Kamis, 05 April 2018

Curug Batu Blek, Curug Dengan Air Paling Jernih Se Tasikmalaya dan Sekitarnya

Curug Batu Blek.

Seperti yang pernah saya katakan sebelumnya bahwa kecamatan Cisayong memiliki banyak curug yang indah. Salah satu yang paling terkenal adalah Curug Batu Blek.

Akses untuk menuju ke curug ini juga terbilang mudah. Hanya sekitar 45 menit dari alun-alun singapartna. Walaupun aksesnya hanya bisa dilalui oleh motor. Karena mobil hanya bisa sampai jauh sebelum menuju curug.

Dari alun-alun Singaparna terus menuju Jalan Raya Cisinga (Ciawi – Singaparna), dan dari sana kita lanjut lurus menuju ke kampung Cipeuteuy, kalau kebingungan kita bisa bertanya pada warga sekitar. Lokasi curug ini berada di kampung Pasir Malang, kampung paling ujung di desa ini dan hanya beberapa rumah saja yang ada. Saya sendiri juga tidak ingat pasti jalur untuk menuju ke sini karena sepenuhnya saya mengandalkan panduan dari Google Maps.

Motor hanya bisa sampai di tempat parkir. Dari tempat parkir ini kita harus menelusuri jalan setapak yang merupakan aliran dari Curug Batu Blek. Jalan kaki terus menelusuri hutan sekitar 15 menit. Hingga sampai di Curug.

Batu Blek ini memiliki dua buah curug. Curugnya tidak begitu tinggi, tapi airnya sungguh jernih. Kejernihan air yang takkan sanggup kita tolak. Kita juga bisa berendam dan berenang di sekitar curug karena kolam air nya cukup aman untuk berenang.

Kejernihan air Curug Batu Blek.
Curug ini sudah dikelola oleh Perhutani. Untuk masuk ke curug ini kita akan dikenakan tarif Rp 8000 per orang. Fasilitas Curug ini terbilang minim. Warung yang menjajakan makanan berada di tempat parkir. Sementara itu saya tidak menemukan fasilitas seperti mushola untuk sholat.

Selain Curug Batu Blek, sebenarnya masih ada beberapa curug lagi yang masih satu aliran dengan Curug Batu Blek. Jika kita terus naik meneruskan perjalanan ke atas aliran Curug Batu Blek. Ada sekitar 3 atau 4 Curug lagi. Tapi untuk mencapainya cukup susah, karena harus manaiki tebing yang terjal. Di bawah Curug Blek juga ada beberapa curug yang airnya tidak kalah jernih.

Tidak tahu Curug apa, tapi ini berada di bawah aliran Curug Blek.





Senin, 19 Maret 2018

Pengalaman Memakai Filter ND Haida Selama Setahun Setengah

Haida Pro MC II ND64X.

Kali ini saya akan membagi sedikit pengalaman saya selama hampir satu setengah tahun memakai filter Haida, yaitu Haida Pro MC II ND64X. Sebagai catatan ini merupakan ulasan pribadi, filternya bukan produk sponsor. Saya membeli filter ini dengan uang sendiri.

Haida Pro MC II ND64X merupakan filter ND atau Neutral Density. Dimana filter ini berfungsi mengurangi intensitas cahaya yang masuk ke sensor kamera sehingga kita bisa menggunakan shutter speed yang lambat. Filter ini berguna terutama untuk membuat air terjun menjadi lembut. Haida Pro MC II ND64X ini mengurangi cahaya yang sekitar 6 stop. Saya tidak akan menjelaskan lebih jauh soal ND filter, teman-teman bisa mencari artikelnya secara khusus di internet.

Mungkin yang menjadi pertanyaan, kenapa saya membeli ND filter 6 stop, bukan 10 stop. Menurut saya dan menurut pengalaman saya sejauh ini, filter 6 stop adalah ND filter yang hampir berguna di segala kondisi cahaya. Ketika siang kita masih bisa long exposure dan ketika sore atau pagi, kita bisa mendapatkan shutter speed yang tidak terlalu lama.

Ketika dipasang di lensa ketika sore atau pagi, kamera saya masih bisa menangkap fokus. Jadi tidak perlu repot-repot harus mengatur fokus manual. Berbeda dengan 10 stop yang sangat gelap. Membuat kamera kesusahan menangkap fokus di pagi atau sore. Jika ingin lebih lama, maka tinggal tambahin saja ND 4 stop. Tentunya harus beli lagi lah.

Haida memiliki dua versi dari filter ND ini. Pertama versi slim, dan kedua versi Multi Coating (MC). Yang saya pakai adalah versi Multi Coating. Berbeda dengan versi MC versi slip dibandrol dengan harga yang lebih murah. Tapi filter tidak dilindungi dengan lapisan MC yang berguna untuk mengurangi flare pada kamera.

Kualitas optic
Filter Haida dibuat di China, dan mereka mengklaim bahwa mereka menggunakan kaca Schott. Sebagai catatan Schott adalah perusahaan asal Jerman yang memproduksi kaca dan kramik yang berkualitas tinggi. Sekarang Schott adalah anak dari perusahaan optik terkenal dunia Carl Zeiss.

Haida filter menunjukkan kualitas yang bagus meski harganya lebih rendah. Seperti klaim Haida bahwa semua filternya terbuat dari optik dengan kualitas terbaik. Dan itupun terbukti, ketika saya pakai, saya tidak mendapat penurunan kualitas foto. Baik itu ketajaman atau pula penyimpangan warna.

Warna yang dihasilkan tetap natural dengan saturasi yang baik. Bahkan menurut seorang fotografer luar negeri membandingkan Filter Haida dengan merek yang lebih mahal. Hasilnya fotonya tidak terlalu jauh berbeda. Ulasanya bisa dilihat di sini.

Haida menawarkan filter yang lebih murah ketimbang kompetitor. Tapi kita juga jangan membandingkan juga dengan merek low end, seperti Green L atau Tianya. Karena perbedaan harganya cukup jauh. Teman-teman bisa membandingkan sendiri harganya secara online.

Sejauh ini saya merasa puas dengan hasil foto yang dihasilkan filter ini. Gambar tetap tajam dengan color cast (penyimpangan warna) yang sangat minim. Lapisan coating-nya juga berfungsi baik mengurangi masalah seperti flare.

Contoh hasil foto saya bersama Haida
Berikut saya tampilan beberapa hasil foto saya dengan Filter Haida. Sebagian foto telah mengalami post processing di Adobe Camera RAW atau Adobe Lightroom.

Curug Ngebul, Tasilmalaya.
Curug Aseupan, Curug Tilu Leuwi Opat. Parompong, Bandung.
Curug Batu Blek. Cosayong, Tasikmalaya.
Curug Sanghiyang Taraje. Pamulihan, Garut.
Curug Rahong. Cisewu, Garut.
Curug Ciparay. Cigalontang, Tasikmalaya.

Curug Rahong. Cisewu, Garut.

Curug Nyogong. Cihurip, Garut.


Minggu, 25 Februari 2018

Curug Ngebul, Culamega Tasikmalaya, Keindahan yang tidak banyak orang tahu



Curug Ngebul, Culamega, Tasikmalaya.
Sedikit sekali informasi yang bisa kami dapat tentang curug ini. Di internet sedikit yang mengulas tentang curug ini. Begitu pun akses dan jalur yang harus ditempuh. Bahkan, ketika hampir sampai di curug pun. Ketika bertanya kepada warga sekitar masih ada yang tidak tahu tentang curug ini. Perlu dipertanyakan kesadaran orang-orang Tasik akan potensi pariwisata di tempatnya.

Curug Ngeul, dari tingkat kedua.
Padahal akses menuju curug ini relatif mudah. Memang jarak yang ditempuh cukup jauh. Tapi jalur dan kondisi jalannya terbilang baik. Bahkan kita juga bisa menggunakan kendaraan roda empat untuk bisa sampai di sini.

Curug ini berada di Kampung Cutug Telu, Desa Bojong Sari, Kecamatan Culamega Kabupaten Tasikmalaya. Berjarak sekitar 2 jam dari Pusat Kota Tasikmalaya. Jika dari Tasik kota, kita harus pergi menuju jalan raya Karang Nunggal, dipertigaan Pamijahan-Bantar kalong, kita melanjutkan arah menuju Bantar Kalong. Terus menuju desa Bojongsari. Jika sudah sampai di Gapura Desa Bojongsari jarak ke curug sekitar 10 menit lagi. Ikuti jalan hingga sampai dijembatan. Dari jembatan ini curug sudah dekat.

Debit air curug dengan kecil.
 Dari Jempatan, kita harus jalan kaki menuju Curug sekitar 10 menit menelusuri aliran sungai irigasi dari bendungan. Di perjalanan kita juga akan menemukan Curug lain, yaitu Curug Cimoksel. Curug Cimoksel juga tidak kalah indah. Tapi sayang kami tidak sempat ke sini karena tujuan utama kami adalah Curug Ngebul. Setelah sekitar 10 menit jalan kaki, kita harus turun, hati-hati karena turunan ini sangat curam.

Sesampainya di curug, tidak ada yang menagih tiket masuk atau yang menjaga. Karena memang curug ini belum di kelola. Fasilitas seperti Toilet, Moshula atau warung juga tidak tersedia. Katanya tempat ini akan segera dikelola. Ya semoga saja bukan sekedar wacana.

Jalan kaki menelusuri Aliran Irigasi.
Turunan yang curam, harus berhati-hati.
Saya tiba ditempat ini ketika di sini sedang tidak hujan selama seminggu. Hasilnya Debit airnya cukup tenang. Tapi tidak mengurangi keindahan Curug ini. Selain Curug Ngebul, dan Cimoksel ada juga Curug Telu yang berada tidak jauh dari Curug ini. Jika anda sempat, maka harus mengunjungi juga Curug ini.

Rabu, 14 Februari 2018

Curug Aseupan, Curug Tilu Leuwi Opat, Parompong Bandung Barat

Curug Aseupan.

Di Bandung bagian Utara terdapat banyak curug yang menawan. Selain Curug Cimahi atau Curug Pelangi yang sudah terlebih dahulu ngehits, sekarang ada yang lagi nghits yaitu Curug Tilu Leuwi Opat.

Curug Tilu Lewi Opat adalah komplek wisata Curug yang berada di Kecamatan Parongpong. Di sini menawarkan keindahan curug, leuwi, camping ground juga pemandangan alam yang menawan. Di Curug Tilu Leuwi Opat ini terdapat beberapa area camping ground dan curug. Salah satu bintang utamanya yaitu Curug Aseupan.

Salah satu area camping ground Curug Tilu Leuwi Opat.
Menuju ke tempat ini juga relatif mudah. Curug Tilu Leuwi Opat terletak di dusun Ciwangun, Kelurahan Cihanjuang rahayu, kecamatan Parangpong, Kabupaten Bandung Barat. Sekitar 9KM dari Lembang. Jaraknya cukup berdekatan dengan Curug Cimahi.

Walaupun di sini banyak terdapat Curug serta area camping ground yang menawan. Menurut saya yang jadi daya pikat Utama Curug ini adalah Curug Aseupan. Di Curug ini ada tiga air yang jatuh menuju sungai yang indah. Memang kita harus naik dahulu. Dan untuk naik ke sini, Anda harus membayar ekstra Rp. 10.000.

Pemandangan sebelum menuju Curug Aseupan.
Untuk menuju Curug Aseupan kita harus menaiki tangga kecil.
Selain Curug Aseupan ada juga curug-curug yang lainnya yang tidak kalah indah. Salah satunya adalah Curug Tilu. Tapi untuk menuju Curug Tilu kita harus jalan kaki sekitar 30 menit dari Curug Aseupan.

Rute menuju Curug
Patokan Utamanya adalah menuju Ciwangun Indah Camp. Setelah melewati Universitas Advent, nanti akan ada gerbang menuju Ciwangun Indah Camp yang berada di sebelah kanan. Dari gerbang ini menuju pintu masuk Curug Tilu Leuwi Opat kurang dari 10 menit. Dari Tempat parkir kita harus jalan kaki menuju setiap curug.

Jika Dari Bandung, dari terminal Ledeng ambil arah kiri melewati jalan Sersan Bajuri menuju Kampung Gajah. Lurus saja sampai ke jalan Masturi melewati Universitas advent. Jika dari Cimahi langsung ambil arah ke jalan Kolonel Masturi menuju Parongpong. Melintasi jalan tersebut, kamu akan menemukan gerbang wana Wisata Ciwangun Indah. Jika dari arah Lembang dari jalan Raya Lembang berbelok lah menuju jalan Kolonel Masturi. Terus ikuti jalan melewati Universitas Advent.

Pintu masuk menuju Cuurg.
Tiket dan Fasilitas
Sesampainya di pintu masuk Curug, kita diharuskan untuk membeli tiket masuk sebesar Rp. 10.000,- belum biaya parkir. Saya sendiri memakai motor jadi tambah Rp. 2.000,-. Oh iya ini belum termasuk tiket masuk toilet. HTM toilet yang tersedia di sana saya lihat adalah Rp. 1.000,-. Dan tentu saja ini belum termasuk HTM naik ke Curug Aseupan.

Fasilitas yang tersedia juga sudah lengkap. Toilet, mushola, serta warung nasi pun tersedia. Jadi kita tidak perlu khawatir.

Jumat, 02 Februari 2018

Curug Nyogong, kemegahan yang lain di Kecamatan Cihurip

Curug Nyogong.
Ada banyak sekali keindahan yang tersimpan di Kecamatan Cihurip Kabupaten Garut. Selain Leuwi Tonjong yang sudah sangat terkenal, ada juga Curug Cibadak dan tentu saja Curug Nyogong.

Keindahan Curug Nyogong ini sudah sangat terkenal sekali di kalangan pecinta traveling dan curug. Bukan hanya wisatawan dari Garut saja yang berkunjung ke curug ini. Tetapi wisatawan dari luar kota juga banyak. Jadi sangat sayang sekali jika tidak berkunjung ke curug yang indah ini.

Curug di lihat dari samping. 
Air terjunnya memang tidak terlalu tinggi, tapi debit airnya sangat deras. Air mengalir deras diantara dua batu yang sangat besar menjadikan curug terlihat sangat megah. Uniknya airnya jatuh tidak lurus, tapi agak menyamping. Ini sebabnya curug ini di sebut Curug Nyogong yang artinya berbelok. Pemandangan batu-batu raksasa di sekitarnya juga menambah kemegahan curug ini.

Di area curug ini sebenarnya masih ada dua curug lagi. Yaitu Curug Cibalinaga dan Curug Cialeuan kedua curug ini bisa kita lihat ketika sampai dari tempat parkir Curug Nyogong. Tapi kedua curug ini tidak bisa kita kunjungi karena belum ada akses menuju curug.

Curug Cibalinaga dan Curug Cialeuan di lihat dari tempat parkir.
Akses menuju curug ini bisa dibilang gampang-gampang susah. Curug ini berada di Kampung Sawahpasir Desa Mekarwangi Kecamatan Cihurip.  Jika dari pusat Kota Garut, curug ini berjarak sekitar 2 – 2 jam setengah perjalanan menggunakan kendaraan motor.

Rute menuju curug ini adalah dari Garut Kota, terus mengambil arah menuju kecamatan Cikajang. Jika telah sampai di pertigaan, ambillah jalan menuju pasar Cikajang. Dari Pasar Cikajang ini, menuju Kecamatan Cihurip sekitar 1 jam perjalanan. Lanjutkan perjalanan menuju Gunung Gelap. Terus ikuti jalan hingga menemukan gapura masuk menuju Kecamatan Cihurip yang berada di sebelah kiri jalan. Dari Gapura ini menuju Curug sekitar setengah jam lagi.

Curug Nyogong di lihat dari atas.
Terus ikuti jalan, teman-teman akan menemukan pertigaan dan penanda arah menuju curug. Dari pertigaan ini kondisi jalan mulai jelek. Patokan utama untuk menuju Curug ini adalah Kantor Desa Mekarwangi. Jika menggukan kendaraan mobil sebaiknya di simpan di kantor desa. Selanjutkan berjalan kaki menelusuri jalan setapak menuju curug dari arah kantor desa. Jaraknya sekitar 15 menit jalan kaki medannya sedikit berat.

Jika menggukan motor, kita terus ikuti jalan, dan bertanyakan ke warga belokan menuju curug. Karena kita bisa membawa motor hingga dekat dengan menuju curug. Tapi harus hati-hati, walaupun bisa dilalui dengan motor, jalannya berupa jalan setapak sempit. Motor bisa disimpan di tempat parkir, dari tempat parkir kita harus jalan kaki turun menuju curug. Sekitar 10 menit.


Teman-teman akan dikenakan tiket Rp 5.000 per orang. Untuk fasilitasnya sendiri di sini memang tidak tersedia lengkap. Tidak ada toilet, tidak ada mushola atau pula warung. Jadi persiapkan semuanya sebelum berangkat.

Senin, 29 Januari 2018

Stasiun KA Cikajang, Stasiun tertinggi di Indonesia yang kini tinggal cerita


Kids Garut jaman now mungkin tidak banyak yang tahu bahwa dahulu kota ini dilalui oleh kereta api, jalurnya membentang sepanjang 47 KM dari Garut bagian utara (Cibatu) hingga ke selatan (Cikajang). Jalur kereta ini menghubungkan daerah-daerah penting di Garut seperti Cibatu, Wanaraja, Garut Kota, Samarang, Bayongbong, Cisurupan dan berakhir di Cikajang. Jalur kereta ini memiliki panorama yang sangat indah, melewati pegunungan dan pesawahan Garut.

Kondisi Stasiun Cikajang jaman now.
Walaupun terbilang jalur yang berat karena konturnya yang menanjak. Dahulu jalur kereta api adalah jalur kereta api yang sangat penting yang menunjang kehidupan warga Garut. Jalur ini berhenti di stasiun Cikajang yang merupakan stasiun ujung.

Stasiun Cikajang pernah menjadi stasiun kereta api tertinggi di Indonesia bahkan di Asia Tenggara sebelum akhirnya di nonaktifkan pada tahun 1983 karena rusaknya jalur kereta dan penurunan jumlah penumpang, dan kalahnya bersaing dengan moda transportasi jalan raya seperti bis yang waktu itu semakin popular.

Stasiun ini memiliki 3 jalur, jalur 1 merupakan sepur badug, jalur 2 merupakan sepur belok yang ujungnya terdapat banyak percabangan yang mengarah ke pabrik, jalur 3 merupakan sepur lurus. Stasiun yang merupakan stasiun ujung ini itu dikelilingi oleh pegunungan maka dari itu hawa daerah situ pun sangat sejuk. Stasiun ini dulu sangat ramai dengan penumpang. Hasil bumi seperti buah-buahan dan sayuran dari Cikajang dan Cisurupan diangkut menggunakan kereta untuk kirim ke kota Garut.

Kondisi Stasiun Cikajang

Sekarang, Stasiun yang bersejarah ini hanya tinggal puing-puing yang tidak terawat. Atap bangunan sudah tidak ada karena dimakan sijago merah. Bangunan stasiun ini pernah terbakar beberapa tahun  yang lalu yang memakan hampir seluruh bangunan. Di belakang bangunan sudah menempel tempok dengan bangunan baru. Di sebelah sisi bangunan, kita masih bisa melihat tulisan yang hampir pudar ‘Cikajang’. Sementara itu, di depan bangunan sudah tidak terlihat lagi jejak rel yang dahulu melintasi stasiun ini.
Stasiun Cikajang sebelum kebakaran. (Sumber foto : WIkipedia)
Jika kita lihat kondisinya sekarang, sulit dibayangkan bahwa dahulu tempat ini adalah stasiun yang sangat ramai dikunjungi oleh masyarakat. Tempat masyarakat menggantungkan hidup masyarakat banyak. Di mana setiap hari orang-orang Cikajang berhilir-mudik di tempat ini untuk berpergian ke kota, atau mengirimkan hasil bumi mereka untuk di jual di kota. Ah, sudahlah,  saya tidak perlu baper membahas masa lalu yang menyenangkan seperti itu.

Minggu, 28 Januari 2018

Pabrik Belerang Wanaraja, Sisa puing-puing yang bersejarah

Baprik Belerang Wanaraja.
Sekitar 2 KM dari arah pasar Wanaraja menuju Kampung Cikole, dahulu di sini berdiri dengan megah sebuah komplek pabrik pengolahan belerang yang sangat luas. Bangunan bersejarah yang dibangun untuk mengolah belerang dari Gunung Talaga Bodas. Dengan area seluas 9 ha, dahulu pabrik ini adalah salah satu pabrik terbesar di jamannya. Dahulu pabrik ini sangat terkenal, sama halnya Pabrik Tenun Garut dan Pabrik Coklat Ceres di Leuwi daun.

Sisa pondasi bangunan yang masih kokoh.
Bangunan yang didirikan di masa kolonial ini sekarang hanya tersisa puing-puing dan pondasi bangunan yang masih kokoh. Banyak sekali kisah mistis yang mewarnai bangunan yang sudah berhenti beroprasi sejak 9-10 tahun yang lalu ini. Bahkan tempat ini pernah diliput oleh sebuah acara TV swasta untuk acara uji nyali dan sebagainya. Puing-puing bangunan-bangunan tua, dan ilalang tumbuh liar meninggi di area pabrik menambah aura seram.

Puing-puing bangunan.
Komplek bangunan tua ini berada di Kampung Cikole, Desa Wanasari Kec Manaraja Garut. Sekitar 2 KM dari Pasar Wanaraja. Dari pasar Wanaraja terus ikuti jalan, tidak jauh dari pertigaan menuju Talaga Bodas, berbelok kiri ke arah kampung Cikole. Terus ikuti jalan nanti akan sampai di pertigaan, lalu berbelok kanan. Terus ikuti jalan, dari jauh menara pabrik ini sudah terlihat, maka tinggal ikuti jalan saja.

Area pabrik yang sangat luas.
Sebenarnya tempat ini akan dikelola dan akan dijakikan argo wisata. Sewaktu saya sampai di sini, saya dikenakan tarip Rp 5.000 per motor. Ini udah termasuk parkir. Dari gerbang masuk kita tinggal jalan kaki saja.

Sisa pondasi pabrik yang masih bediri.
Banyak juga memberitakan bahwa baprik ini tidak mengolah belerang, sebenarnya saya tidak percaya, karena ketika sampai di tempat ini, walaupun tempat ini sudah di tinggalkan bertahun-tahun tapi tetap saja masih tercium bau belerang.

Sisa pengolahan belerang.
Bangunan-bangunan tua ini walaupun terlihat menyeramkan, tapi sebenarnya banyak orang yang melakukan prewed di sini. Pondasi bangunan tua dan ilalang menjadi pemandangan yang eksotis untuk foto prewed. Tertarik untuk melakukan prewed di sini?

Senin, 08 Januari 2018

Kamojang Ecopark, Tempat Main Baru Yang Bakal Nghits Di Garut Dan Galeri Lengkap

Kamojang Ecopark.
Sebentar lagi Garut akan punya tempat main baru yang akan nghits, yaitu Kamojang Ecopark. Kamojang Ekopark ini berada di hutan pinus kamojang, tepat di perbatasan antara Garut dan Bandung. Sekitar 400m sebelum Gerbang masuk menuju Kecamatan Ibun, Bandung. Atau sekitar 2 KM sesudah Pusat Konservasi Elang Kamojang. Walaupun demikian Kamojang Ecopark masih masuk dalam wilayah administratif Kabupaten Garut.
Area Utama Kamojang Ecopark
Untuk saat ini tempat ini masih dalam progess pengerjaan. Baru sekitar 50%. Mungkin dalam waktu dekat tempat ini akan segera launching. Walaupun demikian pengunjung masih bisa masuk ke area dan melihat langsung pengerjaannya.

Kamojang Ecopark ini juga mudah dijangkau, baik kendaraan roda dua ataupun roda empat. Berada sekitar 2 KM setelah Pusat Konservasi Elang Kamojang. sekitar 5 menit perjalanan dari Konservasi Elang Kamojang.

Dari arah Garut terus lah menuju Jalan Raya Kamojang, Samarang. Terus ikuti jalan raya, hingga melewati Pusat Konservasi Elang Kamojang. Setelah tanjakan yang panjang dan berbelok-belok, maka Kamojang Ecopark berada di sebelah kiri.

Fasilitas yang ditawarkan juga akan bermacam-macam camping ground, flying fox, outbond, off road, kedai makanan dan minuman, toilet dan mushola telah lengkap. Tempat yang seru untuk piknik bersama keluarga. Tempat parkir yang tersedia juga cukup luas baik untuk kendaraan roda empat atau pula kendaraan roda dua.

Selain itu juga ada jasa penyewaan seperti tenda, hammock, dan baju kimono ala jepang. Harga yang ditawarkan juga menarik.

Untuk masuk ke sini pengunjung harus membeli tiket masuk seharga Rp. 15.000,- (Per 6 April 2018). Tiket bisa dituker dengan minuman.

Untuk harga makanan dan minuman yang ditawarkan juga menarik. Kalau menurut saya, masih ramah di dompet.

Berikut saya tampilkan galeri lengkapnya:

Hutan Pinus.
Hutan Pinus.
Sky Gate, Kamojang Ecopark. Kalau pagi, di sini kita bisa melihat matahari terbit.

Tuker tiket dapat minuman.

Tempat foto favorit, selalu terjadi antrian panjang untuk berfoto di sini.
Pemandangan sekitar.

Taman Bunga berbentuk cinta
.
Area Kedai makan.
Area Kedai Makanan.
Kolam yang belum selesai.
Perosotan
Masih banyak perbaikan di sana-sini.
Balon yang belum terbang.
Toilet dan mushola.
Area parkir mobil.
Area Parkir Motor
Daftar harga penyewaan.
Pengunjung harap bersabar, karena tempat ini belum resmi dibuka maka masih banyak perbaikan di sana-sini.  Bagaimana apa anda tertarik berkunjung ke tempat ini beserta keluarga tercinta?