Rabu, 09 November 2016

Review Novel Milea Suara Dari Dilan - Pidi Baiq



Perpisahan adalah upacara menyambut hari-hari penuh rindu. Begitulah secara garis besar novel ini digambarkan.

Buku ini hadir untuk melengkapi trilogi kisah asmara Milea dan Dilan. Buku Dilan Dia Adalah Dilanku 1990 dan Dilan Dia adalah Dilanku 1991 (saya sebut buku pertama dan kedua). Jika belum membaca buku yang pertama dan kedua, saya sarankan untuk membacanya terlebih dahulu.

Novel ini masih berkisah tentang cerita asmara antara Dilan dan Milea. Jika pada dua buku sebelumnya diceritakan dari sudut pandang Milea, maka pada buku ini diceritakan dari sudut pandang Dilan. Menurut saya buku ini memang wajib dibaca. Pidi Baiq menuliskan dengan baik baik cerita ini. Banyak hal yang diceritakan oleh Milea pada dua buku sebelumnya. Di sini Dilan menceritakan dalam sudut pandangnya. Menceritakan apa yang kurang dari cerita Milea, melengkapi bahkan mengoreksi.

Yang paling membuat penasaran adalah bagaimana kehidupan Dilan setelah putus dari Milea. Di buku ke satu dan kedua hanya sedikit sekali dibahas. Di buku ini, Dilan banyak bercerita tentang kehidupannya setelah putus dengan Milea.

Jujur saja, saya sedikit bosan ketika membaca buku yang kedua, saya rasa Dilan di buku yang kedua itu sangat menyebalkan dengan sikap egois, dan keras kepalanya. Ketika membaca buku ini, justru saya salah menilai Dilan. Ternyata Dilan di buku yang ke dua, tidak se menyebalkan itu. Banyak hal yang melatarbelakangi Dilan berbuat kebodohan yang diceritakan Milea di buku yang kedua. Lewat penuturan yang lugas Dilan dibuku ini saya jadi paham apa yang dipikirkan Dilan pada masa-masa itu.

Misalnya kejadian yang menewaskan Akew hingga Dilan masuk penjara. Dilan menuliskan dengan baik kronologi kejadian itu yang sebenarnya dari sudut pandang Dilan sehingga apa yang dulu menjadi pemikiran Milea di buku kedua, bisa dijelaskan dengan baik dalam sudut pandang Dilan.
Buku ini memang membuat gemas. Gemas pada akhirnya takdir mereka tidak pernah bisa bersama. Mereka berdua sama-sama punya perasaan, sama-sama masih cinta, tapi rasa gengsi dan banyak praduga yang salah akhirnya membuat takdir mereka berbeda.  Seandainya salah satu di antara mereka bisa menurunkan ego dan gengsinya mungkin akhir kisah ini akan berbeda. Kisahnya ini sedikit mengingatkan pada kisah Takaki dan Akari dalam film 5 Centimeters Per Second karya Makoto Singkai. Hanya saja film 5 Centimeters Per Second 1000 kali lebih menyakitkan.

Dari kisah Dilan ini kita bisa mengambil banyak hikmah. Milea dan Dilan adalah korban prasangka dan gengsi masing-masing. Ketika mereka saling tahu tetapi semuanya sudah terlambat. Milea menyangka Dilan telah berpacaran dengan orang lain. Dilan juga menyangka Milea telah berpacaran dengan orang lain.

Seperti kata Remy More di halaman 322:

Sedangkan cewek itu, punya rasa malu mau nyatain duluan. Jadinya gitu deh, kamu sama Lia itu istilahnya dulu itu jadi pada nahan diri gitu. Kasarnya mah, jadi pada munafik. Kamu gengsi nelepon Lia karena nyangka dianya udah punya pacar Lia ya gitu deh. Cewek itu cuma bisa nunggu, Dilan.

Kalau kata kang Ibay Setelah baca Milea, terima kasih ayah, sudah membantu kami menyadarkan para wanita, bahwa kami (pria) memang seperti itu, dalam berfikir, bertindak dan mengambil keputusan. Jangan melulu pria harus menebak-nebak maksud. Kalau novel Dia adalah Dilanku disebut buku taktik menguasai wanita, maka Milea Suara dari Dilan adalah buku taktik menguasai pria.

Begitulah sedikit review saya tentang novel Milea ini. Yang penasaran silahkan beli bukunya di toko buku kesayangan pemiliknya.
Share This
Previous Post
Next Post

0 komentar: