Kamis, 24 November 2016

Perkebunan Karet Mira Mare

Sudah bosen kan foto-foto di perkebunan teh? Coba deh berkunjung ke Mira Mare dan berfoto di perkebunan karet yang sangat historis.

Suasana jalan raya Mira Mare.
Tetumbuhan hijau sepanjang jalan.
Ketika melewati perkebunan ini saya merasakan suatu pengalaman yang menyenangkan. Perkebunan Mira Mare adalah area perkebunan karet yang sangat luas. Sepanjang jalan saya disuguhi panorama yang sangat indah. Saya merasa berada di suatu tempat yang entah lah... yang saya rasa memang berkesan sekali.

Jalan Raya cenderung serpi.
Baca Juga :

Jalan raya Mira Mare sangat sepi, jika mau kalian bisa menggeber kendaraan kalian hingga kecepatan maksimum. Tapi sebaiknya sambil bersantai saja, agar kita bisa menikmati setiap meter keindahan di perkebunan Mira mare.

Pohon karet Mira Mare.
Serem banget ya pohonnya, kaya di film Harry Potter. haha
Perkebunan Mira Mare didirikan pada tanggal 23 Agustus 1915 oleh pemerintah Belanda. Kemudian setelah kemerdekaan perkebunan ini di ambil alih oleh pemerintah Indonesia kemudian namanya kembali diubah menjadi perkebunan Mira Mare. Mira mare terletak di kecamatan Cibalong yang berbatasan langsung dengan Leweung Sancang dan Cipatujah Tasikmalaya. Perkebunan Mira Mare merupakan wilayah unit kerja dari PT. Perkebunan Nusantara VIII.


Perkebunan Karet Mira Mare.
Mira Mare diambil dari bahasa belanda yang mempunyai arti tanah landai di pesisir pantai. Perkebunan karet Mira Mare merupakan salah satu penghasil karet terbesar di Indonesia. Perkebunan karet ini sangat historis menjadi saksi peralihan dari pemerintah Belanda sampai saat ini. Tak heran banyak bangunan-bangunan dengan bentuk yang sudah kuno di sini. Salah satunya adalah kantor pusat perkebunan Mira Mare.


Kantor Pusat Perkebunan Mira Mare


Baca juga : 

Senin, 21 November 2016

Magic Hour di Pantai Sayang Heulang

Magic Hour Pantai Sayang Heulang.
‘Magic Hour’ atau ‘Golden Hour’ dalam fotografi adalah sahabat terbaik bagi seorang fotografer outdor. Fotografer profesional menyebut ‘Golden Hour’ sebagai momen dengan kondisi pencahayaan terbaik di hari itu. Golden Hour ini terjadi sesaat sebelum atau sesudah matahari terbit atau tenggelam. Singkat kata, waktunya terbatas.

Mencari Golden Hour di saat musim hujan seperti memang agak sedikit susah. Seharian bisa hujan dan awan tebal menutupi cahaya matahari. Tapi namanya susah bukan berarti tidak mungkin. Kita hanya perlu persiapan yang matang untuk itu.

Menikmati Golden Hour di bawah jembatan Santolo.
Tujuan saya adalah pantai Sayang Heulang, 80 KM dari rumah. Sebenarnya ini bukan kali pertama saya ke sini tapi tetap sayang sekali kan kalau pas tiba di sana dan hujan. Dari situ saya perlu banyak perhitungan yang harus disiapkan. Seperti perkiraan cuaca, pasang surut air laut dan posisi matahari tenggelam. Beneran, saya tiba-tiba sangat peduli sama ramalan cuaca BMKG karena gak ingin perjalanan jauh saya jadi sia-sia.

Saya putuskan untuk berangkat hari Sabtu, kenapa? Karena hari Senin-Jumat saya kerja, dan hari minggu sebagai hari cadangan jika kalau tidak dapat ‘golden hour’ di hari Sabtu. Alhamdulillah ternyata perjalanan panjang saya benar-benar tidak sia-sia, saya mendapatkannya di hari Sabtu.

Saya tiba di Sayang Heulang sekitar pukul 11 siang. Waktu yang sangat panjang untuk menunggu ‘sunset’. Perkiraan sunset adalah sekitar 17.48. dan saya seorang diri di pantai ini, orang lain ada hanya saya tidak kenal, hehe.

Ini semua di sebabkan karena teman-teman saya, para bedebah dari Bandung yang punya inisiatif acara ini malah tidak jadi ikut, kurang asem memang. Mungkin mereka lagi sibuk moto semut atau ulat di belahan dunia sebelah sana. Hasilnya saya luntang-lantung seorang diri.  Karena waktu masih panjang jadi saya putuskan untuk jalan-jalan dulu ke Mira Mare dan Leweung Sancang, bahkan Cipatujah, haha (Lain kali saya ceritakan bagian yang ini).

Sebenarnya saya ingin terus jauh menuju lepas pantai, tapi takut tiba-tiba pasang. haha
Saya tiba kembali di Sayang Heulang sekitar pukul 4 sore. Saya sempat khawatir karena cuaca yang berawan tebal, matahari pun tidak terlalu terlihat di sini. Saya tidak tahu letak pasti di mana matahari akan tenggelam. Terima kasih, berkat bantuan aplikasi Sky Maps di Android saya bisa mencari letak di mana posisi matahari akan tenggelam. Waktu menjelang sunset pun mataharinya masih tidak kelihatan, saya mulai khawatir. Apa akan terjadi golden hour atau tidak.

Awan tebal menutupi Matahari
Semua berubah ketika matahari mulai tenggelam, golden hour dimulai. Mataharinya tidak kelihatan. tapi cahaya kekuningannya memancar hampir ke semua penjuru langit. Sungguh luar biasa melihat langit berwarna jingga biru keunguan. Golden hour ini berlangsung cukup lama, saya bisa berpindah-pindah tempat mencari sudut yang tepat. Alhamdulillah perjalanan epik saya tidak sia-sia.
Nah itulah sedikit cerita dan foto-foto favorit saya, selamat menikmati.

Saking senengnya saya jadi lupa saya juga bawa filter. akhirnya di saat-saat terakhir saya kemudian memakai filter untuk membuat air lautnya menjadi kabut.
Ini adalah foto tanpa filter.
Dan ini adalah Sayang Heulang tanpa Golden Hour.
Baca Juga :

Penomena Air Laut Mengalir Ke Sungai Di Sayang Heulang dan Santolo

Air Laut Yang mengalir ke muara sungai.
Umumnya di pantai yang lain di belahan dunia mana pun air sungai yang mengalir ke laut, tapi di Sayang Heulang dan Santolo justru terjadi sebaliknya. Air lautlah yang mengali ke sungai. Konon katanya penomena ini hanya terjadi di dua tempat satu di sebuah pantai di Prancis dan satu lagi di muara sungai Cilauteureun yaitu di pantai Santolo dan Sayang Heulang, kenapa bisa? Tenang. Sebenarnya ini bisa di jelaskan secara ilmiah.

Laut dangkal Sayang Heulang.
Menurut analisa ilmiah ngawur saya seperti ini. Pantai Santolo dan Sayang Heulang letaknya berada bersebelahan hanya dipisahkan oleh muara sungai Cilauteuren. Muara sungai Cilauteureun alirannya sangat tenang sehingga seolah-olah air sungainya tidak mengalir. Itu sebabnya disebut Cilauteureun (air berhenti). Tapi muara sungai ini cukup dalam, dan kedalamannya melebihi kedalaman pantai Santolo dan Sayang Heulang. Sehingga dengan gusuran ombak di pantai Santolo, membuat air laut seolah-olah mengalir ke muara sungai. Memang jika di pantai Santolo penomena ini tidak terlalu terlihat pada waktu-waktu tertentu. Tapi jika di pantai Sayang Heulang ini sangat jelas terlihat. Lihat foto di atas.

Muara Sungai Cilautteureun.
Menurut analisa ngawur saya juga ini bisa dijelaskan seperti ini. Pantai Sayang Heulang adalah pantai dengan hamparan batuan karang yang menghampar seperti lantai. Jika laut sedang pasang akan  membentuk kolam laut dangkal. Tinggi hamparan karang ini melebihi tinggi dasar sungai Cilauteureun.

Ketika air laut pasang penuh, seluruh pantai Sayang Heulang akan tertutupi oleh air laut. Termasuk kolam laut ini. Ketika laut surut, air laut justru terjebak di hamparan karang ini. Maka otomatis permukaan karang yang lebih tinggi dari muara sungai mengalirkan air laut ke muara sungai.

Air laut mengalir ke muara sungai
Begitulah analisa ilmiah dengan metode mengira-ngira ala adrasablog. Jika kalian ingin menyaksikan sendiri penomena ini, silahkan kunjungi pantai Santolo atau Sayang Heulang.


Baca juga : 

Rabu, 09 November 2016

Review Novel Milea Suara Dari Dilan - Pidi Baiq



Perpisahan adalah upacara menyambut hari-hari penuh rindu. Begitulah secara garis besar novel ini digambarkan.

Buku ini hadir untuk melengkapi trilogi kisah asmara Milea dan Dilan. Buku Dilan Dia Adalah Dilanku 1990 dan Dilan Dia adalah Dilanku 1991 (saya sebut buku pertama dan kedua). Jika belum membaca buku yang pertama dan kedua, saya sarankan untuk membacanya terlebih dahulu.

Novel ini masih berkisah tentang cerita asmara antara Dilan dan Milea. Jika pada dua buku sebelumnya diceritakan dari sudut pandang Milea, maka pada buku ini diceritakan dari sudut pandang Dilan. Menurut saya buku ini memang wajib dibaca. Pidi Baiq menuliskan dengan baik baik cerita ini. Banyak hal yang diceritakan oleh Milea pada dua buku sebelumnya. Di sini Dilan menceritakan dalam sudut pandangnya. Menceritakan apa yang kurang dari cerita Milea, melengkapi bahkan mengoreksi.

Yang paling membuat penasaran adalah bagaimana kehidupan Dilan setelah putus dari Milea. Di buku ke satu dan kedua hanya sedikit sekali dibahas. Di buku ini, Dilan banyak bercerita tentang kehidupannya setelah putus dengan Milea.

Jujur saja, saya sedikit bosan ketika membaca buku yang kedua, saya rasa Dilan di buku yang kedua itu sangat menyebalkan dengan sikap egois, dan keras kepalanya. Ketika membaca buku ini, justru saya salah menilai Dilan. Ternyata Dilan di buku yang ke dua, tidak se menyebalkan itu. Banyak hal yang melatarbelakangi Dilan berbuat kebodohan yang diceritakan Milea di buku yang kedua. Lewat penuturan yang lugas Dilan dibuku ini saya jadi paham apa yang dipikirkan Dilan pada masa-masa itu.

Misalnya kejadian yang menewaskan Akew hingga Dilan masuk penjara. Dilan menuliskan dengan baik kronologi kejadian itu yang sebenarnya dari sudut pandang Dilan sehingga apa yang dulu menjadi pemikiran Milea di buku kedua, bisa dijelaskan dengan baik dalam sudut pandang Dilan.
Buku ini memang membuat gemas. Gemas pada akhirnya takdir mereka tidak pernah bisa bersama. Mereka berdua sama-sama punya perasaan, sama-sama masih cinta, tapi rasa gengsi dan banyak praduga yang salah akhirnya membuat takdir mereka berbeda.  Seandainya salah satu di antara mereka bisa menurunkan ego dan gengsinya mungkin akhir kisah ini akan berbeda. Kisahnya ini sedikit mengingatkan pada kisah Takaki dan Akari dalam film 5 Centimeters Per Second karya Makoto Singkai. Hanya saja film 5 Centimeters Per Second 1000 kali lebih menyakitkan.

Dari kisah Dilan ini kita bisa mengambil banyak hikmah. Milea dan Dilan adalah korban prasangka dan gengsi masing-masing. Ketika mereka saling tahu tetapi semuanya sudah terlambat. Milea menyangka Dilan telah berpacaran dengan orang lain. Dilan juga menyangka Milea telah berpacaran dengan orang lain.

Seperti kata Remy More di halaman 322:

Sedangkan cewek itu, punya rasa malu mau nyatain duluan. Jadinya gitu deh, kamu sama Lia itu istilahnya dulu itu jadi pada nahan diri gitu. Kasarnya mah, jadi pada munafik. Kamu gengsi nelepon Lia karena nyangka dianya udah punya pacar Lia ya gitu deh. Cewek itu cuma bisa nunggu, Dilan.

Kalau kata kang Ibay Setelah baca Milea, terima kasih ayah, sudah membantu kami menyadarkan para wanita, bahwa kami (pria) memang seperti itu, dalam berfikir, bertindak dan mengambil keputusan. Jangan melulu pria harus menebak-nebak maksud. Kalau novel Dia adalah Dilanku disebut buku taktik menguasai wanita, maka Milea Suara dari Dilan adalah buku taktik menguasai pria.

Begitulah sedikit review saya tentang novel Milea ini. Yang penasaran silahkan beli bukunya di toko buku kesayangan pemiliknya.