Senin, 29 Agustus 2016

Bendungan Jatigede, Bendungan Dengan Masa Pembangunan Terlama di Dunia



Basa-basi dulu.... (kalau lagi rusuh lewati saja, langsung ke perjalanan menuju Bendungan)
Waduk Jatigede merupakan sebuah waduk yang sedang dibangun di Kabupaten Sumedang. Pembangunan waduk ini telah lama direncanakan dan proses pembangunannya masih berlangsung hingga kini. Waduk ini dibangun dengan membendung aliran Sungai Cimanuk di wilayah Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedang. Untuk waduknya sendiri sudah hampir selesai dibangun, hanya tinggal jaringan irigasinya yang direncanakan akan selesai pada tahun 2017.

Waduk Jatigede memiliki total luas sekitar 4.300 HA menjadikan waduk ini terbesar kedua di Indonesia setelah Waduk Jatiluhur, dan merupakan Waduk dengan masa pembangunan terlama di Indonesia, atau mungkin di dunia, 53 tahun. Pembangunan waduk ini telah direncanakan sejak zaman Hindia Belanda. Kala itu, Pemerintah Hindia Belanda merencanakan pembangunan tiga waduk di sepanjang aliran Sungai Cimanuk, dan waduk Jatigede merupakan waduk utama dan yang paling besar. Namun, pembangunan ketiga waduk itu mendapatkan tentangan dari masyarakat sekitar, sehingga pembangunannya pun dibatalkan. Baru pada tahun 1990-an, rencana pembangunan waduk Jatigede kembali menghangat.
 
Jalan menuju pintu air bendungan jalan ini masih di tutup
Waduk Jatigede pun memiliki fungsi utama adalah sebagai sarana irigasi dan pembangkit listrik tenaga air. Air yang terkumpul dalam bendungan tersebut digunakan sebagai cadangan air tawar untuk mengairi areal pertanian di wilayah Majalengka, Indramayu, dan Cirebon. Untuk saat ini jaringan irigasi tersebut belum selesai, direncanakan akan selesai pada tahun 2017. Selain berfungsi sebagai sarana irigasi, Waduk Jatigede pun berfungsi sebagai pembangkit listrik tenaga air. Saat ini, di wilayah itu terdapat Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Parakan Kondang. Dengan dibangunnya Waduk Jatigede, kapasitas pembangkit listrik tenaga air tersebut dapat ditingkatkan. Menurut rencana PLTA ini akan siap beroprasi pada tahun 2019, semoga terlaksana dengan lancar.

Perjalanan Menuju Jatigede
Waduk Jatigede ini berada di Kecamatan Jatigede Kabupaten Sumedang. Jika dihitung dari rumah saya maka jaraknya sekitar 87 KM (menurut Google maps) realnya ditambah belok sana belok sini mungkin bisa lebih dari 90 KM. Menurut Google maps juga waktu tempuhnya sekitar 3 jam lebih, mungkin ini agak sedikit benar jalur tercepatnya adalah via Kec Selaawi. Okai let’s go!
 
Perkiraan rute menurut Google Maps
Hari dimulai dengan hujan gerimis-gerimis bagaimana gitu. Ada kekawatiran di hati ini bahwa di Jatigede juga akan mendung gulana. Setelah cari infor sana-sini dan cek perkiraan BMKG didapat informasi bahwa di sana cerah (cek perkiraan BMKG-nya ngarang). Akhirnya saya putuskan untuk melanjutkan perjalanan ini bersama dua orang teman saya. Kami terus melanjutkan perjalanan dengan kondisi cuaca hujan gerimis yang mengundang rindu. Alhamdulillah, ternyata hujan terebut hanya sampai ke di perbatasan Garut-Sumedang saja, ketika masuk ke Sumdang tampak dari langit yang cerah walaupun berawan.

Bendungan ini sangat besar, sudah seperti laut, bahkan dari perbukitan di perbatasan Garut – Sumedang saja sudah terlihat kemegahan waduk ini. Padahal jarak menuju waduk sekitar 25km lagi. Sesampainya di Kabupaten Sumedang kita sempat kebingungan juga, arah mana yang harus diambil untuk menuju pintu utama waduk ini, tapi tidak lama karena kita telah mempercayakan semuanya kepada Google maps, terima kasih Google.  Setelah tanya sana tanya sini termasuk tanya mbah Google juga akhirnya kami sampai di waduk yang megah ini. Foto dulu.

Teman saya yang narsis ingin difoto, kaya di foto di laut, padahal bukan
Medan yang kami tempuh terbilang tidak terlalu sulit, perjalanan sepanjang 87 KM itu (versi Google Maps) ditempuh dengan mudah walaupun dengan keadaan hujan. Hanya beberapa KM saja yang menurut kami sedikit sulit, yaitu saat menuju waduk kondisinya masih jalan tanah dan bebatuan kerikil yang agak sulit dihadapi dengan motor. Jalur ini sudah bisa dilalui oleh semua jenis kendaraan kecuali andong dan kereta api. Untuk kedaraan pribadi (mobil dan motor) bisa melalui jalan kampung melewati perumahan warga yang terbilang mulus, untuk kendaraan besar (truk atau bis) harus melewati jalan Waduk Jatigede yang medannya lebih berat.
 
Jalan menuju waduk yang agak sulit dilalui
Pepohonan yang terggelam masih tampak terlihat
Sesampainya di sana kami diminta untuk membeli tiket masuk dan parkir, berapa ya lupa lagi, kalau gak salah Rp 7.500 per motor deh, gak tahu 15.000 gitu, ah lupa lagi, hehe. Di pos penjagaan ini kita sempat foto-foto dulu. Dari pos tiket ini menuju waduk tidak lama, hanya sekitar 500 M.
Fasilitas yang tersedia di sini masih sangat minim, tidak ada mushola atau mesjid, toilet juga belum tersedia. Maklum waduk ini masih dalam pembangunan. Tapi untuk sekedar menikmati hamparan air yang luas dengan bukit-bukit indah di sekitarnya sudah bisa kita nikmati dengan baik, tapi kita harus hati-hati saja, karena kedalaman air waduknya sangat dalam, jadi usahakan jangan dekat-dekat pinggiran danaunya. Sudah dilaporkan bahwa di sini sudah ada warga yang tenggelam. Untuk shalat kita harus dilakukan di perkampungan warga. Untuk toilet bisa sekalian numpang di toilet mesjid juga. Untuk foto-foto di sini tersedia banyak spot yang menarik, memang sebagian masih dalam pembangunan. Lebih jelasnya bisa teman-teman nikmati dari galeri di bawah ini.

Tanjung Duriat, spot untuk berfoto di Bendungan Jatigede
Teman saya, sejenis tengkorak hidup
Tampak masih dalam pembangunan
Tulisan Bendungan Jatigede yang berdiri megah
Patahan yang manakala, dulu patahan ini menyatu, konon katanya jika patahan ini bergerak akan mengakibatkan bendungan jebol, semoga saja tidak terjadi.


Share This
Previous Post
Next Post

0 komentar: