Sabtu, 09 Juni 2018

Review Pribadi Lensa Tokina 11-20mm F2.8 PRO DX, Lebar dan Mengagumkan

Ini adalah ulasan mendalam dari lensa Tokina 11-20mm f2.8 PRO DX. Lensa yang mendapat predikat lensa ultra lebar terbaik di kelas APS-C Versi DXOMARK.
Tokina 11-20mm F2.8 PRO DX
Setelah sebelumnya saya me-review lensa Tokina 11-16mm RRO DX II (simak ulasannya di sini). Kali saya akan me-review generasi penerus dari lensa itu. Yaitu Tokina 11-20mm F2.8 DX. Dalam ulasan ini juga saya menyajikan beberapa foto hasil dari jepretan lensa ini. Seperti biasa, ini adalah review pribadi, bukan produk sponsor, endorsment ataupun yang lainnya.
Hasil pengujian DXOMARK. Tokina 11-20mm F2.8 PRO DX mendapatkan skor tertinggi.
Ini adalah lensa generasi ke tiga dari lensa 11-16mm F2.8 PRO DX. Di generasi ketiga ini, lensa ini hadir dengan panjang fokal yang lebih panjang, desain lensa yang berbeda dan tentu saja kualitas optik yang berbeda juga. Dengan lapisan coating untuk menahan flare yang lebih baik pula.

Mari kita lihat seperti apa lensa yang dinobatkan DXOMARK sebagai lensa ultra lebar terbaik yang pernah mereka uji. Baca hasil pengujian lensa ini di DXOMARK di sini.

Spesifikasi:

SD: Magic low-dispersion glass.
IF: Internal Focus.
DX: Won't work on full-frame.
AT-X: Advanced Technology-seX.
PRO: Push-pull focus ring to select autofocus or manual focus.
82: 82mm filters.
Aspherical: Specially shaped lens elements for sharper pictures.
CE: (European) Consumer Electronics safety certified.

Optics
14 elements in 12 groups.
3 SD glass elements (mirip seperti Nikon ED atau Canon UD).
Internal focusing.
Front and rear groups move as zoomed.
Multicoated.
Sudut pandang 104º ~ 72.º

Sebagai generasi penerus dari lensa sebelumnya, Tokina 11-20 mm ini tentu hadir dengan berbagai perbaikan dari lensa sebelumnya. Sama seperti Tokina 11-16 DX atau pula DX II, Tokina 11-20 mm juga hadir untuk kamera APS-C atau DX. Lensa ini juga hadir untuk versi Nikon dan Canon. Lensa ini telah memiliki motor fokus di dalam lensa, sehingga bisa dipasang dihampir semua body Nikon atau canon. Yang saya uji adalah versi Nikon.
ISO: 400, 11mm, f8, 1/125 detik.
Sudut pandangnya mirip dengan 16.5 – 24mm pada kamera full frame Nikon. Lensa ini juga bekerja dengan baik jika dipasang ke kamera Full frame. Yaitu pada rentang fokal 16-20mm.

Kualitas bangun dan Bentuk Fisik
Sepintas bentuk fisik lensa ini tidak jauh berbeda dengan lensa Tokina sebelumnya yang saya coba, Tokina 11-16mm f/2.8 PRO DX II. Bentuknya terlihat kuno dan kurang kekinian. Tapi jika diteliti lebih mendalam lensa Tokina 11-20mm ini sedikit lebih besar, panjang dan diameter filternya sedikit lebih besar. Hal ini memang wajar, karena penambahan 4mm menambah ruang di dalam lensa.
Tokina 11-20mm. Tampak depan.
Tokina 11-20 tanpa Hood.
Diameter ring filternya sedikit lebih besar dari pendahulunya. Jika dulu menggunakan ring 77mm yang sudah sangat populer. Sekarang menggunakan ukuran 82mm. Sedikit lebih besar, juga membuat harga filter yang akan kita beli menjadi sedikit lebih mahal juga.

Kualitas bahan juga hampir mirip, terlihat kokoh dan nyaman digenggam. Ring fokusnya terasa sangat lembut dan nyaman. Sedangkan untuk ring zoom, terasa sedikit berat, tapi masih nyaman diputar. Bukan masalah yang besar.

Bentuk fisiknya yang besar, membuat agak kurang proporsional ketika dipasangkan di kamera saya, Nikon D7200. Tidak kebayang jika lensa ini dipasangkan ke kamera kecil seperti Nikon D5500 atau Canon EOS 100D. Ketika lensa hoodnya di pasang, kamera saya jadi semakin terlihat aneh saja. Tapi jika Anda suka bentuk fisik lensa yang besar dan gagah, lensa ini cocok untuk Anda.
Tokina 11-20mm digemgaman tangan saya.
Sama seperti lensa sebelumnya dan semua lensa Tokina pada umumnya, ring fokus dan ring zoom berada pada posisi yang terbalik dari kebanyakan lensa. Ring fokus berada di depan, dan ring zoom berada di belakang ring fokus. Hal ini membuat sedikit merepotkan saat hendak memasang dan melepas lensa ke kamera. Karena saat lensa diputar, bagian ring zoom lah yang jadi pegangan.
ISO: 100, 11mm, f8, 1/125 detik.

Kinerja
Secara keseluruhan, kinerja lensa ini terbilang baik. Masih tanpa penstabil gambar, tapi bagi saya ini bukan masalah yang besar. Kinerja lensa ini sama seperti yang saya harapkan untuk ukuran lensa ultra lebar; akurat, handal walaupun tidak secepat kilat. Motor fokusnya agak sedikit berisik tapi ini sedikit lebih baik dari pada pendahulunya.
ISO: 100, 11mm, f8, 1/200 detik.

Masih sama seperti lensa Tokina yang lain, sistem fokusnya masih menggunakan sistem kopling. Yaitu untuk berpindah dari mode manual ke auto fokus harus menarik ring fokus. Jujur, saya kurang suka cara ini. Karena biasanya ketika mengubah mode dari auto fokus ke manual dengan menarik ring fokus, itu akan sedikit mengubah fokus.
ISO: 100, 17mm, f5.6, 30 detik.
Sayangnya lagi, ring fokusnya tidak mengijinkan overade fokus manual. Mau tidak mau, untuk mengubah fokus ke manual harus menarik ring terlebih dahulu. Sedikit merepotkan ketika berhadapan dengan situasi rendah cahaya di mana kamera sudah tidak mengenali jarak fokus dan harus beralih ke manual fokus.

Kualitas Gambar
Tokina telah puluhan tahun membuat lensa Ultra lebar, tentu saja kualitas optik lensa ini tidak bisa dipandang remeh. Gambar yang dihasilkan lensa ini sungguh mengagumkan. Tajam bahkan hingga bukaan terbesar; f2.8. Hingga pada f16 lensa ini masih menghasilkan gambar yang tajam, bahkan hingga ke area pinggir gambar. Ketika menurunkan ke f18 atau f20. Sedikit ada pengurangan kualitas gambar. Di mana dipraksi mulai menurunkan kualitas foto.

Warna yang dihasilnya juga sangat menawan. Kontras dan saturasinya sudah sangat baik. Untuk keperluan posting di sosmed, kita tidak perlu melakukan toning warna lagi. Cukup jepret dan sudah bisa di upload.
ISO: 500, 14mm, f2.8, 1/800 detik.
Cromatic aberation dan distorsi juga terkendali dengan baik. Memang terkadang saya menemukan Cromatic abberation yang cukup terlihat di bagian paling pinggir gambar, tapi itu hanya terjadi jika berada pada kondisi cahaya yang ekstrim. Kita bisa dengan mudah mengkoreksi distrosi dan cromatik abberation di Adobe Light Room atau Adobe Camera Raw.
ISO: 200, 12mm, f8, 25 detik.
Masalah klasik lensa sebelumnya adalah flare dan ghosting. Saya rasa Tokina telah belajar banyak. Kemampuan lensa ini menahan flare sudah lebih baik. Tapi dalam situasi cahaya yang ekstrim lensa ini sedikit kehilangan kontras.

Dianugrahi aperture yang besar yaitu f2.8 ini adalah kelebihan Tokina. Memang untuk landscape aperture besar tidak terlalu penting. Tapi jika anda berencana menggunakan lensa ini untuk memotret objek atau foto grup di cahaya minim, maka lensa ini siap diandalkan. Bagi yang suka memotret Bima Sakti, sudah pasti lensa ini bisa diandalkan.
Saya memotret langsung ke arah matahari, tidak ada flare terlihat.

ISO: 100, 11mm, f10, 25 detik.
Dari segi kualitas gambar yang dihasilkan, saya merasa kagum dengan lensa ini. Tidak salah jika DXOMARK menempatkan lensa ini sebagai lensa ultra lebar terbaik yang pernah mereka coba di kelas APS-C.

Berikut Contoh foto yang lain Tokina 11-20mm F2.8 PRO DX
ISO: 100, 11mm, f14, 10 detik. (Foto ini menggunakan tambahan Nisi Filter Medium GND 1.2. Mungkin nanti saya akan membuat ulasan filter ini.)
ISO: 100, 11mm, f5.6, 30 detik. (Foto ini menggunakan tambahan Nisi Filter Reverse GND 0.9. Mungkin nanti saya akan membuat ulasan filter ini.)
ISO: 200, 11mm, f8, 1/100 detik.
ISO: 100, 11mm, f7, 25 detik.
ISO: 320, 11mm, f14, 1/50 detik.(Foto ini menggunakan tambahan Nisi Filter Medium GND 1.2)
ISO: 100, 11mm, f13, 30 detik.
Yang paling menarik menggunakan lensa ultra lebar adalah ketika foto grup, tidak perlu jauh-jauh moto.
Untuk melihat foto-foto yang lainya teman-teman bisa lihat di Intagram @adrasa_id
Klik di sini

Kesimpulan
Ini bukan lensa yang sempurna. Dalam beberapa hal kita akan menemukan sedikit kekurangan dari lensa ini. Seperti desain yang kurang proporsional, serta sistem auto fokus yang tidak populer, juga motor fokus yang masih agak berisik.

Tapi soal kualitas gambar, ini adalah lensa terbaik di kelas APS-C. Dibandrol dengan harga yang lebih murah dari lensa Nikon dan Canon. Ini adalah lensa yang jadi alternatif menarik di kelas ultra lebar. Jika Anda adalah orang yang tidak bisa berkompromi dengan kualitas gambar, maka ini adalah lensa yang cocok untuk Anda.

Pertimbangan dengan lensa kompetitor
Pasti teman-teman yang akan membeli lensa ultra lebar akan dibingungkan dengan banyaknya pilihan lensa di kelas ini. Tapi saya akan sedikit memberikan gambaran dan rekomendasi tentang ini.

Untuk pengguna Nikon
Nikon memiliki dua buah lensa di kelas ini. Pertama AF-P 10-20mm VR. Kedua, AF-S 10-24mm F3.5-4.5.
AF-P 10-20mm f4,5-5.6 VR. Jika harga jadi masalah maka lensa AF-P 10-20mm bisa menjadi pilihan. Lensa ini dibanderol lebih murah dari lensa Tokina. Terlebih ukurannya yang ringkas dan beratnya yang sangat ringan membuat enak untuk dibawa berpergian. Sudah dilengkapi penstabil gambar, ditambah motor fokusnya juga sangat sunyi. Tapi secara kualitas bahan, lensa ini terlihat sedikit murahan. Tidak jauh berbeda dengan lensa kit Nikon 18-55mm.
Kedua, AF-S 10-24 f3.5-4.5. ini adalah lensa yang bagus, walaupun terbilang cukup berumur, tapi lensa ini masih menghasilkan gambar yang tajam dan indah. Tapi harga yang ditawarkannya sangat tidak masuk akal. Harga resminya dibanderol sekitar 15jutaan. Jika Anda menyukai lensa Nikon dan anggaran buka masalah, maka lensa ini bisa menjadi pilihan.

Untuk pengguna Canon
Sama seperti Nikon, lensa ultra lebar Canon di kelas ini juga ada dua. Pertama Canon 10-18mm. Dan kedua Canon 10-22mm.
Canon 10-18mm. Mungkin lensa ultra lebar yang paling basic dikelas APS-C. Dibandrol dengan harga yang murah tapi jangan remehkan kualitasnya. Kualitasnya gambar yang dihasilkan berani bersaing dengan lensa yang lebih mahal. Ya memang built quality nya kurang begitu menawan, maklum harga berbanding dengan kualitas. Body nya dibungkus dengan plastik yang terlihat kurang menawan. Tapi lensa ini telah dilengkapi dengan penstabil gambar, nilai plus untuk lensa ultra lebar.

Canon 10-22mm. Ini adalah lensa yang cukup berumur. Saya sendiri belum mencoba lensa ini, tapi banyak fotografer yang mengeluh soal ketajaman hasil fotonya.

Lensa Pihak Ketiga
Tokina 11-16 F2.8 PRO DX II
Pertanyaan pertama, bagaimana perbandingannya dengan lensa sebelumnya? Yaps, dari segi kualitas gambar 11-20mm sedikit unggul. Selain itu pula, lensa ini memiliki 4mm lebih panjang, lebih flexible. Tapi harga yang ditawarkan cukup signifikan. 11-16 lensa yang cukup lama, membuatnya menjadi lebih murah. Harga barunya sekitar 6jutaan. Jika anda memiliki lebih sedikit anggaran. Mungkin 11-16mm adalah pilihan yang lebih bijak. Lebih lengkapnya tentang Tokina 11-16 F2.8 PRO DX II bisa baca ulasannya di sini.

Tamron 10-24mm VC HLD.
Ini adalah lensa paling baru di kelas ultra lebar dengan bentuk fisik paling kekinian dan elegan dari semua lensa pesaing. Gambar yang dihasilkannya tajam. Panjang fokalnya cukup flexible. Mulai dari ultra lebar (10mm) sampai hampir normal (24mm) banyak yang sudah menguji lensa ini. Dan banyak yang memuji juga. Lensa ini masih baru dan harganya masih mahal. Di Indonesia, harga barunya dibandrol 8,4 juta.  Dari segi harga bersaing tipis dengan Tokina 11-20mm yang dibandrol 8 jutaan. Uniknya, di luar negeri, lensa Tamron 10-24mm VC HLD justru dibanderol lebih murah dari pada Tokina 11-20mm.

Jika Anda bingung memilih antara kedua lensa ini, sama, saya juga bingung.

Tokina menghasilkan gambar yang sangat tajam hampir di semua aperture dan panjang fokal. Tamron tidak, lensa ini hanya tajam merata di aperture terbaiknya. Antara f8-f11. Tapi Tamron memiliki 1mm lebih lebar dan 4mm lebih panjang. Membuat lensa ini jauh lebih fleksible dari Tokina. Tapi pada rentang fokal di atas 20mm, kualitas gambar yang dihasilkan sedikit menurun.

Lensa Tamron 10-24mm VC HLD sudah dilindungi dengan weather shield, membuatnya tidak kawatir saat dibawa ke tempat bercuaca ekstrim.

Tamron hadir dengan penstabil gambar yang efektif hingga 4 stop. Kelebihan yang sangat menggoda. Sedangkan Tokina, tidak. Sayangnya, Tamron memiliki aperture variabel, dari mulai 3.5 sampai 4.5. Membuatnya terasa kurang PRO. Sedangkan Tokina memiliki aperture yang konstan. Terasa pro banget.

Dari segi kualitas gambar, Tokina unggul. Tapi segi fitur, Tamron unggul. Sungguh pilihan yang sulit. Jika Anda punya uang, mungkin alangkah baiknya membeli kedua lensa ini. Jika tidak, silahkan pilih salah satu di antara keduanya. Saya rasa kedua lensa ini memiliki kelemahan dan keunggulan masing-masing.

Sigma 10-20mm F3.5
Ini adalah lensa yang bagus, tajam, memiliki aperture yang konstan. Saya sendiri belum mencoba lensa ini. Tapi ini adalah lensa alternatif yang menarik, melihat harga yang ditawarkan juga lebih murah dari kedua lensa di atas.

Pertanyaan klasik, Penstabil Gambar vs Aperture Besar?
Dahulu, lensa lebar tidak dilengkapi dengan penstabil gambar. Karena memang tujuannya bukan untuk action photography yang membutuhkan kecepatan. Tapi seiring waktu, produsen mulai berinovasi, beberapa lensa ultra lebar pun mulai dilengkapi dengan penstabil gambar.

Di kelas APS-C, lensa ultra lebar yang telah dilengkapi penstabil gambar di antaranya. Canon EF-S 10-18mm IS STM, Nikon AF-P 10-20mm VR, dan Tamron 10-24mm VC HLD. Pertanyaannya, bagaimana jika dibandingkan dengan lensa aperture besar seperti Tokina 11-20mm atau 11-16mm?

Dengan penstabil gambar, membuat kita tetap mendapatkan gambar yang tajam walaupun menggukakan shutter speed yang lambat. Tapi jika kita lebih sering menggunakan tripod. Maka penstabil gambar ini jadi tidak berguna.

Idealnya, untuk seorang fotografer landscape. Ketika berada pada keadaan minim cahaya, bermain dengan long exposure dan menggunakan tripod jauh lebih menyenangkan dari pada harus menggunakan penstabil gambar.

Bagaimana dengan aperture besar?
Untuk apa lensa ultra lebar menggunakan aperture besar? Toh untuk landscape aperture kecil seperti f8-f16 lebih sering dipakai.

Sebenarnya, apeture besar juga sangat berguna saat kondisi cahaya rendah. Bedanya, jika menggunakan shutter speed yang lambat, gambar akan tetap buram karena gerakan tangan saat memotret.

Jadi jika ada pertanyaan apakah fitur penstabil gambar atau aperture besar?
Kembali ke diri masing-masing. Jika lebih sering memotret dengan tangan, bahkan di saat cahaya rendah juga. Maka fitur penstabil gambar jauh lebih berguna. Tapi jika lebih senang menggunakan tripod dan bermain long exposure, saya rasa pentabil gambar jadi tidak terlalu penting.

Kamis, 05 April 2018

Curug Batu Blek, Curug Dengan Air Paling Jernih Se Tasikmalaya dan Sekitarnya

Curug Batu Blek.

Seperti yang pernah saya katakan sebelumnya bahwa kecamatan Cisayong memiliki banyak curug yang indah. Salah satu yang paling terkenal adalah Curug Batu Blek.

Akses untuk menuju ke curug ini juga terbilang mudah. Hanya sekitar 45 menit dari alun-alun singapartna. Walaupun aksesnya hanya bisa dilalui oleh motor. Karena mobil hanya bisa sampai jauh sebelum menuju curug.

Dari alun-alun Singaparna terus menuju Jalan Raya Cisinga (Ciawi – Singaparna), dan dari sana kita lanjut lurus menuju ke kampung Cipeuteuy, kalau kebingungan kita bisa bertanya pada warga sekitar. Lokasi curug ini berada di kampung Pasir Malang, kampung paling ujung di desa ini dan hanya beberapa rumah saja yang ada. Saya sendiri juga tidak ingat pasti jalur untuk menuju ke sini karena sepenuhnya saya mengandalkan panduan dari Google Maps.

Motor hanya bisa sampai di tempat parkir. Dari tempat parkir ini kita harus menelusuri jalan setapak yang merupakan aliran dari Curug Batu Blek. Jalan kaki terus menelusuri hutan sekitar 15 menit. Hingga sampai di Curug.

Batu Blek ini memiliki dua buah curug. Curugnya tidak begitu tinggi, tapi airnya sungguh jernih. Kejernihan air yang takkan sanggup kita tolak. Kita juga bisa berendam dan berenang di sekitar curug karena kolam air nya cukup aman untuk berenang.

Kejernihan air Curug Batu Blek.
Curug ini sudah dikelola oleh Perhutani. Untuk masuk ke curug ini kita akan dikenakan tarif Rp 8000 per orang. Fasilitas Curug ini terbilang minim. Warung yang menjajakan makanan berada di tempat parkir. Sementara itu saya tidak menemukan fasilitas seperti mushola untuk sholat.

Selain Curug Batu Blek, sebenarnya masih ada beberapa curug lagi yang masih satu aliran dengan Curug Batu Blek. Jika kita terus naik meneruskan perjalanan ke atas aliran Curug Batu Blek. Ada sekitar 3 atau 4 Curug lagi. Tapi untuk mencapainya cukup susah, karena harus manaiki tebing yang terjal. Di bawah Curug Blek juga ada beberapa curug yang airnya tidak kalah jernih.

Tidak tahu Curug apa, tapi ini berada di bawah aliran Curug Blek.





Senin, 19 Maret 2018

Pengalaman Memakai Filter ND Haida Selama Setahun Setengah

Haida Pro MC II ND64X.

Kali ini saya akan membagi sedikit pengalaman saya selama hampir satu setengah tahun memakai filter Haida, yaitu Haida Pro MC II ND64X. Sebagai catatan ini merupakan ulasan pribadi, filternya bukan produk sponsor. Saya membeli filter ini dengan uang sendiri.

Haida Pro MC II ND64X merupakan filter ND atau Neutral Density. Dimana filter ini berfungsi mengurangi intensitas cahaya yang masuk ke sensor kamera sehingga kita bisa menggunakan shutter speed yang lambat. Filter ini berguna terutama untuk membuat air terjun menjadi lembut. Haida Pro MC II ND64X ini mengurangi cahaya yang sekitar 6 stop. Saya tidak akan menjelaskan lebih jauh soal ND filter, teman-teman bisa mencari artikelnya secara khusus di internet.

Mungkin yang menjadi pertanyaan, kenapa saya membeli ND filter 6 stop, bukan 10 stop. Menurut saya dan menurut pengalaman saya sejauh ini, filter 6 stop adalah ND filter yang hampir berguna di segala kondisi cahaya. Ketika siang kita masih bisa long exposure dan ketika sore atau pagi, kita bisa mendapatkan shutter speed yang tidak terlalu lama.

Ketika dipasang di lensa ketika sore atau pagi, kamera saya masih bisa menangkap fokus. Jadi tidak perlu repot-repot harus mengatur fokus manual. Berbeda dengan 10 stop yang sangat gelap. Membuat kamera kesusahan menangkap fokus di pagi atau sore. Jika ingin lebih lama, maka tinggal tambahin saja ND 4 stop. Tentunya harus beli lagi lah.

Haida memiliki dua versi dari filter ND ini. Pertama versi slim, dan kedua versi Multi Coating (MC). Yang saya pakai adalah versi Multi Coating. Berbeda dengan versi MC versi slip dibandrol dengan harga yang lebih murah. Tapi filter tidak dilindungi dengan lapisan MC yang berguna untuk mengurangi flare pada kamera.

Kualitas optic
Filter Haida dibuat di China, dan mereka mengklaim bahwa mereka menggunakan kaca Schott. Sebagai catatan Schott adalah perusahaan asal Jerman yang memproduksi kaca dan kramik yang berkualitas tinggi. Sekarang Schott adalah anak dari perusahaan optik terkenal dunia Carl Zeiss.

Haida filter menunjukkan kualitas yang bagus meski harganya lebih rendah. Seperti klaim Haida bahwa semua filternya terbuat dari optik dengan kualitas terbaik. Dan itupun terbukti, ketika saya pakai, saya tidak mendapat penurunan kualitas foto. Baik itu ketajaman atau pula penyimpangan warna.

Warna yang dihasilkan tetap natural dengan saturasi yang baik. Bahkan menurut seorang fotografer luar negeri membandingkan Filter Haida dengan merek yang lebih mahal. Hasilnya fotonya tidak terlalu jauh berbeda. Ulasanya bisa dilihat di sini.

Haida menawarkan filter yang lebih murah ketimbang kompetitor. Tapi kita juga jangan membandingkan juga dengan merek low end, seperti Green L atau Tianya. Karena perbedaan harganya cukup jauh. Teman-teman bisa membandingkan sendiri harganya secara online.

Sejauh ini saya merasa puas dengan hasil foto yang dihasilkan filter ini. Gambar tetap tajam dengan color cast (penyimpangan warna) yang sangat minim. Lapisan coating-nya juga berfungsi baik mengurangi masalah seperti flare.

Contoh hasil foto saya bersama Haida
Berikut saya tampilan beberapa hasil foto saya dengan Filter Haida. Sebagian foto telah mengalami post processing di Adobe Camera RAW atau Adobe Lightroom.

Curug Ngebul, Tasilmalaya.
Curug Aseupan, Curug Tilu Leuwi Opat. Parompong, Bandung.
Curug Batu Blek. Cosayong, Tasikmalaya.
Curug Sanghiyang Taraje. Pamulihan, Garut.
Curug Rahong. Cisewu, Garut.
Curug Ciparay. Cigalontang, Tasikmalaya.

Curug Rahong. Cisewu, Garut.

Curug Nyogong. Cihurip, Garut.


Minggu, 25 Februari 2018

Curug Ngebul, Culamega Tasikmalaya, Keindahan yang tidak banyak orang tahu



Curug Ngebul, Culamega, Tasikmalaya.
Sedikit sekali informasi yang bisa kami dapat tentang curug ini. Di internet sedikit yang mengulas tentang curug ini. Begitu pun akses dan jalur yang harus ditempuh. Bahkan, ketika hampir sampai di curug pun. Ketika bertanya kepada warga sekitar masih ada yang tidak tahu tentang curug ini. Perlu dipertanyakan kesadaran orang-orang Tasik akan potensi pariwisata di tempatnya.

Curug Ngeul, dari tingkat kedua.
Padahal akses menuju curug ini relatif mudah. Memang jarak yang ditempuh cukup jauh. Tapi jalur dan kondisi jalannya terbilang baik. Bahkan kita juga bisa menggunakan kendaraan roda empat untuk bisa sampai di sini.

Curug ini berada di Kampung Cutug Telu, Desa Bojong Sari, Kecamatan Culamega Kabupaten Tasikmalaya. Berjarak sekitar 2 jam dari Pusat Kota Tasikmalaya. Jika dari Tasik kota, kita harus pergi menuju jalan raya Karang Nunggal, dipertigaan Pamijahan-Bantar kalong, kita melanjutkan arah menuju Bantar Kalong. Terus menuju desa Bojongsari. Jika sudah sampai di Gapura Desa Bojongsari jarak ke curug sekitar 10 menit lagi. Ikuti jalan hingga sampai dijembatan. Dari jembatan ini curug sudah dekat.

Debit air curug dengan kecil.
 Dari Jempatan, kita harus jalan kaki menuju Curug sekitar 10 menit menelusuri aliran sungai irigasi dari bendungan. Di perjalanan kita juga akan menemukan Curug lain, yaitu Curug Cimoksel. Curug Cimoksel juga tidak kalah indah. Tapi sayang kami tidak sempat ke sini karena tujuan utama kami adalah Curug Ngebul. Setelah sekitar 10 menit jalan kaki, kita harus turun, hati-hati karena turunan ini sangat curam.

Sesampainya di curug, tidak ada yang menagih tiket masuk atau yang menjaga. Karena memang curug ini belum di kelola. Fasilitas seperti Toilet, Moshula atau warung juga tidak tersedia. Katanya tempat ini akan segera dikelola. Ya semoga saja bukan sekedar wacana.

Jalan kaki menelusuri Aliran Irigasi.
Turunan yang curam, harus berhati-hati.
Saya tiba ditempat ini ketika di sini sedang tidak hujan selama seminggu. Hasilnya Debit airnya cukup tenang. Tapi tidak mengurangi keindahan Curug ini. Selain Curug Ngebul, dan Cimoksel ada juga Curug Telu yang berada tidak jauh dari Curug ini. Jika anda sempat, maka harus mengunjungi juga Curug ini.

Rabu, 14 Februari 2018

Curug Aseupan, Curug Tilu Leuwi Opat, Parompong Bandung Barat

Curug Aseupan.

Di Bandung bagian Utara terdapat banyak curug yang menawan. Selain Curug Cimahi atau Curug Pelangi yang sudah terlebih dahulu ngehits, sekarang ada yang lagi nghits yaitu Curug Tilu Leuwi Opat.

Curug Tilu Lewi Opat adalah komplek wisata Curug yang berada di Kecamatan Parongpong. Di sini menawarkan keindahan curug, leuwi, camping ground juga pemandangan alam yang menawan. Di Curug Tilu Leuwi Opat ini terdapat beberapa area camping ground dan curug. Salah satu bintang utamanya yaitu Curug Aseupan.

Salah satu area camping ground Curug Tilu Leuwi Opat.
Menuju ke tempat ini juga relatif mudah. Curug Tilu Leuwi Opat terletak di dusun Ciwangun, Kelurahan Cihanjuang rahayu, kecamatan Parangpong, Kabupaten Bandung Barat. Sekitar 9KM dari Lembang. Jaraknya cukup berdekatan dengan Curug Cimahi.

Walaupun di sini banyak terdapat Curug serta area camping ground yang menawan. Menurut saya yang jadi daya pikat Utama Curug ini adalah Curug Aseupan. Di Curug ini ada tiga air yang jatuh menuju sungai yang indah. Memang kita harus naik dahulu. Dan untuk naik ke sini, Anda harus membayar ekstra Rp. 10.000.

Pemandangan sebelum menuju Curug Aseupan.
Untuk menuju Curug Aseupan kita harus menaiki tangga kecil.
Selain Curug Aseupan ada juga curug-curug yang lainnya yang tidak kalah indah. Salah satunya adalah Curug Tilu. Tapi untuk menuju Curug Tilu kita harus jalan kaki sekitar 30 menit dari Curug Aseupan.

Rute menuju Curug
Patokan Utamanya adalah menuju Ciwangun Indah Camp. Setelah melewati Universitas Advent, nanti akan ada gerbang menuju Ciwangun Indah Camp yang berada di sebelah kanan. Dari gerbang ini menuju pintu masuk Curug Tilu Leuwi Opat kurang dari 10 menit. Dari Tempat parkir kita harus jalan kaki menuju setiap curug.

Jika Dari Bandung, dari terminal Ledeng ambil arah kiri melewati jalan Sersan Bajuri menuju Kampung Gajah. Lurus saja sampai ke jalan Masturi melewati Universitas advent. Jika dari Cimahi langsung ambil arah ke jalan Kolonel Masturi menuju Parongpong. Melintasi jalan tersebut, kamu akan menemukan gerbang wana Wisata Ciwangun Indah. Jika dari arah Lembang dari jalan Raya Lembang berbelok lah menuju jalan Kolonel Masturi. Terus ikuti jalan melewati Universitas Advent.

Pintu masuk menuju Cuurg.
Tiket dan Fasilitas
Sesampainya di pintu masuk Curug, kita diharuskan untuk membeli tiket masuk sebesar Rp. 10.000,- belum biaya parkir. Saya sendiri memakai motor jadi tambah Rp. 2.000,-. Oh iya ini belum termasuk tiket masuk toilet. HTM toilet yang tersedia di sana saya lihat adalah Rp. 1.000,-. Dan tentu saja ini belum termasuk HTM naik ke Curug Aseupan.

Fasilitas yang tersedia juga sudah lengkap. Toilet, mushola, serta warung nasi pun tersedia. Jadi kita tidak perlu khawatir.

Jumat, 02 Februari 2018

Curug Nyogong, kemegahan yang lain di Kecamatan Cihurip

Curug Nyogong.
Ada banyak sekali keindahan yang tersimpan di Kecamatan Cihurip Kabupaten Garut. Selain Leuwi Tonjong yang sudah sangat terkenal, ada juga Curug Cibadak dan tentu saja Curug Nyogong.

Keindahan Curug Nyogong ini sudah sangat terkenal sekali di kalangan pecinta traveling dan curug. Bukan hanya wisatawan dari Garut saja yang berkunjung ke curug ini. Tetapi wisatawan dari luar kota juga banyak. Jadi sangat sayang sekali jika tidak berkunjung ke curug yang indah ini.

Curug di lihat dari samping. 
Air terjunnya memang tidak terlalu tinggi, tapi debit airnya sangat deras. Air mengalir deras diantara dua batu yang sangat besar menjadikan curug terlihat sangat megah. Uniknya airnya jatuh tidak lurus, tapi agak menyamping. Ini sebabnya curug ini di sebut Curug Nyogong yang artinya berbelok. Pemandangan batu-batu raksasa di sekitarnya juga menambah kemegahan curug ini.

Di area curug ini sebenarnya masih ada dua curug lagi. Yaitu Curug Cibalinaga dan Curug Cialeuan kedua curug ini bisa kita lihat ketika sampai dari tempat parkir Curug Nyogong. Tapi kedua curug ini tidak bisa kita kunjungi karena belum ada akses menuju curug.

Curug Cibalinaga dan Curug Cialeuan di lihat dari tempat parkir.
Akses menuju curug ini bisa dibilang gampang-gampang susah. Curug ini berada di Kampung Sawahpasir Desa Mekarwangi Kecamatan Cihurip.  Jika dari pusat Kota Garut, curug ini berjarak sekitar 2 – 2 jam setengah perjalanan menggunakan kendaraan motor.

Rute menuju curug ini adalah dari Garut Kota, terus mengambil arah menuju kecamatan Cikajang. Jika telah sampai di pertigaan, ambillah jalan menuju pasar Cikajang. Dari Pasar Cikajang ini, menuju Kecamatan Cihurip sekitar 1 jam perjalanan. Lanjutkan perjalanan menuju Gunung Gelap. Terus ikuti jalan hingga menemukan gapura masuk menuju Kecamatan Cihurip yang berada di sebelah kiri jalan. Dari Gapura ini menuju Curug sekitar setengah jam lagi.

Curug Nyogong di lihat dari atas.
Terus ikuti jalan, teman-teman akan menemukan pertigaan dan penanda arah menuju curug. Dari pertigaan ini kondisi jalan mulai jelek. Patokan utama untuk menuju Curug ini adalah Kantor Desa Mekarwangi. Jika menggukan kendaraan mobil sebaiknya di simpan di kantor desa. Selanjutkan berjalan kaki menelusuri jalan setapak menuju curug dari arah kantor desa. Jaraknya sekitar 15 menit jalan kaki medannya sedikit berat.

Jika menggukan motor, kita terus ikuti jalan, dan bertanyakan ke warga belokan menuju curug. Karena kita bisa membawa motor hingga dekat dengan menuju curug. Tapi harus hati-hati, walaupun bisa dilalui dengan motor, jalannya berupa jalan setapak sempit. Motor bisa disimpan di tempat parkir, dari tempat parkir kita harus jalan kaki turun menuju curug. Sekitar 10 menit.


Teman-teman akan dikenakan tiket Rp 5.000 per orang. Untuk fasilitasnya sendiri di sini memang tidak tersedia lengkap. Tidak ada toilet, tidak ada mushola atau pula warung. Jadi persiapkan semuanya sebelum berangkat.

Senin, 29 Januari 2018

Stasiun KA Cikajang, Stasiun tertinggi di Indonesia yang kini tinggal cerita


Kids Garut jaman now mungkin tidak banyak yang tahu bahwa dahulu kota ini dilalui oleh kereta api, jalurnya membentang sepanjang 47 KM dari Garut bagian utara (Cibatu) hingga ke selatan (Cikajang). Jalur kereta ini menghubungkan daerah-daerah penting di Garut seperti Cibatu, Wanaraja, Garut Kota, Samarang, Bayongbong, Cisurupan dan berakhir di Cikajang. Jalur kereta ini memiliki panorama yang sangat indah, melewati pegunungan dan pesawahan Garut.

Kondisi Stasiun Cikajang jaman now.
Walaupun terbilang jalur yang berat karena konturnya yang menanjak. Dahulu jalur kereta api adalah jalur kereta api yang sangat penting yang menunjang kehidupan warga Garut. Jalur ini berhenti di stasiun Cikajang yang merupakan stasiun ujung.

Stasiun Cikajang pernah menjadi stasiun kereta api tertinggi di Indonesia bahkan di Asia Tenggara sebelum akhirnya di nonaktifkan pada tahun 1983 karena rusaknya jalur kereta dan penurunan jumlah penumpang, dan kalahnya bersaing dengan moda transportasi jalan raya seperti bis yang waktu itu semakin popular.

Stasiun ini memiliki 3 jalur, jalur 1 merupakan sepur badug, jalur 2 merupakan sepur belok yang ujungnya terdapat banyak percabangan yang mengarah ke pabrik, jalur 3 merupakan sepur lurus. Stasiun yang merupakan stasiun ujung ini itu dikelilingi oleh pegunungan maka dari itu hawa daerah situ pun sangat sejuk. Stasiun ini dulu sangat ramai dengan penumpang. Hasil bumi seperti buah-buahan dan sayuran dari Cikajang dan Cisurupan diangkut menggunakan kereta untuk kirim ke kota Garut.

Kondisi Stasiun Cikajang

Sekarang, Stasiun yang bersejarah ini hanya tinggal puing-puing yang tidak terawat. Atap bangunan sudah tidak ada karena dimakan sijago merah. Bangunan stasiun ini pernah terbakar beberapa tahun  yang lalu yang memakan hampir seluruh bangunan. Di belakang bangunan sudah menempel tempok dengan bangunan baru. Di sebelah sisi bangunan, kita masih bisa melihat tulisan yang hampir pudar ‘Cikajang’. Sementara itu, di depan bangunan sudah tidak terlihat lagi jejak rel yang dahulu melintasi stasiun ini.
Stasiun Cikajang sebelum kebakaran. (Sumber foto : WIkipedia)
Jika kita lihat kondisinya sekarang, sulit dibayangkan bahwa dahulu tempat ini adalah stasiun yang sangat ramai dikunjungi oleh masyarakat. Tempat masyarakat menggantungkan hidup masyarakat banyak. Di mana setiap hari orang-orang Cikajang berhilir-mudik di tempat ini untuk berpergian ke kota, atau mengirimkan hasil bumi mereka untuk di jual di kota. Ah, sudahlah,  saya tidak perlu baper membahas masa lalu yang menyenangkan seperti itu.

Minggu, 28 Januari 2018

Pabrik Belerang Wanaraja, Sisa puing-puing yang bersejarah

Baprik Belerang Wanaraja.
Sekitar 2 KM dari arah pasar Wanaraja menuju Kampung Cikole, dahulu di sini berdiri dengan megah sebuah komplek pabrik pengolahan belerang yang sangat luas. Bangunan bersejarah yang dibangun untuk mengolah belerang dari Gunung Talaga Bodas. Dengan area seluas 9 ha, dahulu pabrik ini adalah salah satu pabrik terbesar di jamannya. Dahulu pabrik ini sangat terkenal, sama halnya Pabrik Tenun Garut dan Pabrik Coklat Ceres di Leuwi daun.

Sisa pondasi bangunan yang masih kokoh.
Bangunan yang didirikan di masa kolonial ini sekarang hanya tersisa puing-puing dan pondasi bangunan yang masih kokoh. Banyak sekali kisah mistis yang mewarnai bangunan yang sudah berhenti beroprasi sejak 9-10 tahun yang lalu ini. Bahkan tempat ini pernah diliput oleh sebuah acara TV swasta untuk acara uji nyali dan sebagainya. Puing-puing bangunan-bangunan tua, dan ilalang tumbuh liar meninggi di area pabrik menambah aura seram.

Puing-puing bangunan.
Komplek bangunan tua ini berada di Kampung Cikole, Desa Wanasari Kec Manaraja Garut. Sekitar 2 KM dari Pasar Wanaraja. Dari pasar Wanaraja terus ikuti jalan, tidak jauh dari pertigaan menuju Talaga Bodas, berbelok kiri ke arah kampung Cikole. Terus ikuti jalan nanti akan sampai di pertigaan, lalu berbelok kanan. Terus ikuti jalan, dari jauh menara pabrik ini sudah terlihat, maka tinggal ikuti jalan saja.

Area pabrik yang sangat luas.
Sebenarnya tempat ini akan dikelola dan akan dijakikan argo wisata. Sewaktu saya sampai di sini, saya dikenakan tarip Rp 5.000 per motor. Ini udah termasuk parkir. Dari gerbang masuk kita tinggal jalan kaki saja.

Sisa pondasi pabrik yang masih bediri.
Banyak juga memberitakan bahwa baprik ini tidak mengolah belerang, sebenarnya saya tidak percaya, karena ketika sampai di tempat ini, walaupun tempat ini sudah di tinggalkan bertahun-tahun tapi tetap saja masih tercium bau belerang.

Sisa pengolahan belerang.
Bangunan-bangunan tua ini walaupun terlihat menyeramkan, tapi sebenarnya banyak orang yang melakukan prewed di sini. Pondasi bangunan tua dan ilalang menjadi pemandangan yang eksotis untuk foto prewed. Tertarik untuk melakukan prewed di sini?