Kamis, 08 Desember 2016

Curug Rahong, Air terjun Yang Melegenda Di Tanah Cisewu

Curug Rahong Tingkat Ketiga.
Jika berkunjung ke Cisewu, maka salah satu objek wisata yang wajib dikunjungi adalah Curug Rahong. Curug ini adalah Curug yang paling sering dikunjungi oleh para wisatawan yang hendak pergi ke Rancabuaya dari arah Bandung. Letaknya strategis karena letaknya yang tidak jauh dari jalan raya. Curug ini sangat terkenal oleh orang-orang sekitar. Orang sekitar sini sering menyebutnya dengan 'Rahong' saja. Sebenarnya sih tidak ada legenda apa-apa di Curug ini. Hanya karena saking terkenalnya jadi saya beri judul melegenda. 

Curug ini terletak di Cibodas Desa Sukajaya Kecamatan Cisewu, Garut. Berada tidak jauh dari jembatan Rahong. Saking terkenalnya kalian tidak akan susah untuk mencari Curug ini. Coba bertanya ke warga sekitar juga pasti sudah pada tahu. Walaupun begitu ini tidak membuat Curug ini mempunyai fasilitas yang memadai. Karena belum di kelola dengan baik. Untuk masuk ke sini tidak perlu tiket masuk. Kita hanya perlu turun sedikit dari jalan raya. Kendala satu satunya Memang jika kalian yang berada di kota, kecamatan Cisewu ini sangat jauh. Dari Bandung berjarak sekitar 80km dan dari kota Garut berjarak sekitar 100km.

Curug Rahong Tingkat pertama
Curug ini memiliki beberapa tingkatan, tingkat pertama yang merupakan tingkat dasar. Di sini menawarkan keindahan yang bertingkat, kita bisa melihat keindahan Curug di tingkat dua. Dengan bebatuan besar di sekitar sini. Di sini ada sebuah kolam sungai yang besar. Di tingkat pertama juga sering di pakai untuk orang berenang. Arusnya cukup deras jadi harus sedikit berhati-hati jika berenang di sini.

Curug Rahong Tingkat kedua.
Baca juga :
Bosan berfoto di perkebunan teh? Coba berfoto di perkebunan karet Mira Mare
Di tempat ini, air laut justru mengalir ke sungai
Leuwi Jurig, tempat yang asyik untuk berfoto

Tingkat kedua, menawarkan keindahan yang tidak kalah menawan. Ari terjun deras mengalir di antara bebatuan raksasa mengalir ke dalam kolam yang sangat dalam. Di kolam ini kita tidak bisa berenang ya. Karena sangat berbahaya. Tapi kita bisa berfoto ria di pinggirnya.

Bule kebon sedang berpose di tingkat ketiga.
Dan terakhir keindahan yang sesungguhnya ada di tingkat ke tiga. Tingkat ke tiga ini agak sedikit susah di capai. Karena kita harus memanjat tebing-tebing yang curam. Tapi setelah sampai kalian akan mendapatkan pemandangan yang uchhh!!! air terjun yang terbelah dua mengalir deras ke dalam kolam. Di kolam ini juga kalian bisa berenang. Walaupun airnya deras tapi cukup aman untuk berenang. Sebenarnya ada satu tingkatan lagi di paling atas, tapi untuk mencapainya sangat susah.

Selain semua keindahan itu, kita juga bisa menikmati keindahan pesawahan sekitar Curug Rahong yang sangat indah. Gak kalah lah sama terasering di Bali juga. haha

Terasering di sekitar Curug Rahong.
Curug Rahong juga masih dianggap angker oleh sebagian warga ini. Air terjun yang deras dan tinggi serta tebing dari batu-batu besar yang menyeramkan. Pohon-pohon di sini juga masih sangat rindang. Selain itu tanjakan Rahong juga sangat curam yang membuat kendaraan-kendaraan harus susah payah melewatinya. Tapi itu semua tidak membuat pesona keindahan Curug ini memudar.

Baca juga : 

Rabu, 07 Desember 2016

Pantai Pamayangsari Tasikmalaya


Pantai Pamayangsari merupakan objek wisata yang populer di Tasikmalaya. Terbukti ketika saya ke sini banyak orang yang sedang berpiknik dan menikmati kuliner di sekitar pantai ini. Pantai Pamayangsari juga merupakan tempat konservasi penyu. Jika beruntung, ketika ke pantai ini kita bisa melihat pelepasan anak-anak penyu di pantai ini.


Di pantai ini ada dua menara yang berdiri kokoh menjorok ke laut lepas. Menara ini terlihat sangat gagah dari kejauhan. Di sekitar menara banyak terdapat perahu-perahu nelayan.

Wisata kuliner di pantai ini cukup terkenal. Banyak rumah makan yang berada di sekitar sini. Hal ini juga di dukung dengan adanya tempat pelelangan ikan. Di sini banyak di jumpai para nelayan dan berahu-perahunya yang telah melayar. Jika ingin ikan segar, maka kita tinggal pergi menuju ke pelelangan ikan.


Setiap tahun tepatnya setiap awal bulan Muharam tahun Hijriah di pantai ini selalu diadakan ritual syukuran laut yang di tandai dengan pelepasan Jampan ke laut lepas. Tapi karena saya berkunjung tidak di bulan Muharam jadi saya tidak kebagian ritual ini.



Di pantai ini akan dibangun dermaga laut untuk menunjang transportasi laut. Walaupun dermaga ini tidak akan sebenar dermaga Nusamanuk dermaga ini cukup berpotensi untuk menunjang ekonomi daerah selatan Jawa Barat.

Baca juga:

Kamis, 24 November 2016

Perkebunan Karet Mira Mare

Sudah bosen kan foto-foto di perkebunan teh? Coba deh berkunjung ke Mira Mare dan berfoto di perkebunan karet yang sangat historis.

Suasana jalan raya Mira Mare.
Tetumbuhan hijau sepanjang jalan.
Ketika melewati perkebunan ini saya merasakan suatu pengalaman yang menyenangkan. Perkebunan Mira Mare adalah area perkebunan karet yang sangat luas. Sepanjang jalan saya disuguhi panorama yang sangat indah. Saya merasa berada di suatu tempat yang entah lah... yang saya rasa memang berkesan sekali.

Jalan Raya cenderung serpi.
Baca Juga :

Jalan raya Mira Mare sangat sepi, jika mau kalian bisa menggeber kendaraan kalian hingga kecepatan maksimum. Tapi sebaiknya sambil bersantai saja, agar kita bisa menikmati setiap meter keindahan di perkebunan Mira mare.

Pohon karet Mira Mare.
Serem banget ya pohonnya, kaya di film Harry Potter. haha
Perkebunan Mira Mare didirikan pada tanggal 23 Agustus 1915 oleh pemerintah Belanda. Kemudian setelah kemerdekaan perkebunan ini di ambil alih oleh pemerintah Indonesia kemudian namanya kembali diubah menjadi perkebunan Mira Mare. Mira mare terletak di kecamatan Cibalong yang berbatasan langsung dengan Leweung Sancang dan Cipatujah Tasikmalaya. Perkebunan Mira Mare merupakan wilayah unit kerja dari PT. Perkebunan Nusantara VIII.


Perkebunan Karet Mira Mare.
Mira Mare diambil dari bahasa belanda yang mempunyai arti tanah landai di pesisir pantai. Perkebunan karet Mira Mare merupakan salah satu penghasil karet terbesar di Indonesia. Perkebunan karet ini sangat historis menjadi saksi peralihan dari pemerintah Belanda sampai saat ini. Tak heran banyak bangunan-bangunan dengan bentuk yang sudah kuno di sini. Salah satunya adalah kantor pusat perkebunan Mira Mare.


Kantor Pusat Perkebunan Mira Mare


Baca juga : 

Senin, 21 November 2016

Magic Hour di Pantai Sayang Heulang

Magic Hour Pantai Sayang Heulang.
‘Magic Hour’ atau ‘Golden Hour’ dalam fotografi adalah sahabat terbaik bagi seorang fotografer outdor. Fotografer profesional menyebut ‘Golden Hour’ sebagai momen dengan kondisi pencahayaan terbaik di hari itu. Golden Hour ini terjadi sesaat sebelum atau sesudah matahari terbit atau tenggelam. Singkat kata, waktunya terbatas.

Mencari Golden Hour di saat musim hujan seperti memang agak sedikit susah. Seharian bisa hujan dan awan tebal menutupi cahaya matahari. Tapi namanya susah bukan berarti tidak mungkin. Kita hanya perlu persiapan yang matang untuk itu.

Menikmati Golden Hour di bawah jembatan Santolo.
Tujuan saya adalah pantai Sayang Heulang, 80 KM dari rumah. Sebenarnya ini bukan kali pertama saya ke sini tapi tetap sayang sekali kan kalau pas tiba di sana dan hujan. Dari situ saya perlu banyak perhitungan yang harus disiapkan. Seperti perkiraan cuaca, pasang surut air laut dan posisi matahari tenggelam. Beneran, saya tiba-tiba sangat peduli sama ramalan cuaca BMKG karena gak ingin perjalanan jauh saya jadi sia-sia.

Saya putuskan untuk berangkat hari Sabtu, kenapa? Karena hari Senin-Jumat saya kerja, dan hari minggu sebagai hari cadangan jika kalau tidak dapat ‘golden hour’ di hari Sabtu. Alhamdulillah ternyata perjalanan panjang saya benar-benar tidak sia-sia, saya mendapatkannya di hari Sabtu.

Saya tiba di Sayang Heulang sekitar pukul 11 siang. Waktu yang sangat panjang untuk menunggu ‘sunset’. Perkiraan sunset adalah sekitar 17.48. dan saya seorang diri di pantai ini, orang lain ada hanya saya tidak kenal, hehe.

Ini semua di sebabkan karena teman-teman saya, para bedebah dari Bandung yang punya inisiatif acara ini malah tidak jadi ikut, kurang asem memang. Mungkin mereka lagi sibuk moto semut atau ulat di belahan dunia sebelah sana. Hasilnya saya luntang-lantung seorang diri.  Karena waktu masih panjang jadi saya putuskan untuk jalan-jalan dulu ke Mira Mare dan Leweung Sancang, bahkan Cipatujah, haha (Lain kali saya ceritakan bagian yang ini).

Sebenarnya saya ingin terus jauh menuju lepas pantai, tapi takut tiba-tiba pasang. haha
Saya tiba kembali di Sayang Heulang sekitar pukul 4 sore. Saya sempat khawatir karena cuaca yang berawan tebal, matahari pun tidak terlalu terlihat di sini. Saya tidak tahu letak pasti di mana matahari akan tenggelam. Terima kasih, berkat bantuan aplikasi Sky Maps di Android saya bisa mencari letak di mana posisi matahari akan tenggelam. Waktu menjelang sunset pun mataharinya masih tidak kelihatan, saya mulai khawatir. Apa akan terjadi golden hour atau tidak.

Awan tebal menutupi Matahari
Semua berubah ketika matahari mulai tenggelam, golden hour dimulai. Mataharinya tidak kelihatan. tapi cahaya kekuningannya memancar hampir ke semua penjuru langit. Sungguh luar biasa melihat langit berwarna jingga biru keunguan. Golden hour ini berlangsung cukup lama, saya bisa berpindah-pindah tempat mencari sudut yang tepat. Alhamdulillah perjalanan epik saya tidak sia-sia.
Nah itulah sedikit cerita dan foto-foto favorit saya, selamat menikmati.

Saking senengnya saya jadi lupa saya juga bawa filter. akhirnya di saat-saat terakhir saya kemudian memakai filter untuk membuat air lautnya menjadi kabut.
Ini adalah foto tanpa filter.
Dan ini adalah Sayang Heulang tanpa Golden Hour.
Baca Juga :

Penomena Air Laut Mengalir Ke Sungai Di Sayang Heulang dan Santolo

Air Laut Yang mengalir ke muara sungai.
Umumnya di pantai yang lain di belahan dunia mana pun air sungai yang mengalir ke laut, tapi di Sayang Heulang dan Santolo justru terjadi sebaliknya. Air lautlah yang mengali ke sungai. Konon katanya penomena ini hanya terjadi di dua tempat satu di sebuah pantai di Prancis dan satu lagi di muara sungai Cilauteureun yaitu di pantai Santolo dan Sayang Heulang, kenapa bisa? Tenang. Sebenarnya ini bisa di jelaskan secara ilmiah.

Laut dangkal Sayang Heulang.
Menurut analisa ilmiah ngawur saya seperti ini. Pantai Santolo dan Sayang Heulang letaknya berada bersebelahan hanya dipisahkan oleh muara sungai Cilauteuren. Muara sungai Cilauteureun alirannya sangat tenang sehingga seolah-olah air sungainya tidak mengalir. Itu sebabnya disebut Cilauteureun (air berhenti). Tapi muara sungai ini cukup dalam, dan kedalamannya melebihi kedalaman pantai Santolo dan Sayang Heulang. Sehingga dengan gusuran ombak di pantai Santolo, membuat air laut seolah-olah mengalir ke muara sungai. Memang jika di pantai Santolo penomena ini tidak terlalu terlihat pada waktu-waktu tertentu. Tapi jika di pantai Sayang Heulang ini sangat jelas terlihat. Lihat foto di atas.

Muara Sungai Cilautteureun.
Menurut analisa ngawur saya juga ini bisa dijelaskan seperti ini. Pantai Sayang Heulang adalah pantai dengan hamparan batuan karang yang menghampar seperti lantai. Jika laut sedang pasang akan  membentuk kolam laut dangkal. Tinggi hamparan karang ini melebihi tinggi dasar sungai Cilauteureun.

Ketika air laut pasang penuh, seluruh pantai Sayang Heulang akan tertutupi oleh air laut. Termasuk kolam laut ini. Ketika laut surut, air laut justru terjebak di hamparan karang ini. Maka otomatis permukaan karang yang lebih tinggi dari muara sungai mengalirkan air laut ke muara sungai.

Air laut mengalir ke muara sungai
Begitulah analisa ilmiah dengan metode mengira-ngira ala adrasablog. Jika kalian ingin menyaksikan sendiri penomena ini, silahkan kunjungi pantai Santolo atau Sayang Heulang.


Baca juga : 

Rabu, 09 November 2016

Review Novel Milea Suara Dari Dilan - Pidi Baiq



Perpisahan adalah upacara menyambut hari-hari penuh rindu. Begitulah secara garis besar novel ini digambarkan.

Buku ini hadir untuk melengkapi trilogi kisah asmara Milea dan Dilan. Buku Dilan Dia Adalah Dilanku 1990 dan Dilan Dia adalah Dilanku 1991 (saya sebut buku pertama dan kedua). Jika belum membaca buku yang pertama dan kedua, saya sarankan untuk membacanya terlebih dahulu.

Novel ini masih berkisah tentang cerita asmara antara Dilan dan Milea. Jika pada dua buku sebelumnya diceritakan dari sudut pandang Milea, maka pada buku ini diceritakan dari sudut pandang Dilan. Menurut saya buku ini memang wajib dibaca. Pidi Baiq menuliskan dengan baik baik cerita ini. Banyak hal yang diceritakan oleh Milea pada dua buku sebelumnya. Di sini Dilan menceritakan dalam sudut pandangnya. Menceritakan apa yang kurang dari cerita Milea, melengkapi bahkan mengoreksi.

Yang paling membuat penasaran adalah bagaimana kehidupan Dilan setelah putus dari Milea. Di buku ke satu dan kedua hanya sedikit sekali dibahas. Di buku ini, Dilan banyak bercerita tentang kehidupannya setelah putus dengan Milea.

Jujur saja, saya sedikit bosan ketika membaca buku yang kedua, saya rasa Dilan di buku yang kedua itu sangat menyebalkan dengan sikap egois, dan keras kepalanya. Ketika membaca buku ini, justru saya salah menilai Dilan. Ternyata Dilan di buku yang ke dua, tidak se menyebalkan itu. Banyak hal yang melatarbelakangi Dilan berbuat kebodohan yang diceritakan Milea di buku yang kedua. Lewat penuturan yang lugas Dilan dibuku ini saya jadi paham apa yang dipikirkan Dilan pada masa-masa itu.

Misalnya kejadian yang menewaskan Akew hingga Dilan masuk penjara. Dilan menuliskan dengan baik kronologi kejadian itu yang sebenarnya dari sudut pandang Dilan sehingga apa yang dulu menjadi pemikiran Milea di buku kedua, bisa dijelaskan dengan baik dalam sudut pandang Dilan.
Buku ini memang membuat gemas. Gemas pada akhirnya takdir mereka tidak pernah bisa bersama. Mereka berdua sama-sama punya perasaan, sama-sama masih cinta, tapi rasa gengsi dan banyak praduga yang salah akhirnya membuat takdir mereka berbeda.  Seandainya salah satu di antara mereka bisa menurunkan ego dan gengsinya mungkin akhir kisah ini akan berbeda. Kisahnya ini sedikit mengingatkan pada kisah Takaki dan Akari dalam film 5 Centimeters Per Second karya Makoto Singkai. Hanya saja film 5 Centimeters Per Second 1000 kali lebih menyakitkan.

Dari kisah Dilan ini kita bisa mengambil banyak hikmah. Milea dan Dilan adalah korban prasangka dan gengsi masing-masing. Ketika mereka saling tahu tetapi semuanya sudah terlambat. Milea menyangka Dilan telah berpacaran dengan orang lain. Dilan juga menyangka Milea telah berpacaran dengan orang lain.

Seperti kata Remy More di halaman 322:

Sedangkan cewek itu, punya rasa malu mau nyatain duluan. Jadinya gitu deh, kamu sama Lia itu istilahnya dulu itu jadi pada nahan diri gitu. Kasarnya mah, jadi pada munafik. Kamu gengsi nelepon Lia karena nyangka dianya udah punya pacar Lia ya gitu deh. Cewek itu cuma bisa nunggu, Dilan.

Kalau kata kang Ibay Setelah baca Milea, terima kasih ayah, sudah membantu kami menyadarkan para wanita, bahwa kami (pria) memang seperti itu, dalam berfikir, bertindak dan mengambil keputusan. Jangan melulu pria harus menebak-nebak maksud. Kalau novel Dia adalah Dilanku disebut buku taktik menguasai wanita, maka Milea Suara dari Dilan adalah buku taktik menguasai pria.

Begitulah sedikit review saya tentang novel Milea ini. Yang penasaran silahkan beli bukunya di toko buku kesayangan pemiliknya.

Minggu, 30 Oktober 2016

Pantai Karang Tepas, Pantai dan Tebing Karang yang Mengagumkan

Pantai Karang Tepas.
Setelah sebelumnya menjelajahi 9 pantai terindah di garut, (baca : Menjelajah 9 Pantai Terindah di Garut) akhirnya untuk bisa melengkapi cerita saya, saya berkunjung ke pantai yang ke 10. Saya mengunjungi pantai Karang Tepas. Berawal dari kepenakkan setelah bekerja satu minggu, sudah saatnya dong kita bertamasya di akhir pekan. Setelah melalui diskusi yang alot akhirnya saya dan teman-teman memutuskan untuk pergi ke pantai ini.

Pemanndangan yang dramatis, ombak menerjang pantai Karang Tepas.
Pertama kali saya tahu tentang pantai ini dari intagramnya Jelajah Garut. Jika di lihat di Google, pantai ini terletak di Kp. Cikajar Desa Karangwangi, Kecamatan Mekarmukti. Jaraknya tidak jauh dari pantai Cicalobak. (baca: Cicalobak, Pantai Garut Rasa Bali). Jika dari arah Pameungpeuk, maka karang tepas ini berada sebelum Cicalobak. Jika dari Kota Garut jaraknya sekitar 92 KM, hahah, jauh banget ya. Tapi tenang saja semuanya akan terbayar setelah sampai di pantai ini.

Pemandangan Pantai Karang Tepas
Pantai ini begitu tersembunyi, sedikit informasi yang saya dapat tentang pantai ini. Tapi tidak usah khawatir, pantai ini sudah ada kok di Google maps. Jadi jika kalian tersesat, maka tinggal buka saja Google maps, hanya saja ketika berada sudah menuju lepas pantai, jaringan seluler agak susah didapat.

Karang yang seperti lantai.
Tidak ada penanda jalan, tidak ada papan informasi, tidak ada plang yang menunjukkan pintu masuk pantai ini. Berbekal keinginan yang kuat kami untuk menelusuri pantai ini, akhirnya kami berhasil menemukan pantai ini. Ketika menemukan hamparan perkebunan kelapa sawit, artinya kita sudah dekat dengan pantai ini. Kita tinggal menyusuri jalan setapak. Untuk motor sepertinya masih masuk, tapi untuk roda empat sepertinya harus diparkir di jalan raya deh. Jarak dari jalan utama menuju pantai lumayan, sekitar 500m. Tidak ada tiket masuk untuk masuk ke pantai ini.

Para pemancing di Pantai Karang Tepas.
Ketika tiba di pantai ini, saya tiba-tiba merasa tidak sedang berada di Garut. Saya merasa berada di suatu tempat yang saya bayangkan ini bukan Garut. Yang unik dari pantai ini adalah pantai ini berupa gugusan karang raksasa, di mana karang ini menjorok ke laut seperti lantai. Jika berada di ujung karang ini, seakan sedang berada di gelodok kapal. Ombak menerjang dengan kuat, pemandangan laut yang luas. Ini sungguh luar biasa.

Tebing Karang yang mengagumkan, membentang sepanjang Pantai
Baca juga : 
Di pantai ini juga ada sebuah gua yang tidak terlalu besar yang sering di gunakan para pemancing untuk berteduh. Di sisi kiri dan kanan pantai yang berupa tebing karang, banyak terdapat sarang walet. Tebing-tebing karang ini sangat mengagumkan. Kaya di film King Kong, haha. Saran saya, kalau berkunjung ke sini jangan terlalu banyak, karena bisa mengganggu habitat walet.

Gua kecil untuk berteduh
Pantai ini relatif sepi pengunjung, saat kami ke sini, hanya ada para pemancing saja yang berada di pantai ini tidak ada pengunjung yang lain. Ini mengasyikkan karena kesan ekslusifnya kena banget. Silahkan nikmati foto-fotonya...

Omak menerjang sangat kuat.
Sudah puas Foto-fotonya, waktunya pulang.
Baca juga : 

Sabtu, 29 Oktober 2016

Leuwi Jurig spot yang Indah Untuk Berfoto


Rupit, Leuwi Jurig.
Dalam perjalanan pulang seusai menjelajah pantai selatan Garut (baca : Menjelajah 9 pantai terindah di Garut ) rute pulang kami menggunakan rute Bungbulang. Di daerah Bungbulang saya menemukan tempat yang asyik untuk berfoto. Tempat ini memiliki potensi keindahan yang luar biasa. Air yang jernih mengalir di antara batu-batu raksasa. Sungai dangkal dengan pasir hitam yang halus dan air yang jernih kehijauan. Orang sekitar menyebut tempat ini Leuwi Jurig atau Rupit. Sebenarnya saya sudah lama berkunjung ke tempat ini, hanya saja saya baru ingat untuk menulisnya di sini.

Oke udah sampe, foto dulu :D.
Temen saya, ingin narsis juga :D
Rupit ini berada di Kecamatan Bungbulang, tepatnya saya tidak tahu pasti, hanya jika dari arah Bungbulang, maka ini adalah jembatan pertama setelah PLTMH Cirompang Bungbulang  (foto jembatan ada di bawah). Jadi saya bisa memperkirakan bahwa jembatan ini berada di Desa Cihikeu. (Saya menelusuri di Google maps, lokasinya bisa kalian buka di sini.) Walaupun berada tidak jauh dari jalan raya, tapi tempat ini agak tersembunyi. Kita bisa melihat tempat ini dari sebuah jembatan. Dari jembatan ini kita bisa melihat aliran air sungai yang tenang, jernih berwarna kehijauan. Di sampingnya dihapit oleh batu-batu besar yang maka itulah Rupit.

Landscape Rupit
Sepertinya enak buat berenang ya.
Di tempat ini biasanya banyak para penambang pasir, jadi kita bisa melihat tumpukan pasir di sekitar sini. Untuk masuk kita bisa melalui gapura yang ada sebelum jembatan, bisa juga lewat atas, yaitu jalan setapak setelah jembatan. Hanya saja jika melalui jalan setapak ini kita harus menyeberang sungai. Jika mau, kita juga bisa berenang di sungai yang jernih ini. Sayang sekali walaupun tempat ini sangat indah, oleh warga sekitar tempat ini malah dijadikan tempat pembuangan sampah.

Penampakan jembatan di Google Maps.
Sungai dangkal dengan air yang jernih kehijauan.
Tidak ada tiket masuk ke tempat ini, hanya dibutuhkan keberanian. Tempat ini relatif sepi bahkan di siang hari juga sepi. Satu lagi, Rupit ini hanya bisa kita kunjungi saat musim kemarau, atau di saat airnya sedang tenang. Karena jika di saat musim hujan airnya akan berubah menjadi sangat menyeramkan, sangat deras dan berbahaya.

Tuh kan, sungainya dangkal.
Panorama sekitar sungai.

Kamis, 20 Oktober 2016

Smaug VS Ancalagon, Para Naga Dalam Legendarium Tolkien



Setelah membaca kisah-kisah J.R.R Tolkien, kita tersadar Ancalagon The Black sangat besar, dan Smaug hanya seekor cicak.

Kita pasti tahu Smaug, naga raksasa di film The Hobbit, film yang diadaptasi dari buku The Hobbite karya J.R.R Tolkien. Tubuhnya sangat besar. Pintu masuk Erebor yang besar saja bisa dia hancurkan dengan mudah. Atap-atap rumah di kota Dale hanya se-lutut dia. Tapi jika kita menggali lebih dalam tentang cerita-cerita dari J.R.R Tolkien terutama dalam buku SIlmarillion, kita akan menemukan naga yang jauh lebih besar dari Smaug yaitu Ancalagon The Black.

Ancalagon The Black.
Para naga diciptakan oleh Morgoth pada jaman pertama. Siapa itu Morgoth? Morgoth adalah dewa kegelapan, yang jadi antagonis utama di buku Silmarillion. Di manakah  Sauron? Pada masa itu Sauron masih menjadi pelayan Morgoth.

Dalam cerita-cerita Tolkien, naga digambarkan sangat kuat, cerdas, licik, mempunyai kekuatan fisik yang besar. Sebagian di antara mereka memiliki kekuatan sihir. Mereka adalah pemimpin perang yang sangat apik. Ada banyak naga yang diceritakan dalam kisah Tolkien. Glaurung yang menjadi antagonis dalam kisah The Children Of Hurin. Fire Drake Of Gondolin, Acalagon dan yang paling terkenal tentulah Smaug dalam kisah The Hobbit.

Naga-naga ini mempunya bentuk fisik dan ukuran yang berbeda-beda. Ada yang berkaki empat dan merayap seperti kadal, seperti Glaurung dan FIre Drake Of Gondolin. Ada pula yang bersayap bisa terbang dan bernapas api seperti Smaug dan Ancalagon. Sayangnya naga-naga ini tidak selucu di film How To Train Your Dragon.

Smaug adalah naga terakhir yang muncul dalam semua kisah karya Tolkien. Dia dibunuh oleh Bard putra dari Girion, penguasa Dale. Smaug merupakan naga bersayap dengan napas api yang sangat mematikan.

Smaug.
Ancalagon The Black, muncul dalam kisah Silmarillion. Dikisahkan bahwa Ancalagon adalah hamba Morgoth yang paling kuat. Awal kemunculannya ketika Perang para dewa yang mengakhiri jaman pertama. Pada waktu itu, kemenangan hampir di tangan pasukan Valar (para dewa), namun di saat-saat terakhir, Morgoth mengeluarkan pasukan naga dari neraka Angband yang di pimpin oleh Ancalagon The Black.  Ancalagon berhasil memukul mundur pasukan Valar hingga jauh. Setelah di pukul mundur, Earendil manusia setengah elf dengan kapal Elven dengan bantuan Thorondor dan para elang raksasa bertarung seharian dan berhasil mengalahkan Ancalagon. Tubuh Ancalagon jatuh menimpa tiga buah gunung. Napas api Ancalagon sangat panas, bahkan lebih panas para naga yang lain.

Seberapa besar kedua naga ini?

Menurut analisis para Pans, Smaug mempunyai panjang badan dari kepala sampai ekor sekitar 40 M. Jika kita bandingkan dengan sebuah pesawat, ukurannya sama dengan sebuah pesawat Boeng 707.
 
Boeng 707 vs Smaug.
Ukuran tubuh Ancalagon The Black menurut para Pans, sekitar 11x ukuran Smaug. Jika panjang tubuh Smaug sekitar 40 M, maka Ancalagon adalah 440 M. Panjang tubuh Ancalagon hampir setara dengan tinggi menara Petronas. Maka saat di berdiri dengan kedua kakinya tingginya bisa mencapai 300 M. Itu adalah tinggi dari menara Eiffel.