuk menempatkan transisi yang tepat.

Kerapatan yang di pilih bisa 3 stop atau 4 stop. Pengalaman saya di lapangan, lebih sering memakai yang 4 stop.
Pemandangan Situ Bagendit saat matahari terbit dengan bantuan GND Medium 4 stop.

Apakah setelah memakai GND masih butuh post processing?

Pengalaman saya, di hampir kebanyakan foto tetap selalu butuh post processing baik itu di Adobe Lightroom atau pula Adobe Camera Raw. Karena saya hanya memiliki dua buah GND, yaitu GND Medium 1.2 (4 stop) dan satu buah GND Reverse 0.9 (3 stop). Di lapangan saat memakai salah satu GND itu kadang terasa terlalu gelap dan terkadang kurang gelap. Sehingga saya tetap membutuhkan post processing untuk memperbaiki exposure foto.

Kata akhir
Memotret dengan filter GND memang tidak akan membuat foto kita langsung terlihat sempurna. Bahkan saya masih perlu melakukan post processing di Adobe Camera Raw atau Lightroom untuk menyempurnakannya. Tapi setidaknya dengan memakai filter GND kita bisa mendapatkan foto dengan exposure yang lebih seimbang antara darat dan langit.

Kamis, 02 Agustus 2018

Karom Coffee, Kopi Papandayan Dengan Rasa Paling Istimewa

Kopi Papandayan.
Kopi Garut khususnya kopi Papandayan sudah terkenal sejak dahulu bahkan sejak era kolonial Belanda. Kopi yang di tanam di gunung Papandayan memiliki aroma dan cita rasa yang khas. Bahkan menjadi kopi terbaik saat cupping test di Bandung pada 2016. Sejak saat itu, popularitas kopi Papandayan terus meningkat. 

Biji kopi Papandayan yang telah disanggrai.
Kepopuleran ini membuat banyak petani mulai membudidayakan Kopi Papandayan. Tahun ke tahun produksi kopi Papandayan terus meningkat. Di Papandayan sendiri ada banyak pengrajin kopi. Salah satu pengrajin kopi yang telah tersohor adalah Pak Karom dengan produk andalannya Karom Coffee.
Pak Karom.
Pak Karom ini, sudah sangat pengalaman mengolah biji kopi terbaik dari Gunung Papandayan menjadi kopi yang bercitarasa tinggi dan sangat istimewa. Jika anda ingin pencari kopi Papandayan dengan kualitas terbaik. Maka inilah jawabannya.
Coffee Story FC.
Karom Coffee melalui Coffee Story FC menawarkan lima varian kopi Papandayan. Varian ini tergantung dari tingkat kelangkaan kopi dan juga tingkat kerumitan saat memproses biji kopi menjadi kopi yang siap saji. Semakin langka. semakin rumit, semakin enak, semakin mahal pula. Lima varian ini adalah Lanang Pea Berry, Yellow Bourbon, Honey Process, Natural Process, dan terakhir Original Process.


LANANG PEA BERRY
Kopi Lanang Karom Coffee.

Biji kopi yang paling istimewa yang kami miliki, paling langka dan paling berharga. Tanya kenapa!

Idealnya ketika satu buah ceri kopi dikupas akan terdapat dua biji kopi (Dikotil). Tapi sebagian ceri kopi memiliki kondisi anomali yaitu hanya memiliki satu biji kopi (Monokotil). Biji kopi lanang memiliki bentuk hampir bulat dan cenderung utuh tanpa terbelah. Lanang sendiri berasal dari bahasa Jawa yang artinya bulat. 

Dari keanehan ini, kopi lanang justru sangat istimewa dan langka. Dari 100 Kg biji kopi, mungkin hanya terdapat sekitar 5 Kg biji kopi lanang. Dan karena melalui proses penyortiran yang sangat rumit, kopi lanang juga menjadi sangat berharga. Keistimewaannya juga terdapat pada rasa yang dimilikinya. Rasa kopinya sangat kuat dan dahsyat. Bahkan bagi sebagian orang percaya bahwa kopi lanang memiliki khasiat menambah stamina.

Yellow Bourbon
Yellow Bourbon Karom Coffee.
Berbeda dari semua biji kopi yang kami miliki. Yellow Bourbon adalah biji kopi yang sangat unik. Yellow Bourbon adalah kopi yang dihasilkan dari biji kopi di mana ketika matang tidak berwarna merah melainkan berwarna kuning.

Hanya ada tiga tempat di dunia ini yang menghasilkan biji kopi kuning. Pertama Brazil dengan nama Borbon. Kedua dari Flores dengan sebutan Yellow Katura. Ketiga, tentu saja Garut, yaitu biji kopi yang ditanam di tanah vulkanik Papandayan. Kopi ini juga yang memenangkan Cuping Test di Bandung pada tahun 2016. Biji kopi yang menghasilkan rasa yang khas dan berbeda dari yang lain. Kami memilih biji kopi kuning terbaik untuk kami proses untuk anda penikmat kopi sejati.

Honey Process.
Honey Process Karom Coffee.
Ceri kopi terbaik yang telah kami pilih, kami proses dengan cara yang sangat istimewa, diproses tanpa tersentuh air. Setelah ceri kopi segar dibersihkan, kami kupas kulitnya lalu kami menjemurnya selama dua puluh hari. Dari mulai proses pengupasan kulit hingga proses roasting, biji kopi ini sama sekali tak tersentuh oleh air. Dari hasil proses yang sangat istimewa ini, biji kopi ini menghasilkan rasa yang nikmat, lembut dan penuh kasih sayang.

Jika Anda menyeduh kopi ini, buih yang dihasilkannya lebih banyak dari yang lain. Kopi honey paling digemari oleh kaum hawa. Tapi bagi Anda kaum adam bukan berarti tidak boleh menikmati kekhasan rasanya.

Natural Process
Natural Process Karom Coffee.
Jangan pernah anggap nama natural di sini adalah kopi yang biasa. Ini adalah kopi spesial dengan proses paling lama. Biji kopi segar terbaik yang kami pilih, tanpa dikupas kulitnya, kami menjemurnya dengan durasi hingga satu bulan. Itu pun terjadi jika di musim kemarau, jika di musim hujan? Bisa lebih dari satu bulan tentunya.  Lalu apa faedahnya dari proses yang lama ini? Tentu saja rasanya. Natural Process ini akan mengunci rasa yang berbeda tergantung tempat penanaman biji kopi dan musim. Setiap tempat dan setiap musim akan menghasilkan rasa yang berbeda. Kami sendiri tidak bisa secara pasti menentukan rasa yang akan terjadi pada kopi ini. Yang jelas nikmatnya juga beda.

Original Process

Original Process Karom Coffee.
Kami menamai kopi ini Original Process bukan berarti kopi yang lain Kawe. Biji kopi segar kami proses sepenuhnya tanpa rekayasa. Tentu saja kopi yang kami proses adalah kopi yang terbaik, hanya saja prosesnya tidak serumit yang lain. Apa faedahnya? Tidak semua penikmat kopi menginginkan kopi hasil proses yang rumit. Sebagian orang justru menginginkan rasa kopi yang sederhana dengan rasa yang sama seperti rasa yang dulu pernah ada. Dari itu kami mengolah kopi terbaik kami untuk diproses tanpa rekayasa.

Cascara
Teh Cascara Karom Coffee.
Teh dihasilkan dari kopi? Bagi sebagian orang mungkin menganggap ini sebuah lelucon. Tapi percayalah, ini bukan lelucon, dan rasanya juga bukan lelucon. Rasanya nikmat dan berbeda karena teh cascara memiliki kekhasan rasa buah kopi yang asam manis. Bagi Anda penikmat teh, harus mencoba teh cascara ini.

Teh ini kami hasilkan dari kupasan kulit kopi. Setelah kami bersihkan, Kami menjemurnya beberapa hari lalu kami kemas. Cara penyeduhannya juga sangat gampang, sama seperti teh pada umumnya. Tinggal diseduh dengan air panas, teh cascara pun siap dihidangkan.  

Semua varian Karom Coffee ini tersedia dalam kemasan 250gr atau 125gr dengan harga yang bervariasi tergantung varian kopi. Untuk untuk pemesanan bisa dilakukan melalui Bukalapak, Tokopedia, atau order secara langsung. Semuanya bisa, tergantung cara yang favorit anda.

Coffe Story FC
Tokopedia : Coffee Story FC
Bukalapak : Coffee Story FC
Instagaram : @coffeestory_fc




Sabtu, 09 Juni 2018

Review Pribadi Lensa Tokina 11-20mm F2.8 PRO DX, Lebar dan Mengagumkan

Ini adalah ulasan mendalam dari lensa Tokina 11-20mm f2.8 PRO DX. Lensa yang mendapat predikat lensa ultra lebar terbaik di kelas APS-C Versi DXOMARK.
Tokina 11-20mm F2.8 PRO DX
Setelah sebelumnya saya me-review lensa Tokina 11-16mm RRO DX II (simak ulasannya di sini). Kali saya akan me-review generasi penerus dari lensa itu. Yaitu Tokina 11-20mm F2.8 DX. Dalam ulasan ini juga saya menyajikan beberapa foto hasil dari jepretan lensa ini. Seperti biasa, ini adalah review pribadi, bukan produk sponsor, endorsment ataupun yang lainnya.
Hasil pengujian DXOMARK. Tokina 11-20mm F2.8 PRO DX mendapatkan skor tertinggi.
Ini adalah lensa generasi ke tiga dari lensa 11-16mm F2.8 PRO DX. Di generasi ketiga ini, lensa ini hadir dengan panjang fokal yang lebih panjang, desain lensa yang berbeda dan tentu saja kualitas optik yang berbeda juga. Dengan lapisan coating untuk menahan flare yang lebih baik pula.

Mari kita lihat seperti apa lensa yang dinobatkan DXOMARK sebagai lensa ultra lebar terbaik yang pernah mereka uji. Baca hasil pengujian lensa ini di DXOMARK di sini.

Spesifikasi:

SD: Magic low-dispersion glass.
IF: Internal Focus.
DX: Won't work on full-frame.
AT-X: Advanced Technology-seX.
PRO: Push-pull focus ring to select autofocus or manual focus.
82: 82mm filters.
Aspherical: Specially shaped lens elements for sharper pictures.
CE: (European) Consumer Electronics safety certified.

Optics
14 elements in 12 groups.
3 SD glass elements (mirip seperti Nikon ED atau Canon UD).
Internal focusing.
Front and rear groups move as zoomed.
Multicoated.
Sudut pandang 104º ~ 72.º

Sebagai generasi penerus dari lensa sebelumnya, Tokina 11-20 mm ini tentu hadir dengan berbagai perbaikan dari lensa sebelumnya. Sama seperti Tokina 11-16 DX atau pula DX II, Tokina 11-20 mm juga hadir untuk kamera APS-C atau DX. Lensa ini juga hadir untuk versi Nikon dan Canon. Lensa ini telah memiliki motor fokus di dalam lensa, sehingga bisa dipasang dihampir semua body Nikon atau canon. Yang saya uji adalah versi Nikon.
ISO: 400, 11mm, f8, 1/125 detik.
Sudut pandangnya mirip dengan 16.5 – 24mm pada kamera full frame Nikon. Lensa ini juga bekerja dengan baik jika dipasang ke kamera Full frame. Yaitu pada rentang fokal 16-20mm.

Kualitas bangun dan Bentuk Fisik
Sepintas bentuk fisik lensa ini tidak jauh berbeda dengan lensa Tokina sebelumnya yang saya coba, Tokina 11-16mm f/2.8 PRO DX II. Bentuknya terlihat kuno dan kurang kekinian. Tapi jika diteliti lebih mendalam lensa Tokina 11-20mm ini sedikit lebih besar, panjang dan diameter filternya sedikit lebih besar. Hal ini memang wajar, karena penambahan 4mm menambah ruang di dalam lensa.
Tokina 11-20mm. Tampak depan.
Tokina 11-20 tanpa Hood.
Diameter ring filternya sedikit lebih besar dari pendahulunya. Jika dulu menggunakan ring 77mm yang sudah sangat populer. Sekarang menggunakan ukuran 82mm. Sedikit lebih besar, juga membuat harga filter yang akan kita beli menjadi sedikit lebih mahal juga.

Kualitas bahan juga hampir mirip, terlihat kokoh dan nyaman digenggam. Ring fokusnya terasa sangat lembut dan nyaman. Sedangkan untuk ring zoom, terasa sedikit berat, tapi masih nyaman diputar. Bukan masalah yang besar.

Bentuk fisiknya yang besar, membuat agak kurang proporsional ketika dipasangkan di kamera saya, Nikon D7200. Tidak kebayang jika lensa ini dipasangkan ke kamera kecil seperti Nikon D5500 atau Canon EOS 100D. Ketika lensa hoodnya di pasang, kamera saya jadi semakin terlihat aneh saja. Tapi jika Anda suka bentuk fisik lensa yang besar dan gagah, lensa ini cocok untuk Anda.
Tokina 11-20mm digemgaman tangan saya.
Sama seperti lensa sebelumnya dan semua lensa Tokina pada umumnya, ring fokus dan ring zoom berada pada posisi yang terbalik dari kebanyakan lensa. Ring fokus berada di depan, dan ring zoom berada di belakang ring fokus. Hal ini membuat sedikit merepotkan saat hendak memasang dan melepas lensa ke kamera. Karena saat lensa diputar, bagian ring zoom lah yang jadi pegangan.
ISO: 100, 11mm, f8, 1/125 detik.

Kinerja
Secara keseluruhan, kinerja lensa ini terbilang baik. Masih tanpa penstabil gambar, tapi bagi saya ini bukan masalah yang besar. Kinerja lensa ini sama seperti yang saya harapkan untuk ukuran lensa ultra lebar; akurat, handal walaupun tidak secepat kilat. Motor fokusnya agak sedikit berisik tapi ini sedikit lebih baik dari pada pendahulunya.
ISO: 100, 11mm, f8, 1/200 detik.

Masih sama seperti lensa Tokina yang lain, sistem fokusnya masih menggunakan sistem kopling. Yaitu untuk berpindah dari mode manual ke auto fokus harus menarik ring fokus. Jujur, saya kurang suka cara ini. Karena biasanya ketika mengubah mode dari auto fokus ke manual dengan menarik ring fokus, itu akan sedikit mengubah fokus.
ISO: 100, 17mm, f5.6, 30 detik.
Sayangnya lagi, ring fokusnya tidak mengijinkan overade fokus manual. Mau tidak mau, untuk mengubah fokus ke manual harus menarik ring terlebih dahulu. Sedikit merepotkan ketika berhadapan dengan situasi rendah cahaya di mana kamera sudah tidak mengenali jarak fokus dan harus beralih ke manual fokus.

Kualitas Gambar
Tokina telah puluhan tahun membuat lensa Ultra lebar, tentu saja kualitas optik lensa ini tidak bisa dipandang remeh. Gambar yang dihasilkan lensa ini sungguh mengagumkan. Tajam bahkan hingga bukaan terbesar; f2.8. Hingga pada f16 lensa ini masih menghasilkan gambar yang tajam, bahkan hingga ke area pinggir gambar. Ketika menurunkan ke f18 atau f20. Sedikit ada pengurangan kualitas gambar. Di mana dipraksi mulai menurunkan kualitas foto.

Warna yang dihasilnya juga sangat menawan. Kontras dan saturasinya sudah sangat baik. Untuk keperluan posting di sosmed, kita tidak perlu melakukan toning warna lagi. Cukup jepret dan sudah bisa di upload.
ISO: 500, 14mm, f2.8, 1/800 detik.
Cromatic aberation dan distorsi juga terkendali dengan baik. Memang terkadang saya menemukan Cromatic abberation yang cukup terlihat di bagian paling pinggir gambar, tapi itu hanya terjadi jika berada pada kondisi cahaya yang ekstrim. Kita bisa dengan mudah mengkoreksi distrosi dan cromatik abberation di Adobe Light Room atau Adobe Camera Raw.
ISO: 200, 12mm, f8, 25 detik.
Masalah klasik lensa sebelumnya adalah flare dan ghosting. Saya rasa Tokina telah belajar banyak. Kemampuan lensa ini menahan flare sudah lebih baik. Tapi dalam situasi cahaya yang ekstrim lensa ini sedikit kehilangan kontras.

Dianugrahi aperture yang besar yaitu f2.8 ini adalah kelebihan Tokina. Memang untuk landscape aperture besar tidak terlalu penting. Tapi jika anda berencana menggunakan lensa ini untuk memotret objek atau foto grup di cahaya minim, maka lensa ini siap diandalkan. Bagi yang suka memotret Bima Sakti, sudah pasti lensa ini bisa diandalkan.
Saya memotret langsung ke arah matahari, tidak ada flare terlihat.

ISO: 100, 11mm, f10, 25 detik.
Dari segi kualitas gambar yang dihasilkan, saya merasa kagum dengan lensa ini. Tidak salah jika DXOMARK menempatkan lensa ini sebagai lensa ultra lebar terbaik yang pernah mereka coba di kelas APS-C.

Berikut Contoh foto yang lain Tokina 11-20mm F2.8 PRO DX
ISO: 100, 11mm, f14, 10 detik. (Foto ini menggunakan tambahan Nisi Filter Medium GND 1.2. Mungkin nanti saya akan membuat ulasan filter ini.)
ISO: 100, 11mm, f5.6, 30 detik. (Foto ini menggunakan tambahan Nisi Filter Reverse GND 0.9. Mungkin nanti saya akan membuat ulasan filter ini.)
ISO: 200, 11mm, f8, 1/100 detik.
ISO: 100, 11mm, f7, 25 detik.
ISO: 320, 11mm, f14, 1/50 detik.(Foto ini menggunakan tambahan Nisi Filter Medium GND 1.2)
ISO: 100, 11mm, f13, 30 detik.
Yang paling menarik menggunakan lensa ultra lebar adalah ketika foto grup, tidak perlu jauh-jauh moto.
Untuk melihat foto-foto yang lainya teman-teman bisa lihat di Intagram @adrasa_id
Klik di sini

Kesimpulan
Ini bukan lensa yang sempurna. Dalam beberapa hal kita akan menemukan sedikit kekurangan dari lensa ini. Seperti desain yang kurang proporsional, serta sistem auto fokus yang tidak populer, juga motor fokus yang masih agak berisik.

Tapi soal kualitas gambar, ini adalah lensa terbaik di kelas APS-C. Dibandrol dengan harga yang lebih murah dari lensa Nikon dan Canon. Ini adalah lensa yang jadi alternatif menarik di kelas ultra lebar. Jika Anda adalah orang yang tidak bisa berkompromi dengan kualitas gambar, maka ini adalah lensa yang cocok untuk Anda.

Pertimbangan dengan lensa kompetitor
Pasti teman-teman yang akan membeli lensa ultra lebar akan dibingungkan dengan banyaknya pilihan lensa di kelas ini. Tapi saya akan sedikit memberikan gambaran dan rekomendasi tentang ini.

Untuk pengguna Nikon
Nikon memiliki dua buah lensa di kelas ini. Pertama AF-P 10-20mm VR. Kedua, AF-S 10-24mm F3.5-4.5.
Nikon AF-P 10-20mm VR
AF-P 10-20mm f4,5-5.6 VR. Jika harga jadi masalah maka lensa AF-P 10-20mm bisa menjadi pilihan. Lensa ini dibanderol lebih murah dari lensa Tokina. Terlebih ukurannya yang ringkas dan beratnya yang sangat ringan membuat enak untuk dibawa berpergian. Sudah dilengkapi penstabil gambar, ditambah motor fokusnya juga sangat sunyi. Tapi secara kualitas bahan, lensa ini terlihat sedikit murahan. Tidak jauh berbeda dengan lensa kit Nikon 18-55mm.
Nikon AF-S 10-24mm
Kedua, AF-S 10-24 f3.5-4.5. ini adalah lensa yang bagus, walaupun terbilang cukup berumur, tapi lensa ini masih menghasilkan gambar yang tajam dan indah. Tapi harga yang ditawarkannya sangat tidak masuk akal. Harga resminya dibanderol sekitar 15jutaan. Jika Anda menyukai lensa Nikon dan anggaran buka masalah, maka lensa ini bisa menjadi pilihan.

Untuk pengguna Canon
Sama seperti Nikon, lensa ultra lebar Canon di kelas ini juga ada dua. Pertama Canon 10-18mm. Dan kedua Canon 10-22mm.
Canon 10-18mm dan 10-22mm
Canon 10-18mm. Mungkin lensa ultra lebar yang paling basic dikelas APS-C. Dibandrol dengan harga yang murah tapi jangan remehkan kualitasnya. Kualitasnya gambar yang dihasilkan berani bersaing dengan lensa yang lebih mahal. Ya memang built quality nya kurang begitu menawan, maklum harga berbanding dengan kualitas. Body nya dibungkus dengan plastik yang terlihat kurang menawan. Tapi lensa ini telah dilengkapi dengan penstabil gambar, nilai plus untuk lensa ultra lebar.

Canon 10-22mm. Ini adalah lensa yang cukup berumur. Saya sendiri belum mencoba lensa ini, tapi banyak fotografer yang mengeluh soal ketajaman hasil fotonya.

Lensa Pihak Ketiga
Tokina 11-16 F2.8 PRO DX II
Pertanyaan pertama, bagaimana perbandingannya dengan lensa sebelumnya? Yaps, dari segi kualitas gambar 11-20mm sedikit unggul. Selain itu pula, lensa ini memiliki 4mm lebih panjang, lebih flexible. Tapi harga yang ditawarkan cukup signifikan. 11-16 lensa yang cukup lama, membuatnya menjadi lebih murah. Harga barunya sekitar 6jutaan. Jika anda memiliki lebih sedikit anggaran. Mungkin 11-16mm adalah pilihan yang lebih bijak. Lebih lengkapnya tentang Tokina 11-16 F2.8 PRO DX II bisa baca ulasannya di sini.

Tamron 10-24mm VC HLD.
Tamron 10-24mmVC HLD
Ini adalah lensa paling baru di kelas ultra lebar dengan bentuk fisik paling kekinian dan elegan dari semua lensa pesaing. Gambar yang dihasilkannya tajam. Panjang fokalnya cukup flexible. Mulai dari ultra lebar (10mm) sampai hampir normal (24mm) banyak yang sudah menguji lensa ini. Dan banyak yang memuji juga. Lensa ini masih baru dan harganya masih mahal. Di Indonesia, harga barunya dibandrol 8,4 juta.  Dari segi harga bersaing tipis dengan Tokina 11-20mm yang dibandrol 8 jutaan. Uniknya, di luar negeri, lensa Tamron 10-24mm VC HLD justru dibanderol lebih murah dari pada Tokina 11-20mm.

Jika Anda bingung memilih antara kedua lensa ini, sama, saya juga bingung.

Tokina menghasilkan gambar yang sangat tajam hampir di semua aperture dan panjang fokal. Tamron tidak, lensa ini hanya tajam merata di aperture terbaiknya. Antara f8-f11. Tapi Tamron memiliki 1mm lebih lebar dan 4mm lebih panjang. Membuat lensa ini jauh lebih fleksible dari Tokina. Tapi pada rentang fokal di atas 20mm, kualitas gambar yang dihasilkan sedikit menurun.

Lensa Tamron 10-24mm VC HLD sudah dilindungi dengan weather shield, membuatnya tidak kawatir saat dibawa ke tempat bercuaca ekstrim.

Tamron hadir dengan penstabil gambar yang efektif hingga 4 stop. Kelebihan yang sangat menggoda. Sedangkan Tokina, tidak. Sayangnya, Tamron memiliki aperture variabel, dari mulai 3.5 sampai 4.5. Membuatnya terasa kurang PRO. Sedangkan Tokina memiliki aperture yang konstan. Terasa pro banget.

Dari segi kualitas gambar, Tokina unggul. Tapi segi fitur, Tamron unggul. Sungguh pilihan yang sulit. Jika Anda punya uang, mungkin alangkah baiknya membeli kedua lensa ini. Jika tidak, silahkan pilih salah satu di antara keduanya. Saya rasa kedua lensa ini memiliki kelemahan dan keunggulan masing-masing.

Sigma 10-20mm F3.5
Ini adalah lensa yang bagus, tajam, memiliki aperture yang konstan. Saya sendiri belum mencoba lensa ini. Tapi ini adalah lensa alternatif yang menarik, melihat harga yang ditawarkan juga lebih murah dari kedua lensa di atas.

Pertanyaan klasik, Penstabil Gambar vs Aperture Besar?
Dahulu, lensa lebar tidak dilengkapi dengan penstabil gambar. Karena memang tujuannya bukan untuk action photography yang membutuhkan kecepatan. Tapi seiring waktu, produsen mulai berinovasi, beberapa lensa ultra lebar pun mulai dilengkapi dengan penstabil gambar.

Di kelas APS-C, lensa ultra lebar yang telah dilengkapi penstabil gambar di antaranya. Canon EF-S 10-18mm IS STM, Nikon AF-P 10-20mm VR, dan Tamron 10-24mm VC HLD. Pertanyaannya, bagaimana jika dibandingkan dengan lensa aperture besar seperti Tokina 11-20mm atau 11-16mm?

Dengan penstabil gambar, membuat kita tetap mendapatkan gambar yang tajam walaupun menggukakan shutter speed yang lambat. Tapi jika kita lebih sering menggunakan tripod. Maka penstabil gambar ini jadi tidak berguna.

Idealnya, untuk seorang fotografer landscape. Ketika berada pada keadaan minim cahaya, bermain dengan long exposure dan menggunakan tripod jauh lebih menyenangkan dari pada harus menggunakan penstabil gambar.

Bagaimana dengan aperture besar?
Untuk apa lensa ultra lebar menggunakan aperture besar? Toh untuk landscape aperture kecil seperti f8-f16 lebih sering dipakai.

Sebenarnya, apeture besar juga sangat berguna saat kondisi cahaya rendah. Bedanya, jika menggunakan shutter speed yang lambat, gambar akan tetap buram karena gerakan tangan saat memotret.

Jadi jika ada pertanyaan apakah fitur penstabil gambar atau aperture besar?
Kembali ke diri masing-masing. Jika lebih sering memotret dengan tangan, bahkan di saat cahaya rendah juga. Maka fitur penstabil gambar jauh lebih berguna. Tapi jika lebih senang menggunakan tripod dan bermain long exposure, saya rasa pentabil gambar jadi tidak terlalu penting.