Selasa, 05 Desember 2017

Kolam Air Panas, Pemandian Sukasono, Pasir Jengkol, Desa Sukasono Kec Sukawening. Pemandian Air Panas Baru di Garut

Kolam Air Panas Baru.
Garut sudah sangat terkenal dengan sumber air panas Cipanas di kaki Gunung Guntur. Ataupula Air panas Darajat di Pasirwangi. Sekarang Garut juga punya sumber air panas yang lain yang gak kalah asyik.

Tempat ini sepertinya belum memiliki nama resmi, tidak ada plang ataupun tanda yang lainnya yang menunjukan nama resmi kolam renang ini. Oleh warga setempat kolam renang ini dikenal dengan nama Cikarees. Ada pula yang menyebutnya Sumur Cipanas, Cipanas Sukasono. Atau Pemandian Sukasono.

Tempat ini berada di Kampung Tegal Nyanda Desa Sukasono, Kec Sukawening. Bagi sebagian lagi dikenal juga dengan daerah Pasir Jengkol.

Kolam untuk anak kecil.
Sempat menjadi pertanyaan besar, kenapa tempat yang cukup jauh dari gunung berapi bisa menghasilkan sumber air panas. Kolam renang Cikarees ini berada di area pesawahan, deket juga dengan gunung, tapi bukan gunung berapi. Gunung Berapi terdekat adalah Gunung Talaga Bodas, dan itu jaraknya sekitar 20 KM dari sini. Tapi itulah kekuasaan Allah.

Jalur menuju tempat
Tempat ini cukup mudah dijangkau. Berjarak sekitar 30-40 menit dari pusat kota Garut. Dari Garut Kota terus menuju ke Wanaraja. Di pertigaan Pangatikan-Cihuni, terus belok kiri menuju Cibatu. Ikuti terus jalan hingga sampai di Pasir jengkol. Di Pasir Jengkol ini ada perempatan jalan, kira-kira 200 M setelah Alphamart Pasir Jengkol. Dari perempatan ini belok kanan menuju Desa Sukasono, dari sini sudah dekat. Ikuti jalan hingga mentok di pertigaan. Di pertigaan ini ada pangkalan ojek. Berbelok lah ke arah kiri. Terus hingga sampai di kolam renang.

Jika dari Bandung, akan lebih dekat jika via Limbangan, karena tidak perlu memutar lebih dahulu ke Garut Kota. Dari Pertigaan Nagreg, pilih jalur ke kiri menuju Tasyikmalaya. Sesampainya Limbangan, nanti berbelok menuju Cibatu. Dari Cibatu diteruskan perjalanan menuju Sukawening. Sampai daerah Pasir Jengkol ada perembatan. Maka tinggal belok kiri saja.

Kolam Besar.
Di tempat ini ada tiga buah kolam. Dua buah kolam renang dan satu buah kolam ikan yang besar. Untuk dewasa kedalaman kolamnya tidak terlalu dalam, hanya sekitar 1- 1,5 M. Jika anda tidak bisa berenang, tenang ada kolam renang yang cetek untuk anak kecil, kedalamannya hanya kurang dari setengah meter saja.

Area sekitar kolam.
Sementara itu kolam ikan tidak bisa kalian pakai untuk berenang ya. Di tengah kolam ikan juga ada pondasi bangunan yang belum beres. Area sekitar kolam juga sangat asri, dikelilingi pepohohan yang rindang dan juga hamparan sawah yang luas. Cocok untuk piknik keluarga.

Area sekitar kolam.
Tiket Masuk
Harga tiket masuk yang ditawarkan juga murah meriah. Rp 10.000,- untuk dewasa dan Rp 6.000 untuk anak-anak. Ini belum termasuk tiket parkir ya. Untuk tiket parkir motor cukup dengan Rp 2.000,- saja. Untuk mobil, ah saya lupa tidak nanyain.

Selain kolam renang di sini juga disediakan fasilitas untuk kamar bilas dan toilet. Hanya saya rasa kamar bilasnya kurang banyak. Hanya ada 2 untuk wanita dan 2 untuk pria. Saya datang ketika cukup ramai pengunjung, saya harus ngantri sektiar 15 menit. Saran saya datang ke tempat ini harus sudah siap dengan setelan renang, jadi kalian tidak perlu repot-repot masuk kamar basuh untuk ganti kostum.

Pepohonan rindang Sekitar kolam.
Selain kolamn air panas ini, ada juga sumber air panas yang lain, yaitu Pancuran SS Sagaranten. Konon tanah ini adalah peninggalan dari pemerintahan Belanda. Yang kemudian di ambil alih oleh PJ KA (Sekarang PT KAI). Uniknya di sini ada tiga buah pancuran di mana setiap pancuran memiliki suhu yang berbeda. Pancuran pertama dingin, kedua hangat dan yang ketiga panas. Keren ya, udah kaya dispenser saja.


  • Lokasi pancuran SS Sagaranten ini tidak jauh dari Sukasono. Hanya sekitar 5 menit menggunakan motor. Bagi warga di sini juga Pancuran ini juga dikenal akan khasiatnya dalam menyembuhkan bebagai penyakit. 

Sabtu, 25 November 2017

Bukit Jalupang, Melihat keindahan Situ Bagendit dari atas bukit


Jalupang Hill. 
Orang Garut tentunya sudah terlalu biasa melihat pemandangan situ Bagendit. Tapi kali ini kita melihat dari atas bukit. Sebenernya saya tidak tahu nama tempat ini, tapi menurut akun Instagram @bagenditlake bukit ini bernama Jalupang Hill, atau Bukit Jalupang.

Situ Bagendit dilihat dari atas bukit Jalupang.
Bukit Jalupang ini berada tepat dibelakang Situ Bagendit. Berada di ketinggian yang cukup untuk melihat seluruh keindahan Situ Bagendit. Bukit ini tidak terlalu tinggi bahkan dari jalan raya juga sudah terlihat. Bukit ini juga mudah dicapai.

Pemandangan Situ Bagendit dari atas bukit.
Bukit ini berada di jalan Sukamukti. Jika dari arah Garut, dari pertigaan Sukasenang, kita tinggal berbelok ke kiri, ke arah jalan yang banyak pohon Palm. Ikuti terus jalan ini hingga sampai tepat di belakang Situ Bagendit. Terus ikuti jalan, sampai menemukan sebuah bangunan yang mirip gudang berada di sebelah kiri. Bukit Jalupang berada tepat di atasnya. Dari sini kita hanya tinggal mendaki saja.
Pemandangan dari atas bukit.
Jika dari arah Bayuresmi, bebelum pasar banyuresmi kita akan menemukan sebuah gapura menuju jalan suka mukti. Dari sini terus saja ikuti jalan hingga sampai di gudang yang tadi.

Setelah sampai kita bisa menikmati pemandangan Situ Bagendit dan pesawahan disekitarnya yang luar biasa.

Selasa, 24 Oktober 2017

Curug Ciarjuna, Surga Tersembunyi Di tanah Pandawa

Curug Ciarjuna.
Curug ini dinamakan Curug Ciarjuna (Iya, Arjuna sang Pandawa Lima) dan berada di desa Panawa. Mungkin kah Panawa ini bahasa lain dari kata Pandawa? Ini mengacu pada dialek orang sunda yang kadang menghilangkan ejahan ‘d’ setelah ejahan ‘n’. Contoh katanya adalah ‘sendok’ yang kadang sering disebut ‘senok’. Atau kata ‘sendal’ menjadi ‘senal’. Dan ‘Pandawa’ menjadi ‘Panawa’, betul kan? Saya tidak sempat mencari tahu asal usul desa Panawa dan Curug Ciarjuna. Maklum capek di jalan.

Desa Panawa, letaknya sangat terpencil, jauh dari kota sangat sulit dijangkau. Desa ini berada di kaki Gunung Papandayan dan berbatasan langsung dengan Pangalengan. Untuk sampai di sini diharuskan untuk melewati hutan dan perkebunan teh yang sangat luas. Tapi di desa ini menyimpan surga yang keindahannya tak tertandingi. Salah satu keindahan itu dan yang sedang ngehits akhir-akhir ini adalah Curug Ciarjuna.

Curug Ciarjuna dari bawah.
Curug ini berada di Cikopo, Desa Panawa, Kec Pamulihan. Curug ini memang belum se terkenal Curug Sanghiyang Taraje yang sudah lebih dulu ngehits. Curug Ciarjuna ini mudah ditemukan tapi susah di jangkau. Curug ini juga relatif sangat jarang dikunjungi karena memang susah untuk dijangkau. Tapi keindahannya sungguh mengagumkan. Percayalah jerih payah untuk sampai di sini terbayar sudah ketika sampai di curug ini. Jujur saja, ini adalah petualangan paling epik yang pernah saya hadapi sejauh ini.

Area Curug Ciarjuna.
Ada dua jalur untuk bisa sampai di tempat ini. Pertama, jalur jahanam via perkebunan teh Papandayan, Sumadra. Kedua menggunakan jalur yang tidak kalah jahanam via Desa Pakenjeng, Kec. Pamulihan. Saya sendiri menggunakan kedua jalur ini. Ketika berangkat menggunakan jalur Pakenjeng, dan Pulang Via Perkebunan teh Papandayan, Sumadra.

Jika menggunakan jalur Sumadra, jaraknya hanya 48 KM dari Garut Kota. Jika menggunakan jalur Pakenjeng menjadi sedikit memutar menjadi sekitar 65KM. 

Melalui jalur Desa Pakenjeng, Pamulihan
Jika menggunakan Jalur Desa Pakenjeng, jalurnya berupa tanah merah yang akan sangat licin ketika musim hujan. Sangat tidak disarankan jalur ini ketika musim hujan. Tapi jika musim kemarau jalur ini lebih mudah dilalui dari pada jalur Sumadra yang sangat jahanam yang berupa batu koral dan aspal yang nyaris habis tergerus air.

Jika memakai motor, di musim kemarau lebih di sarankan untuk memakai jalur Pakenjeng karena jalur ini belum bisa di lalui mobil. Tapi pastikan dulu motor kalian dalam kondisi prima. Dan untuk motor matic, sebaiknya jangan cari masalah, hehe.

Ketika berangkat, saya menggunakan jalur ini dan hampir saja menyerah di tengah jalan dan kembali pulang. Yaitu ketika berada di tengah hutan dengan kondisi jalan tanjakan yang sangat licin. Di dorong pun motor saya masih susah bergerak. Kurang lebih 30-40 menit berada di hutan bersusah payah membawa motor dengan kondisi jalan tanah yang licin. Saya membulatkan tekad karena jika menyerah di tengah jalan saya tidak akan mendapatkan apa-apa selain capek.

Jarak dari desa Garumukti menuju curug dengan kondisi jalan tanah merah. Saya tidak sempat moto kondisi jalan jalur ini, karena waktu itu sedang berjibaku ngadodorong motor.
Ketika sampai di Desa Pakenjeng, Kecamatan Pamulihan, di pertigaan menuju Curug Sanghiyang Taraje berbelok lah ke kenan dan terus ikuti jalan. Kondisi jalannya di sini masih mulus. Terus ikuti hingga melewati jembatan dan pos penjaga, setelah itu ada tanjakan yang panjang banget sampai ke Desa Gurumukti. Jalanan aspal hanya sampai desa Garumukti, setelah itu kita akan masuk ke dalam kebun dan hutan, jalan akan berubah dari aspal mulus ke beton yang cuma setapak. Sudah pasti mobil tidak bisa masuk jalur ini. Jaringan seluler 4G/3G cuma sampai di sini. Selebihnya kalian akan kesusahan mencari sinyal. Dari sini menuju curug sekitar 11 KM lagi (menurut perkiraan Google Map).
Ikuti terus. Sering lah bertanya ke warga sekitar tanyakan ke mana arah desa Panawa. Karena biasanya ada beberapa warga yang sedang mencari kayu bakar. Setelah habis jalan beton, kita akan dihadapkan pada kondisi jalan tanah merah. Tanjakan yang curam yang kadang mengharuskan mendorong motor. Dengan jalur ini waktu tempuh sekitar 1 jam dari Desa Pekenjeng.

Jalur Sumadra
Lain cerita jika menggunakan jalur Sumadra. Walaupun jarak tempuh lebih dekat tapi waktu tempuh lebih lama karena kondisi jalan berupa batuan koral. Atau dalam bahasa kerennya; walungan saat.

Selepas Curug Orok, ada pertigaan menuju perkebunan Teh Papandayan. Kita belok kanan dan ikuti terus jalan. Banyak-banyaklah bertanya ke pada warga. Jika menggunakan jalur ini, kita juga bisa memakai mobil, karena lebar jalan yang cukup untuk mobil. Tapi jangan bawa mobil sedan ya, jangan cari masalah pokoknya.

Kondisi jalan melewati lajur Sumadra.
Jika menggunakan jalur Sumadra, di tengah jalan kita kan menemukan curug yang lain. Oleh warga sekitar menyebut curug ini curug panjang atau curug Ciherang. Saya tidak sempat berfoto di Curug ini.

Setelah melewati perkebunan teh dan hutan belantara, perjalanan mengelilingi kaki Gunung Papandayan kita akan sampai di Desa Pawana. Jika kira-kira menggunakan jalur ini adalah sekitar satu jam setengah. Relatif lebih lama dari jalur Pakenjeng.

Awalnya saya tidak percaya setelah melewati hutan belantara seperti ini, di sana ada peradababan, sebuah desa bernama Panawa. Dan menyimpan surga bernama Curug Ciarjuna.

Percayalah, di sini juga ada sekolah, SMPN 2 Pamulihan.
Ketika pulang saya menggunakan jalur ini, dan saya rasa tidak lebih baik dari jalur desa Pakenjeng. Jarak tempuh dari desa Panawa ke Sumadra sekitar 15 KM, tapi ditempuh dengan waktu hampir 2 jam. Luar biasa kan.

Sampai di Desa Panawa
Ketika sampai di desa Panawa, di pos pertama PLTMH ada pertigaan kita berbelok kiri, ikuti jalur sungai menuju PLTMH. Dari sini kita sudah dekat dengan Curug. Waktu saya ke Curug ini, belum dikenakan tiket, cuma mengisi buku kunjungan di pos penjaga. Saya juga tidak dijinkan untuk membawa kendaraan hingga ke curug (Walaupun sebenarnya bisa.) Kendaraan hanya bisa disimpan di area sebelum masuk Rumah Pembangkit PLTMH. Yaitu di dekat pipa raksasa PLTMH. Dari sini harus jalan kaki turun ke bawah sekitar 300 atau 400 meter. Lumayan tuh, pulangnya cape banget, nanjak!!!.
Dari sini sudah dekat dengan Curug tinggal belok kiri.
Pipa raksasa untuk mengalirkan air ke rumah pembangkit, kendaraan cuma sampai di sini.
Rumah Pembangkit PLTMH Cikopo. Curug Ciarjuna berada di sebeolah kiri.
Curug Ciarjuna berada dekat dengan rumah pembangkit PLTMH. Yaitu berada di sebelah kiri. Ketika sampai di curug, jujur saja, saya masih tidak percaya bisa sampai di curug ini. Rasanya seperti mimpi. Saya langsung menikmati keindahannya. Jerih payah terbayar sudah. Di sini ada beberapa curug di mana curug utama dengan debit ari paling besar dan paling tinggi berada di kanan. Area curug sangat luas, kita bisa bermain, berfoto atau kalau mau prewed aja sekalian. Untuk fasiltas juga belum tersedia fasilitas wisata lengkap seperti curug Orok. Untuk sholat kita bisa lakukan di mesjid di perkampungan warga.

Curug utama Ciarjuna, paling besar, paling tinggi dan paling megah.
Sebenarnya di sini juga ada curug yang lain, berada bersebelahan dengan Curug Ciarjuna. Yaitu Curug Angkeub, ada yang bilang Curug ini adalah Curug Cibatarua. Jika Ciarjuna berada di sebelah kiri rumah pembangkit, nah curug ini berada ke sebalah kanan. Sebenarnya saya juga tidak sempat ke curug ini. Kelupaan, maklum saking senengnya bisa sampai di curug Ciarjuna. Tapi jika kalian sampai di sini, wajib kunjungi juga.

Curug Cibatarua atau Curug Angkeub. (sumber foto: instagram @ekagartiwa)
Curug Angkeub atau Curug Cibatarua (sumber foto: Instagram @dikikie )
Pulangnya, bersiaplah untuk menghadapi jalan kaki dan nanjak hingga sampai tempat menyimpan kendaraan. Dan perjuangan kalian belum berakhir ya, karena jalan pulang sama melelahkannya dengan ketika datang. Ketika nyampai rumah, jangan lupa beli jamu pegal linu ya.

Pulang dari curug, jalan kaki, nanjak broh!!

Sabtu, 14 Oktober 2017

Pengalaman membeli buku POD di Gramedia.com

Jika kamu sedang mencari buku langka yang sudah tidak tersedia di toko-toko buku. Sudah nyari di toko buku online pun tetep tidak ada hasilnya. Tidak usah khawatir, sekarang ada Gramedia Print on demand.

POD atau Print on Demand adalah fitur terbaru dari Gramedia.com. Di mana buku-buku yang telah habis stock kamu masih bisa memesannya. Bagi para pecinta buku yang mencari buku-buku spesial untuk dicetak ulang. Gramedia akan mencetak langsung buku itu khusus untuk kamu. Tapi fitur ini khusus untuk buku-buku yang diterbitkan oleh penerbit Gramedia. Harga buku POD biasanya lebih mahal karena ongkos cetaknya lebih tinggi dibanding ongkos cetak offset.

Wuthuring Heights Karya Emily Bronte yang saya pesan dengan Gramedia POD.
Gramedia mengklaim Buku yang dicetak dengan print on demand mirip dengan buku aslinya baik dari segi ukuran maupun isi. Kover buku dicetak berwarna di atas kertas Art Carton 230 gsm + Laminating gloss 4/0 (No emboss, spot UV, Hotprint). Kertas isi menggunakan HVS 70gsm/Bookpaper 55gsm dicetak hitam putih. Tidak ada tambahan poster/CD/Stiker/Pembatas buku atau sisipan lainnya. 

Sistem POD ini berbeda dengan percetakan skala besar menggunakan cetak offset. Jika cetak offset minimal mencetak 1000 buku. Buku cetak offset lebih murah karena percetakannya sekala besar.

Lain halnya dengan POD. POD menggunakan sistem digital printing yang lebih mudah. Sehingga Gramedia bisa melayani cetak buku walaupun cuma 1 buah saja. Tapi ongkosnya dibayar lebih mahal tentunya.

Syarat dan Ketentuan Pembelian Produk POD di Gramedia.com

  1. Pembeli memilih produk POD saat beberbelanja di Gramedia.com
  2. Setelah dibayar lunas, pihak Gramedia memproses buku POD pesanan pembeli.
  3. Lama produksi buku POD berkisar antara 3 s/d 5 hari kerja.
  4. Gramedia akan mengirimkan produk buku POD setelah buku selesai dicetak.
  5. Dalam kondisi normal, pembeli akan menerima buku POD dalam waktu 7 hari terhitung dari konfirmasi pembayaran oleh pembeli.
  6. Pembeli tidak bisa melakukan refund atas produk POD kecuali jika ada kesalahan pengiriman dari pihak Gramedia.
Pemesanan Buku POD
Buku yang saya pesan adalah novel legendaris inggris karya Emily Bronte. Novel ini sudah sangat langka di toko buku. Saya sudah cukup lama mencari buku ini tapi di semua toko sudah out of stock. Cetakan terakhit buku ini pada tahun 2015. 

Ketika membuka Gramedia.com. Gramedia masih menyediakan buku ini, tapi dengan versi POD. Penasaran juga, Sambil mencoba akhirnya saya putuskan pesan saja. Di beberapa toko, buku ini di bandrol sekotar 70rbuan. Tapi versi POD ini di babdrol Rp 130.900 belum termasuk ongkir. Tambah ongkir ke Garut Rp 14.000,- jadi Rp 140.900

Tebal buku sekitar 489 halaman.
Saya melakukan pembayaran pada hari jumat tanggal 6 oktober. Karena saya bayar via BRI E-payment, jadi konfirmasi dari Gramedia juga cepet. Dan waktu itu juga sudah langsung di konfirmasi Gramedia. Maka buku langsung di proses oleh Gramedia.

Menurut hasil pelacakan, buku tersebut sudah dikirim pada hari Senin tgl 9 Oktober Pukul 21.00. Jadi jika hari minggu tidak dihitung maka pencetakan bukunya cuma 2 hari. Lebih cepet dari perkiraan Gramedia. Dan bukunya sampai ke rumah di hari rabu. Cepet kan. Kurang dari 7 hari.

Analisa kualitas buku
Seperti klaim Gramedia, cover buku di cetak dalam kertas Art Carton 230 gsm + Laminating gloss 4/0 (No emboss, spot UV, Hotprint). Okai, ini memang agak berbeda dengan kebanyakan buku jaman now. Di mana biasanya bagian kover akan dicetak menggunakan teknik emboss yang membuat tulisan sedikit menonjol. But, overal bagi saya tidak masalah.

Kover buku menggunakan kertas Art Carton.
Lanjut ke dalamnya. Secara kualitas cetakan, isinya sangat mirip dengan buku aslinya. Kertas isi menggunakan HVS 70gsm/Bookpaper 55gsm dicetak hitam putih. Kita bisa lihat setiap detil huruf yang tercetak, kualitasnya sangat baik dan mirip dengan buku asli.

Kualitas cetakan dan kertas isi.

Kesimpulan
Secara pribadi saya merasa puas dengan Gramedia Print On Demand ini. Dari pada susah mencari-cari buku yang sudah kehabisan stock. Saya rasa jauh lebih mudah dengan memesan buku dengan Gramedia Print On Demand. Memang harga yang kita tebus sedikit lebih mahal tapi saya rasa masih wort it.

Kamis, 28 September 2017

Curug Cisarua dan Curug Aden di Cilawu

Curug Cisarua, Cilawu.
Dibalik Gunung Cikurai yang berdiri gagah  di Kabupaten Garut. Di sebuah desa bernama Sukamurni terdapat dua buah curug yang menjanjikan keindahan dan petualangan yang menantang. Yaitu Curug Cisarua dan Curug Deden.

Sebenarnya bukan pertama kali saya mengunjungi curug ini. Bersama teman-teman waktu kuliah, saya pernah datang ke curug ini sekitar 7 atau 8 tahun yang lalu. Dulu, area sekitar curug masih berupa hutan belantara aksesnya pun sangat sulit. Membelah hutan menaiki bukit.

Dulu, curug ini belum ngehits seperti sekarang. Maklum lah waktu itu format 4K belum ditemukan, layar IPS LED belum ada, dan resolusi layar smartphone masih 240x320. Belum ada Instagram yang dengan mudah membuat ngehits suatu tempat wisata.

Seperti biasa, maen ke curug gak asyik kalau gak long exposure.
Sekarang oleh masyarakat sekitar dan LSM Pecinta lingkungan, curug ini dibuka untuk umum. Ditata dan dibuatkan sarana. Di sekitar curug juga dibangun gazebo untuk bersantai sambil menikmati suasana sejuk gunung Cikurai, mejid serta sarana MCK yang memadai. Traveller bisa berkeman di area curug. 
Air yang jernih dan bebatuan Curug.
Aksesnya sedikit lebih mudah, tidak perlu masuk hutan dahulu. Memang perlu jalan kaki sedikit jauh, tapi saya rasa itulah tantangannya.

Curug ini memiliki panorama alam yang indah. Dengan tinggi sekitar 30 meter curug ini menawarkan keindahan yang mempesona. Apalagi saat musim hujan di saat debit airnya besar. Menambah kemegahan curug ini. Saya Datang ke curug ini saat musim kemarau, jadi airnya dikit.

Panorama sebelum menuju curug.
Curug ini seakan terbelah menjadi dua seperti curug Sanghiyang Taraje yang sudah ngehits duluan. Di bawah curug berserakan batu-batu besar yang menambah keindahan curug. Airnya sangat jernih, membuat saya ingin mandi di sini.

Tidak jauh dari Curug Cisarua, ada satu lagi curug yang sayang kalau dilewatkan. Yaitu Curug Aden. Dinamakan demikian karena beberapa tahun yang lalu ada seorang warga sekitar yang meninggal di ketika memanjat curug ini. Orang tersebut bernama Aden. Dan jadilah curug ini lebih dikenal dengan nama Curug Aden.

Curug Deden.
Curug ini berada tidak jauh dari curug Cisarua. Berada dibawah curug Cisarua. Dari Curug Cisarua kita harus berjalan kaki sekitar 10 menit. Walaupun perjalanannya cukup susah karena harus menuruni jalan-jalan yang terjal. Tapi menurut saya sayang sekali kalau di lewatkan.

Untuk menuju kedua curug ini, teman-teman perlu dulu menuju desa Sukaresmi, Salawu. Dari Jalan Raya Garut-Tasikmalaya di pertigaan Bojongloa, belokan menuju SMP 4 Cilawu. Kita tinggal belok kiri menuju Desa Sukaresmi. Jika tidak tahu, lebih seringlah bertanya.

Setelah sampai di SDN Sukaresmi 1, kalian bertanya lah ke warga sekitar arah menuju Curug Cisarua. Karena kalau bertanya ke Google akan susah. Menurut pengalaman saya, ditempat ini sinyal 4G susah ditemukan.

Kendaraan hanya bisa sampai tempat parkir. Dari tempat parkir ini kita harus berjalan kaki sekitar setengah jam. Lumayan, jalannya agak nanjak juga melawati sawah, melawati lahan-lahan warga. Tapi tenang perjalanan kita akan disuguhi pemandangan alam yang amazing.

Tidak ada tiket masuk tapi pengunjung diharuskan membayar Rp. 6.000,- per orang yang sudah termasuk parkir kendaraan. Pengunjung diharuskan mengisi di buku tamu.


Selasa, 12 September 2017

Long Exposure, Membuat Foto Air Terjun Menjadi Selembut Awan dan Seputih Susu

Aliran Sungai Cisarua, Cisewu-Garut.
Sebenarnya sudah banyak artikel tentang ini di internet atau tutorialnya di Youtube. Tapi berhubung banyak yang bertanya terutama di instagram jadi saya putuskan untuk membuat artikel ini sendiri.

ISO : 100, f16, 6 detik.
Lokasi : Curug Sanghiyang Taraje, Kec. Pamulihan Garut. Diambil sekitar jam 11 siang dengan bantuan filter ND 6 Stop Haida Pro MC II 64X. Foto telah dicroping di Adobe Lightroom.
Untuk membuat foto air terjun yang dramatis menjadi selembut awan dan seputih susu yaitu dengan memotret exposure panjang atau dalam bahasa kerennya “Long Exposure”. Jadi kalau lihat foto seperti di atas di instagram atau internet, itu bukan editan atau manupulasi ya, seluruhnya murni fotografi.

Jujur saja, long exposure adalah salah satu favorit saya dalam memotret pemandangan. Entah kenapa dengan menahan shutter speed yang lama saya merasakan ada efek magis tertentu yang membuat foto semakin terlihat indah. Long exposure juga bisa diterapkan pada berbagai macam fotografi, seperti light painting atau juga panning. Tapi yang akan saya bahas di sini khusus long exposure di air terjun.

ISO : 100, f13, 6 detik. Lokasi : Curug Rahong, Cisewu-Garut. Foto diambil sekitar jam 9 pagi dengan bantuan Filter ND 6 Stop.
Long exposure ini bisa diterapkan di semua kamera yang mendukung pengaturan shutter speed manual. D-SLR, Mirrorless, kamera poket. Bahkan sekarang kamera smartphone juga sudah ada yang mendukung fitur pengaturan shutter speed manual. Seperti Xiaomi MI5 atau Sony Xperia XZ series.
Teori dasar
Pada intinya kita diharuskan untuk memotret dengan membuka rana kamera (Shutter speed) selama mungkin. Semakin lama airnya akan semakin terlihat lembut. Untuk air terjun biasanya di atas 1 detik.

Dengan membuka shutter speed lama, kita akan mendapatkan dua hasil yang berbeda. Objek yang bergerak (dalam hal ini adalah pergerakan air) akan menjadi ngeblur. Sedangkan objek yang tidak bergerak, (seperti batu, pohon, kayu, dll) tetap terlihat tajam. Bagian yang ngblur inilah yang akan memberikam efek dramatis pada foto. Inilah efek magis dari foto long exposure. Foto terlihat lebih mempesona dan indah.

ISO: 100, f11, 5 detik.
Lokasi : Curug Orok, Kec. Cikajang Garut. Foto diambil sekitar jam setengah 8 pagi.
Untuk mengambil foto long exposure tentu saja tidak bisa dilakukan di sembarangan waktu. Kita harus memotret dalam kondisi cahaya minim. Semakin minim, semakin lama shutter speed yang bisa kita dapat. Idealnya dilakukannya sebelum jam 8 pagi atau sesudah jam 4 sore. Di siang hari di tengah cahaya matahari terik juga bisa dilakukan, tapi kita butuh ND filter yang cukup pekat, diatas 6 stop untuk menahan cahaya yang masuk ke kamera. Seperti foto di Curug Sanghiyang Taraje dan Curug Rahong di atas.

Waktu saya memotret di Sanghiyang Tataje, saya tiba di curug Sanghiyang Taraje sekitar jam 11 siang. Tapi saat itu kondisi cuaca sedikit mendung sehingga cahaya tidak terlalu kuat. Dengan ND filter 6 Stop, saya bisa melakukan long exposure di atas 5 detik. Sedangkan ketika di Curug Rahong. Daerah sana memang cukup rindang, jadi jam 9 juga masih pas untuk melakukan long exposure.

Kebutuhan
Kamera dan lensa. Sudah pasti, karena kita mau memotret bukan mau memancing. Kalau mau mancing, silahkan bawa alat pancing juga. Untuk lensa, idealnya sih menggunakan lensa ultra wide, tapi jika tidak ada, tidak apa-apa. Tidak usah memaksakan diri, lesna kit juga sudah cukup. Untuk kamera poket atau smartphone, pake saja yang ada karena lensa kedua kamera itu memang tidak bisa diganti.

Tripod. Karena shutter speed nya lambat, maka kita butuh tripod untuk menstabilkan kamera agar gambar tetap terlihat tajam. Semakin kokoh tripod semakin bagus. Saya sendiri menggunakan tripod berkualitas dari Beike, yaitu Beike QZSD-666. Simak ulasannya di sini

ND Filter. Tidak selalu wajib tapi dalam kondisi tertentu wajib dipakai. Misalnya ketika kondisi cahaya sudah kuat (di atas jam 8 pagi). Saya sendiri biasa pakai ND Filter 6 stop dari Haida, yaitu Haida Pro MC II 64X.

CPL Filter. Sama, tidak wajib tapi jika punya silahkan pake. Karena filter CPL bisa mengurangi efek pantulan cahaya dari air dan meningkatkan saturasi foto.

Remote atau shutter release. Sama, tidak wajid juga tapi jika ada harus dibawa karena ini akan memudahkan kita dalam mengambil foto. Dengan remote kita bisa mengambil foto kapan saja, berbeda dengan timer yang harus menunggu dulu beberapa detik. Shutter realease yang third party murah kok, masih dibawah Rp 100rb. Untuk kamera smartphone, sedikit beruntung karena bisa menggunakan handsfree.

ISO : 100, f13, 5 detik. Lokasi: Curug Rahong, Kec. Cisewu, Garut. Foto diambil sekitar jam 9 pagi dengan bantuan filter ND 6 Stop Haida Pro MC II 64X.
Terakhir, bawa batre cadangan. Atau charge penuh batre anda sebelum berangkat. Ini adalah langkah prepare. Karena menurut pengalaman saya, memotret long exposure lebih menguras batre dari pada foto biasa. Sayang kan ketika asyik moto kameranya mati. Kecuali kita mau melanjutkannya dengan melukis bukan motret. Siapkan kanvas, cat dan kuas juga.

Terakhir, asli ini yang paling terakhir. Siapkan tisu lensa atau lap fiber untuk lensa. Karena berada dekat air terjun lensa rawan terkena cipratan air yang bisa mengurangi hasil foto. Siapkan juga celana dan baju cadangan sebagai antisipasi habis ngambil foto langsung terjun main air.

ISO : 100, f13, 4 detik. Lokasi : Curug Rahong, Kec Cisewu Garut. Foto diambil sekitar jam 9 pagi dengan bantuan filter ND 6 Stop Haida Pro MC II 64X.

Setting kamera
Pilih mode kamera pada mode manual (disarankan) biasanya disimbolkan dengan M. Atau pada mode apertur priority. Di kamera Nikon simbolnya A. Di kamera Canon, saya tidak tahu, saya tidak punya kamera Canon soalnya.

Matikan auto ISO. Pilih ISO terendah, ISO 100 atau 200. Karena kita memotret long exposure yang bisa mengakibatkan noise, maka ISO terendah harus di pilih. Semakin rendah ISO semakin rendah pula noise yang dihasilkan.

Untuk mendapatkan ruang tajam yang besar, pilih aperture sempit atau kecil, antara F11 sampai F18, jangan lebih dari F20 karena akan berakibat pada ketajaman gambar yang berkurang. Aperture di kamera ditandai dengan nilai F11, F12, F14 dan seterusnya. Semakin besar nilainya, maka aperturenya semakin sempit. (Sebagai contoh F8 lebih besar dari F11). Semakin kecil aperture semakin besar ruang tajam di kamera.

Selanjutnya shutter speed bisa kita sesuaikan, antara 1-30 detik. Misalnya jika dengan ISO 100 dan F11 kita dapat shutter speed 2 detik. Jika kita ingin lebih lama dari 2 detik, kita tinggal turunkan aperture ke F12, F14 dan seterusnya. Lihat indikator di light meter, jika sudah menunjukkan ke angka 0, berarti kita sudah mendapatkan exposure yang pas.

Pakailah timer atau remote saat memotret. Karena ini untuk menghindari kamera bergoyang saat menekan tombol shutter yang bisa mengurangi ketajaman gambar. Atau jika sudah punya remote realease bisa dipakai.

Jika kita menggunakan tripod, kita bisa mematikan setingan VR (Nikon) atau IS (Canon) pada kamera. Ini bertujuan agar kamera tidak bingung. Karena memakai tripod kita tidak butuh VR atau IS. Untuk kamera smartphone atau poket, jika ada pengaturan ini silahkan matikan juga.

Usahakan memakai format RAW, karena jika menggunakan format RAW akan lebih leluasa untuk kedepannya jika seandainya kita salah seting kamera. Kita masih bisa menyelamatkan foto, berbeda dengan JPEG atau JPG yang lebih terbatas.

Untuk memotret air terjun menurut saya tidak perlu shutter speed yang terlalu lama. Karena kalau terlalu lama kesel juga nunggunya. 5-10 detik juga sudah cukup bagus untuk membuat airnya selembut salju. Tapi jika ingin lebih meriah silahkan mau lebih dari 10 detik juga gak masalah, tidak ada yang membatasi dalam berkreatifitas.

Menambahkan model agar terlihat lebih dramatis.
Kita juga bisa berkreasi dengan menambahkan model manusia ke dalam foto. Karena modelnya manusia rasanya akan susah jika menggunakan shutter speed yang terlalu lama. Kita bisa pakai 1-3 detik. Agar modelnya tidak ngblur, usahkan si model jangan bergerak selama foto diambil.

ISO : 200, f5.6, 1,5 detik.
Karena menggunkan model, agar shuter speednya tidak terlalu lama, memaksa saya untuk menaikkan aperture sampai ke f5.6. Sebagian foto terlihat kurang tajam.



Minggu, 20 Agustus 2017

Kawah Talaga Bodas, Keindahan yang Melegenda


Talaga Bodas. 
Jika di Bandung punya Kawah Putih, maka di Garut ada tempat menarik yang tidak kalah indah, Talaga Bodas. Keindahan Talaga Bodas ini sudah melegenda sejak lama, bahkan dari jaman kolonial Belanda, kawah ini sudah banyak di kunjungi.

Talaga Bodas (litografi berdasarkan lukisan oleh Josias Cornelis Rappard, 1882-1889). Sumber: Wikipedia.
Keindahan ini tentu saja pada hamparan  air danau berwarna putih dengan dikelilingi tebing dan hutan yang masih alami. Talaga yang mempunyai arti danau dan bodas yang memiliki arti putih, bisa diartikan Talaga Bodas adalah Danau Putih. Mirip dengan Kawah Putih di Ciwidey. Di sini juga ada pemandian tersedia pemandian air panas alami dengan sumber ari panas dari kawah Talaga Bodas. Teman-teman bisa berendam di tempat ini.
 
Area Talaga Bodas.
Talaga Bodas berada di Gunung Talaga Bodas (2201 mdpl). Talaga Bodas berada pada ketinggian 1512mdpl, membuatnya memiliki udara yang sejuk dan kadang di pagi atau sore juga sering diselimuti oleh kabut.
 
Sisi Lain Talaga Bodas.
Baca juga:
Ngopi nikmat di suasana sejuk pegunungan
Papandayan Leisure Park, Tempat bersantai yang sempurna
Jembatan Ciherang, jembatan unik melengkung di pinggir tebing

Talaga Bodas cukup mundah untuk dikunjungi. Berada sekitar satu setengah jam dari pusat kota Garut. Dari pusat kota Garut kita terus lurus menuju Kec. Wanaraja. Jika dengan angkutan umum, bisa menggunakan angkot 07 (berwarna merah putih) sekitar setengah jam perjalanan kita akan sampai di Kec Wanaraja. Dari alun-alun Wanaraja kita akan menemukan pertigaan untuk menuju Talaga. Dari pertigaan ini tinggal belok kanan. Dari pertigaan ini kita tinggal terus saja jalannya, sekitar 1 jam kita kan sampai di Talaga Bodas. Untuk yang tidak membawa kendaraan pribadi bisa menggunakan ojek.

Selain di Talaganya, di aliran sungainya juga oke untuk berfoto. Taleng: Sofie Hady (@sofiehady94)
Kendaraan pribadi hanya bisa sampai di tempat parkir, selebihnya kita harus berjalan kaki sekitar 500 m dari tempat parkir untuk bisa sampai ke talaga. Atau teman-teman juga bisa menggunakan ojek dengan tarif sekitar Rp. 5-10 ribu.
 
Tentu saja yang paling ikonik adalah berfoto di bekas jembatan di Talaga Bodas.
Harga tiket masuknya adalah Rp 7.500 per orang, untuk parkirnya kendaraan roda dua juga sama Rp 7.500. jadi jika membawa motor berdua maka kita harus merogoh kocek sekitar .... ya kalikan saja 3, haha. Cukup mahal ya, Hehe. Hati-hati juga banyak pungli liar untuk parkir, tidak usah dihiraukan, lewat saja.

Sabtu, 12 Agustus 2017

Review Tripod sejuta umat, Beike QZSD 666

Kali ini saya akan review tripod yang saya beli beberapa bulan yang lalu. Tentu saja review ini sudah berdasarkan pada pengalaman memakai selama beberapa bulan ini. Yaitu Beike QZSD-666.

Beike QZSD-666. 
Tripod ini hadir dengan dua versi, pertama yang menggunakan carbon fiber dan kedua berbahan magnesium alloy. Yang berbahan carbon fiber dibandrol sekitar Rp 1,2 jutaan. Sedangkan yang berbahan magnesium alloy dibandrol Rp 700 ribuan, bahkan kurang. Yang saya review versi yang kedua ya.

Paket penjualannya juga lengkap, dalam dusnya kita akan mendapatkan tas yang keren untuk membawa tripod, kunci L untuk membuka baud tripod, penyangga beban yang bisa dikaitkan di bawah tripod dan kartu member juga.

Kenapa disebut sejuta umat? Karena memang tripod ini, tripod yang sangat laris di pasaran. Selain karena harganya yang murah dan bentuk yang kompak, kualitas dari tripod ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Desainnya juga keren, jamin tidak akan malu-maluin saat dibawa berpergian. Satu lagi kelebihan tripod ini, yaitu bisa jadi monopod juga.

Berbeda dengan tripod saya yang sebelumnya yang saya review Velbon EX-640. Beike QZSD-666  ini memiliki ukuran yang lebih kompak.  Ketika dilipat tripod ini hanya memiliki panjang sekitar 35 cm, bahkan bisa muat di tas ransel kamu. Sesuai dengan konsepnya bahwa ini memang tourism tripod, artinya tripod ini memang paling pas untuk dibawa traveling.

Tripod ketika dilipat. Panjangnya sekitar 35 cm.
Leher tripod dan ball head.
Tinggi maksimal dari tripod ini adalah sekitar 156 cm. Saya rasa ini sudah cukup untuk memenuhi berbagai kebutuhan fotografi. Kecuali Anda butuh tripod yang tinggi sekali, maka ini tidak cocok. Tripod ini juga bisa kita gunakan untuk fotografi makro. Karena bagian ball headnya bisa kita lepas dan dipasang di bawah leher tripod. Sehingga kamera kita berada dekat dengan tanah.

Secara kualitas bahan, tripod ini sudah baik. Tripod ini menggunakan logam jenis magnesium alloy yang ringan tetapi kokoh. Berat tripod ini sekitar 1,55 kg. Memang tidak se-ringan versi carbon fiber tapi saya rasa ini tidak terlalu berat untuk dibawa berbergian. Kemampuannya mampu menahan berat hingga 8Kg. Saya rasa untuk untuk tripod seharga Rp 700 ribuan ini sudah worth banget.

Bagian pangkal kaki tripod.
Tripod ini dilengkapi dengan kepala berjenis bola atau ball head. Keuntungan dari tripod jenis ball head ini adalah kita bisa memutar arah kamera ke berbagai arah dan sudut secara leluasa. Untuk mengaturnya kita tinggal memutar kunci pada ball head.

Pada ball head sudah dilengkapi dengan quick release yang berguna untuk memasang dan melepas kamera dengan cepat. Memang untuk membukanya kita harus memutar pengunci. Agak sedikit ribet jika dibandingkan dengan jenis lock and release. Plate-nya terbuat dari logam yang cukup tipis, sehingga tidak terlalu mengganggu jika dipasang di kamera. Tripod ini menggunakan ball head QZSD-02. Jika ball head nya rusak, kita juga bisa membeli secara terpisah.

Plate Quick release.
Tripod ini memiliki 5 seksi kaki. Di mana setiap seksi kaki dibuka dengan cara memutar mengunci yang ada pada setiap seksi. Sekali lagi membuka sedikit ribet dari pada pengunci jenis lock and release.

Pengunci seksi kaki yang harus diputar.
Kelebihan tripod ini adalah bisa dijadikan sebagai monopod atau tongsis dengan tinggi maksimal 157 cm. Salah satu kaki dari tripod ini bisa kita lepas, dan kita sambung dengan bagian leher tripod atau langsung dengan bagian ball head. Hasilnya kita bisa mendapatkan monopod yang kokoh untuk kamera DSLR kita.

Salah satu kaki yang bisa dilepas untuk dijadikan monopod.
Ball head dilepas dan dipasang di kaki tripod.
 Pengalaman saya selama beberapa bulan ini cukup menyenangkan bersama tripod ini. ukurannya praktis, mudah dibawa. Bentuknya keren tidak malu-maluin saat dibawa berpergian. Memang agak sedikit ribet ketika dituntut untuk memasang tripod dengan cepat. Karena untuk menyiapkan tripod dan membuka setiap seksi kakinya kita harus memutar-mutar dulu penguncinya. Berbeda dengan jenis lock and release yang lebih cepat. Tapi itu tidak jadi masalah yang besar.

               
Spesifikai Beike QZSD-666

-Material : Magnesium Alloy
-Color : Black - Gold
-Section : 5 tubes (24mm; 21mm; 18mm; 15mm, 12mm)
-Folded Length : 35cm
-Min Height : 35cm
-Max Height : 156cm
-Weight : 1.55kg
-Max Load : 8kg

-Ball head : QZSD-02