Minggu, 15 Mei 2016

Review Novel Evergreen, Menjadi Dewasa Di Kafe Es Krim Penuh Cinta






Konichiwa! Selamat datang di EVERGREEN, kafe es
krim penuh pelayan baik hati, lagu The Beatles akan
melengkapi hari-harimu…
Tempat yang menghangatkan, bahkan bagi seorang
gadis pengeluh dan egois sepertimu, Rachel!
Di kafe itu, kau menemukan sebuah dunia baru,
juga pelarian setelah dipecat dari pekerjaanmu.
Menurutku, itu bagus! Apa enaknya sih kerja jadi
editor?
Namun, sebenarnya butuh berapa banyak kenangan
dan sorbet stroberi untuk mengubah sifat egoismu?
Atau yang kau butuhkan sebenarnya hanya kasih
sayang? Mungkin dariku, si pemilik kafe? Hmmm?

Rachel Yumeko River semuanya sempurna gadis muda, cantik dan punya pekerjaan dengan posisi mentereng. Editor perusahaan penerbit besar di Tokyo, Sekai Publishing. Pekerjaan yang selalu dia elu-elukan yang dia anggap sebagai tumpuan terakhir setelah berkali-kali berganti pekerjaan.  Tapi...

Semuanya berawal ketika Rachel baru saja di pecat dari pekerjaannya. Pekerjaan yang selalu dia banggakan. Semua kehidupannya mendadak berubah, marah, menangis, putus asa, frustrasi, depresi bahkan hingga nyaris bunuh diri. Seakan semuanya belum cukup berat, semua teman baiknya juga ikut menjauhinya. Teman yang seharusnya ada di saat Rachel terpuruk seperti itu. Baiklah, sekarang Rachel bukan hanya kehilangan pekerjaan, tapi juga teman.

Di tengah semua keputusasaannya Rachel menemukan sebuah kafe yang letaknya tidak jauh dari apartemennya. Ya itu Evergreen, kafe es krim penuh pelayan baik hati. Menariknya kafe itu tidak hanya memiliki sorbet stroberi yang enak, tapi juga interior dan pelayan yang baik hati. Suasananya bisa merubah perasaan seseorang seketika. Bahkan ketagihan untuk mengunjunginya setiap hari.
Yuya, sang pemilik kafe, melihat keterpurukan yang dialami Rachel, tidak hanya menghibur Rachel, Yuya juga mengajak Rachel bekerja di Kafenya, tentu saja mengajak gadis seegois Rachel untuk menjadi pelayan di kafenya tidaklah mudah. Bagaimana selanjutnya? Ya Rachel menemukan sebuah dunia yang baru di kafe itu, teman serta berbagai hal yang baru. Rachel menyadari bahwa kehidupannya yang berat masih kalah berat oleh teman-temannya. Di sini lah Rachel berlajar menjadi lebih dewasa. Inilah yang menarik dari novel ini.

Sepertinya Prisca Primasari ingin menyampaikan pesan yang dalam melalui novel ini. Sebenarnya cerita novel ini sederhana saja, dengan bahasanya ringan alurnya mengalir sederhana. Semua pesannya tersampaikan tersirat dalam ceritanya. Banyak kutipan-kutipan menarik di novel ini. Contohnya;

"Menurutku kenangan tidak perlu dibagi. Kalau dibagi, tidak akan terasa istimewa lagi." – Toichiro
"Kau tidak akan kehilangan orang yang kau sayangi, kecuali kau melupakannya. Aku akan berusaha untuk tidak melupakan semua yang kucintai. Hati seseorang jauh lebih kuat dari otaknya." - Toshi

“Memaafkan. Kata yang lucu sekali, bukan?... Sesuatu yang sulit sekali diberikan. Padahal dengan melakukan itu berarti kita menyelamatkan hati kita sendiri. Pernahkah kau mendengar, bahwa ketika kau memaafkan seseorang, kau membuka lagi pintu rumah yang sebelumnya kau tutup rapat-rapat, yang telah membuat dirimu terperangkap dan kehabisan napas. Ketika kau memaafkan, kau pun bisa bernapas lagi. Dan hidup.”

Di awal cerita akan disuguhkan gambaran kehidupan para tokoh di sini, mengalun perlahan walaupun kadang saya merasa ada transisi cerita yang terlalu cepat. Sampai pada akhirnya konflik yang sesungguhnya mulai tercipta.

Secara keseluruhan saya menyukai novel ini, yang saya sayangkan mungkin karena bentuk huruf bukunya. Entahlah saya merasa cape karena bentuk hurufnya yang kecil. Mungkin ini jadi saran untuk penerbit agar bisa memperbaiki cetakan hurufnya kalau novel ini di cetak ulang, Hehe.
Share This
Previous Post
Next Post

0 komentar: