Kamis, 21 Juli 2016

Kamera, Lensa dan Fotografer itu Ibarat Mobil, Jalan Raya dan Supir.


Pernahkah teman-teman memoto dengan kamera yang bagus. Ketika hasil fotonya ditunjukan ke teman anda, teman anda justru berkomentar seperti ini. “Ah ini sih karena kamera yang bagus, maka hasilnya juga jadi bagus”.

Pernah? Terus bagaimana perasaan anda?
Mungkin dia tidak tahu bahwa hasil foto tidak melulu ditentukan oleh kualitas kamera. Memang kualitas kamera juga menunjang kualitas foto, tapi faktor yang lain juga ikut berperan yaitu skill sang fotografer. Jika kamera dan lensa berperan pada kualitas gambar foto, maka skill sang fotografer lah yang menentukan keindahan foto itu. Jika seandainya seorang fotografer menggunakan kamera yang tajam dan lensa yang tajam, maka gambar yang dihasilkannya juga akan tajam. Untuk soal komposisi foto, sudut pandang, dan pengaturan kamera agar gambar tersebut bagus maka sang fotografer yang berperan.

Jaman sekarang kualitas kamera sudah sangat baik, bahkan dengan kamera D-SLR pemula saja ditunjang dengan lensa yang bagus sudah bisa menghasilkan foto-foto yang mengagumkan. Di sini skill sang fotografer lah yang berperan. Tapi bukan berarti tanpa perbedaan dengan kamera kelas atas seperti Canon EOS 5D MK-III atau Nikon D810. Para profesional yang dituntut kualitas foto yang bagus, lebih senang menggunakan kamera sekelas itu.

Kita ibaratkan faktor di atas adalah sebuah mobil, jalan raya, dan supir. Mari kita analogikan beberapa kondisinya.

Kamera = Mobil, Lensa = Jalan, Pemakai = Driver
Kita ibaratkan kamera itu sebuah mobil, lensa itu adalah jalan yang di lalui mobil dan pengguna adalah driver mobil tersebut. Untuk berkendara dengan nyaman sekaligus cepat kita tentu saja ketiga faktur tersebut harus menunjang. Idealnya semua faktor di atas bagus, tapi kondisi di lapangan tentu saja berbeda-beda.

Kamera bagus, lensa bagus, pemakainya payah


Ibaratnya sebuah mobil sport car, di pakai di sirkuit kelas dunia, tapi yang makenya adalah orang yang baru belajar memakai mobil. Apa jadinya? Mobil tentu saja bisa di pakai kebut-kebutan, toh jalannya juga bagus. Tentu saja dia bisa berlari lebih cepat jika di bandingkan dengan memakai mobil angkot, tapi kemampuan sport car dan dan kemampuan sircuit nya tidak akan terpakai maksimal. Hasilnya mobil dan jalan terbatas di kemampuan supir

Kamera bagus, lensa bagus, tapi pemakainya biasa saja. Bisa saja sang fotografer menghasilkan foto bagus secara kualitas gambar, misalkan ketajaman gambar, atau matering yang pas. Tapi bagaimanapun skill fotografer juga berbicara di sini. Kamera bagus, lensa bagus tapi anda tidak bisa memakainya, maka hasilnya juga tidak maksimal. Kemampuan kamera dan lensanya tidak akan terpakai sepenuhnya. Tapi hasil foto yang dihasilkannya akan lebih baik jika di bandingkan memakai kamera dan atau lensa yang biasa.

Kamera bagus, lensa biasa saja tapi yang makenya seorang profesional

Seperti seorang pembalap yang memakai sport car, tapi dipakai di jalan raya yang jelek dan berlubang. Tentu saja kemampuan mobil tersebut tidak akan keluar sepenuhnya seperti saat memakainya di sirkuit. Tapi setidaknya supir yang handal akan bisa mengatasi jalan jelek dengan lebih baik jika di banding supir baru belajar. Kemampuan mobil luar biasa tidak akan keluar secara maksimal karena akan terbatas di kemampuan jalan.

Sama halnya dalam fotografi. Kemampuan kamera akan mentok pada kemampuan lensa walaupun yang make kameranya adalah fotografer profesional sekalipun. Hasil fotonya akan bagus, hasil fotonya akan lebih baik jika dipakai oleh seorang yang biasa saja. Hanya saja lebih indah lagi jika memakai lensa yang bagus juga.

Lensa bagus, pemakainya juga pro, tapi kameranya biasa saja

Seorang pembalap profesional, di sebuah sirkuit internasional tapi mobil yang digunakannya hanya mobil angkot. Seluruh kemampuan mobil akan dan sirkuit akan di mampatkan secara maksimal karena yang makenya adalah orang yang paling ahli. Tapi hasilnya akan mentok di kemampuan mobil. Mobil angkot biarpun seorang pembalap yang memakainya dan dipakai di sirkuit balap, tentu saja tidak akan secepat mobil sport.

Bisa saja fotografer menghasilkan foto yang indah dengan lensa dan kamera yang biasa. Tapi tentu saja akan lebih bagus lagi jika fotografer menggunakan lensa dan kamera yang bagus pula.

Selain semua faktor di atas, ada lagi faktor yang tidak kalah penting, yaitu moment. Foto gunung sudah biasa, tapi memoto gunung ketika sunrise mungkin akan lain lagi ceritanya. kadang yang menjadikan memont adalah penting karena tidak setiap moment itu sama, bahkan untuk tempat yang sama. Misalnya sunset di suatu pantai, kadang sunset nya begitu kuning dan indah, kadang juga mendung dan biasa. 

Kita harus menyadari bahwa setiap foto itu berharga, tak peduli apapun merknya dan siapapun yang memotonya. Tugas kita sebagai fotografer yaitu untuk membuat orang lain menghargai fotografi.

Semua ini hanya opini saya saja, jika kurang atau lebih maka silahkan teman-teman bisa tambahin dan koreksi, hehe. Mungkin dengan ini saat kita berbicara tentang hasil foto kita akan lebih menghargai fotografi, sekarang kita tidak bisa sembarangan memberikan komentar. Kita tahu bahwa semua aspek mempengaruhi hasil foto baik itu skill fotografer, kualitas kamera atau pula kualitas lensa juga moment. CMIIW
Share This
Previous Post
Next Post

0 komentar: