Kamis, 25 Agustus 2016

Review Novel Rindu - Tere Liye



Rindu adalah salah satu karya Tere Liye penulis yang saat ini lagi nge-hits banget di kalangan para penikmat novel. Memang akhir-akhir ini Tere Liye memberikan judul pada buku-bukunya terbilang abstrak hanya satu kata saja, seperti Pulang, Rindu, dan yang terbaru adalah Hujan. Rindu adalah novel yang akan kita bahas di sini. Dibalut dengan desain cover yang sederhana tapi tampak elegan, novel ini terlihat menawan. Dari cover dan judulnya Anda akan mengira cerita novel ini penuh sendu, mendayu-dayu dan penuh kegalauan. Maaf, sepertinya perkiraan Anda salah.

Novel ini mempunyai latar belakang waktu pada masa pemerintahan Hindia Belanda tentang perjalanan haji lima orang tokoh utama. Tidak ada cerita yang mendayu-dayu di sini. Perjalanan ini dimulai dengan kapal besar bernama Blitar Holland berlabuh di perairan Makasar. Kapal ini bertujuan untuk mengangkut para jemaah haji yang akan berangkat ke Tanah Suci. Dalam keberangkatannya juga kapan ini akan berlabuh juga di Surabaya, Semarang, Batavia, Lampung, Bengkulu, Padang, Aceh hingga terakhir akan menuju Jeddah. Di novel ini latar waktunya tidak disebutkan secara tepat.

Bisa kita bayangkan perjalanan panjang ini, perjalanan haji pada jaman itu jauh berbeda dengan perjalanan haji seperti sekarang. Sekarang jamaah haji menggunakan pesawat terbang menuju tanah suci dalam hitungan jam para jamaah tanah air akan sampai di tanah suci. Di novel ini di ceritakan bagaimana perjuangan para jemaah yang akan berangkat haji dengan kalap laut.  Dalam cerita ini perjalanan haji menggunakan kapal laut yang membutuhkan waktu berbulan-bulan. Butuh biaya, kesiapan mental dan fisik yang kuat untuk melakukan perjalanan. Hampir sepanjang cerita buku ini hanya menceritakan tentang keseharian di kapal Blitar Holand. Walaupun demikian cerita ini tetap menarik untuk disimak.

Seiring berjalan alur cerita, satu per satu para tokoh diperkenalkan. Tokoh yang paling utama diceritakan adalah Daeng Andipati. Dia adalah seorang saudagar terpandang asal Makasar dan juga memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi, menyelesaikan pendidikannya di Belanda. Daeng Andipati begitu karismatik dan baik hati. Daeng Andipati ditemani oleh istri dan kedua anak mereka Ana dan Elsa. Ana dan Elsa merupakan anak yang periang, polos dan menggemaskan, yang membuat cerita ini semakin berwarna.

Tokoh penting yang lain adalah Gurutta atau Ahmad Karaeng. Gurutta adalah seorang ulama mahsyur yang ikut dalam perjalanan ini. Gurutta terlibat hampir di semua peristiwa penting di novel ini. Ia ulama bersahaja, yang rendah hati, dicintai banyak orang karena tinggi budinya. Sikapnya terbuka pada siapa pun. Mau membaur dengan orang-orang yang jauh kapasitas keilmuannya. Bahkan Gurutta akrab dengan orang-orang Belanda di kapal Blitar Holland, duduk satu meja dengan Chef Lars, berbincang santai dengan Ruben si Boatswain, dan melibatkan diri pada urusan-urusan penting selama di kapal bersama Kapten Phillips. Lain dari itu, saya sangat terkesan dengan hubungan Gurutta dengan Anna dan Elsa. Sesuatu yang jarang kita dapati, ulama besar namun begitu memuliakan anak-anak, begitu menghargai keberadaan mereka.

Hadir juga Kapten Philips yang merupakan kapten kapal Blitar Holand. Kapten yang baik hati dan pemimpin yang berwibawa. Hampir semua orang akan tunduk pada kapten Philips. Ada pula Ambo Uleng seorang kelasi pendiam yang tanpa disadari menjadi tokoh penting dalam cerita ini. Dari ambo Uleng kita akan dibawa ke dalam kelamnya kehidupan. Beberapa tokoh yang lain yang ikut berperan adalah Bonda Upe, Rubben si Boatswain, Chiep Lars juga para tentara belanja. Tak kalah menarik adalah pasangan sepuh yang tetap romantis Embah Kakung dan Mbah Putri.

Inti dari cerita ini adalah tentang pertanyaan-pertanyaan yang selalu muncul mungkin bukan hanya dalam benak para tokoh di sini, tapi juga kita sebagai pembaca. Dalam seluruh cerita ada lima buah pertanyaan yang di hadirkan. Pertanyaan tentang masa lalu yang memilukan, tentang kebencian pada seseorang yang harusnya disayangi. Tentang kehilangan kekasih hati. Tentang cinta sejati. Dan terakhir tentang kemunafikan. Pertanyaan ini mungkin akan muncul dengan permasalahan yang sering kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Perlahan pertanyaan-pertanyaan itu di munculkan dalam cerita, dan secara perlahan juga jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu terungkap.

Pada halaman 312, muncul kutipan Cara terbaik menghadapai masa lalu adalah dengan menghadapinya. Berdiri gagah. Mulailah dengan damai meneriam masa lalumu. Buat apa dilawan dilupakan itu sudah menjadi bagian dari hitup kita. Peluk semua kisah itu. Berikan dia tempat terbaik dalam hidupmu. Itudalah cari terbaik mengatasinya. kutipan ini merupakan jawaban dari pertanyaan pertama. Selanjutnya setiap pertanyaan akan terus dijawab seiring bergulirnya cerita. Pengen tahu jawaban-jawabannya? Silahkan baca novelnya, tidak seru lah kalau semua harus di ceritakan di sini, hehe.

Novel Rindu tidak hanya bercerita tentang perjalanan panjang ke menuju Tanah Suci. Tapi juga beragam tragedi, konflik, dan serangkaian peristiwa yang menyertainya. Sesekali juga novel ini menceritakan keadaan kota, dan tempat-tempat masa lampau yang membuat novel ini semakin berbobot. Saat menceritakan kota Surabaya seolah-olah bisa merasakan suasana kota Surabaya zaman lampau, naik trem listriknya. Berjalan-jalan di kota Banten, menyaksikan orang-orang pribumi berbaur dengan orang Belanda. Termasuk merasakan suasana kota Kolombo, berkeliling menaiki kereta sapi. Nuansa islaminya begitu kental di sini, tak heran jika novel ini meraih penghargaan sebagai Best Islamic Book Award 2015.

Penggunaan alur dan gaya bahasa novel ini sangat baik, gaya penulisannya terbilang sederhana sehingga memudahkan kita untuk membacanya. Namun di beberapa bagian, penulis menyuguhkan cerita-cerita lain dalam bentuk dialog, yang berkorelasi pada kisah yang tengah disajikan. Membuat pembaca mengenal secara utuh racikan cerita di novel ini. Novel ini penuh pesan-pesan yang tersurat yang disampaikan secara naratif oleh Gurutta dan tokoh-tokoh yang lain seperti Daeng Adipati, Bunda Upe dll.

Secara keseluruhan cerita novel ini memang bagus, penuh inspirasi dan membangun jiwa. Membuka pandangan kita dalam menyikapi permasalahan yang sering terjadi. Cerita ini akan membawa kita ikut masuk kedalam Kapal Blital Holland. Walaupun kadang narasi yang datar justru membuat saya bosan. Menurut saya butuh kesabaran untuk membacanya. Dalam cerita sering diceritakan tentang kegiatan para kelasi kapal yang kadang justru membuat saya tidak mengerti.
  
Beberapa kutipan menarik dari novel ini:
Sangat menyenagkan sekali jika cinta sejatimu adalah sahabat terbaikmu

Lepaskanlah. Maka besok lusa, jika dia cinta sejatimu, dia pasti akan kembali dengan cara mengagumkan. Ada saja takdir hebat yang tercipta untuk kita. Jika dia tidak kembali, maka sederhana jadinya, itu bukan cinta sejatimu. Hei, kisah-kisah cinta di dalam buku itu, di dongeng-dongeng cinta, atau hikayat orang tua, itu semua ada penulisnya.
Tetapi kisah cinta kau, siapa penulisnya? Allah. Penulisnya adalah pemilik cerita paling sempurna di muka bumi. Tidakkah sedikit saja kau mau meyakini bahwa kisah kau pastilah yang terbaik yang dituliskan.
” 

"Maka ketahuilah Andi, kesalahan itu ibarat halaman kosong. Tiba-tiba ada yang mencoretnya dengan keliru. Kita bisa memaafkannya dengan menghapus tulisan tersebut, baik dengan penghapus biasa, dengan penghapus canggih, atau dengan apapun. Tapi tetap tersisa bekasnya. Tidak akan hilang. Agar semuanya benar-benar bersih, hanya satu jalan keluarnya, bukalah lembaran kertas baru yang benar-benar kosong.Buka lembaran baru, tutup lembaran lama yang pernah tercoret. Jangan diungkit-ungkit lagi. Jangan ada tapi, tapi, dan tapi. Tutup lembaran tidak menyenangkan itu. Apakah mudah melakukannya? Tidak mudah. Tapi jika kau sungguh-sungguh, jika kau berniat teguh, kau pasti bisa melakukannya, Andi. Berjanjilah kau akan menutup lembaran lama itu. Mulai membuka lembaran baru yang benar-benar kosong. Butuh waktu untuk melakukannya. Tapi aku percaya, saat kapal ini tiba di Jeddah, hati kau sudah lapang seperti halaman baru…”

Cara terbaik menghadapi masa lalu adalah dengan dihadapi. Berdiri gagah. Mulailah dengan damai menerima masa lalumu

Peluklah masa lalumu. Dengan kau menerimanya, perlahan-lahan, dia akan memudar sendiri. Disisram oleh waktu, dipoles oleh kenangan baru yang lebih bahagia

Kita tidak perlu menjelaskan panjang lebar  dan membuktikan apa pun kepada siapa pun bahwa kita baik. Jangan merepotkan diri sendiri dengan penilaian orang lain. Pada akhirnya, kita sendiri yang tahu persis apakah kita memang baik atau tidak

Saat kita memutuskan memaafkan seseorang, bukan persoalan orang itu salah dan kita benar. Apakah orang itu jahat atau aniaya. Bukan! Kita memutuskan memaafkan seseorang karena kita berhak atas kedamaian di dalam hati

Judul Buku  : Rindu
Penulis  : Tere Liye
Editor  : Andriyanti
Penerbit  : Republika Penerbit
Jumlah Halaman  : 544 halaman
Tahun Terbit  : Oktober 2014

Share This
Previous Post
Next Post

0 komentar: