Selasa, 12 September 2017

Long Exposure, Membuat Foto Air Terjun Menjadi Selembut Awan dan Seputih Susu

Aliran Sungai Cisarua, Cisewu-Garut.
Sebenarnya sudah banyak artikel tentang ini di internet atau tutorialnya di Youtube. Tapi berhubung banyak yang bertanya terutama di instagram jadi saya putuskan untuk membuat artikel ini sendiri.

ISO : 100, f16, 6 detik.
Lokasi : Curug Sanghiyang Taraje, Kec. Pamulihan Garut. Diambil sekitar jam 11 siang dengan bantuan filter ND 6 Stop Haida Pro MC II 64X. Foto telah dicroping di Adobe Lightroom.
Untuk membuat foto air terjun yang dramatis menjadi selembut awan dan seputih susu yaitu dengan memotret exposure panjang atau dalam bahasa kerennya “Long Exposure”. Jadi kalau lihat foto seperti di atas di instagram atau internet, itu bukan editan atau manupulasi ya, seluruhnya murni fotografi.

Jujur saja, long exposure adalah salah satu favorit saya dalam memotret pemandangan. Entah kenapa dengan menahan shutter speed yang lama saya merasakan ada efek magis tertentu yang membuat foto semakin terlihat indah. Long exposure juga bisa diterapkan pada berbagai macam fotografi, seperti light painting atau juga panning. Tapi yang akan saya bahas di sini khusus long exposure di air terjun.

ISO : 100, f13, 6 detik. Lokasi : Curug Rahong, Cisewu-Garut. Foto diambil sekitar jam 9 pagi dengan bantuan Filter ND 6 Stop.
Long exposure ini bisa diterapkan di semua kamera yang mendukung pengaturan shutter speed manual. D-SLR, Mirrorless, kamera poket. Bahkan sekarang kamera smartphone juga sudah ada yang mendukung fitur pengaturan shutter speed manual. Seperti Xiaomi MI5 atau Sony Xperia XZ series.
Teori dasar
Pada intinya kita diharuskan untuk memotret dengan membuka rana kamera (Shutter speed) selama mungkin. Semakin lama airnya akan semakin terlihat lembut. Untuk air terjun biasanya di atas 1 detik.

Dengan membuka shutter speed lama, kita akan mendapatkan dua hasil yang berbeda. Objek yang bergerak (dalam hal ini adalah pergerakan air) akan menjadi ngeblur. Sedangkan objek yang tidak bergerak, (seperti batu, pohon, kayu, dll) tetap terlihat tajam. Bagian yang ngblur inilah yang akan memberikam efek dramatis pada foto. Inilah efek magis dari foto long exposure. Foto terlihat lebih mempesona dan indah.

ISO: 100, f11, 5 detik.
Lokasi : Curug Orok, Kec. Cikajang Garut. Foto diambil sekitar jam setengah 8 pagi.
Untuk mengambil foto long exposure tentu saja tidak bisa dilakukan di sembarangan waktu. Kita harus memotret dalam kondisi cahaya minim. Semakin minim, semakin lama shutter speed yang bisa kita dapat. Idealnya dilakukannya sebelum jam 8 pagi atau sesudah jam 4 sore. Di siang hari di tengah cahaya matahari terik juga bisa dilakukan, tapi kita butuh ND filter yang cukup pekat, diatas 6 stop untuk menahan cahaya yang masuk ke kamera. Seperti foto di Curug Sanghiyang Taraje dan Curug Rahong di atas.

Waktu saya memotret di Sanghiyang Tataje, saya tiba di curug Sanghiyang Taraje sekitar jam 11 siang. Tapi saat itu kondisi cuaca sedikit mendung sehingga cahaya tidak terlalu kuat. Dengan ND filter 6 Stop, saya bisa melakukan long exposure di atas 5 detik. Sedangkan ketika di Curug Rahong. Daerah sana memang cukup rindang, jadi jam 9 juga masih pas untuk melakukan long exposure.

Kebutuhan
Kamera dan lensa. Sudah pasti, karena kita mau memotret bukan mau memancing. Kalau mau mancing, silahkan bawa alat pancing juga. Untuk lensa, idealnya sih menggunakan lensa ultra wide, tapi jika tidak ada, tidak apa-apa. Tidak usah memaksakan diri, lesna kit juga sudah cukup. Untuk kamera poket atau smartphone, pake saja yang ada karena lensa kedua kamera itu memang tidak bisa diganti.

Tripod. Karena shutter speed nya lambat, maka kita butuh tripod untuk menstabilkan kamera agar gambar tetap terlihat tajam. Semakin kokoh tripod semakin bagus. Saya sendiri menggunakan tripod berkualitas dari Beike, yaitu Beike QZSD-666. Simak ulasannya di sini

ND Filter. Tidak selalu wajib tapi dalam kondisi tertentu wajib dipakai. Misalnya ketika kondisi cahaya sudah kuat (di atas jam 8 pagi). Saya sendiri biasa pakai ND Filter 6 stop dari Haida, yaitu Haida Pro MC II 64X.

CPL Filter. Sama, tidak wajib tapi jika punya silahkan pake. Karena filter CPL bisa mengurangi efek pantulan cahaya dari air dan meningkatkan saturasi foto.

Remote atau shutter release. Sama, tidak wajid juga tapi jika ada harus dibawa karena ini akan memudahkan kita dalam mengambil foto. Dengan remote kita bisa mengambil foto kapan saja, berbeda dengan timer yang harus menunggu dulu beberapa detik. Shutter realease yang third party murah kok, masih dibawah Rp 100rb. Untuk kamera smartphone, sedikit beruntung karena bisa menggunakan handsfree.

ISO : 100, f13, 5 detik. Lokasi: Curug Rahong, Kec. Cisewu, Garut. Foto diambil sekitar jam 9 pagi dengan bantuan filter ND 6 Stop Haida Pro MC II 64X.
Terakhir, bawa batre cadangan. Atau charge penuh batre anda sebelum berangkat. Ini adalah langkah prepare. Karena menurut pengalaman saya, memotret long exposure lebih menguras batre dari pada foto biasa. Sayang kan ketika asyik moto kameranya mati. Kecuali kita mau melanjutkannya dengan melukis bukan motret. Siapkan kanvas, cat dan kuas juga.

Terakhir, asli ini yang paling terakhir. Siapkan tisu lensa atau lap fiber untuk lensa. Karena berada dekat air terjun lensa rawan terkena cipratan air yang bisa mengurangi hasil foto. Siapkan juga celana dan baju cadangan sebagai antisipasi habis ngambil foto langsung terjun main air.

ISO : 100, f13, 4 detik. Lokasi : Curug Rahong, Kec Cisewu Garut. Foto diambil sekitar jam 9 pagi dengan bantuan filter ND 6 Stop Haida Pro MC II 64X.

Setting kamera
Pilih mode kamera pada mode manual (disarankan) biasanya disimbolkan dengan M. Atau pada mode apertur priority. Di kamera Nikon simbolnya A. Di kamera Canon, saya tidak tahu, saya tidak punya kamera Canon soalnya.

Matikan auto ISO. Pilih ISO terendah, ISO 100 atau 200. Karena kita memotret long exposure yang bisa mengakibatkan noise, maka ISO terendah harus di pilih. Semakin rendah ISO semakin rendah pula noise yang dihasilkan.

Untuk mendapatkan ruang tajam yang besar, pilih aperture sempit atau kecil, antara F11 sampai F18, jangan lebih dari F20 karena akan berakibat pada ketajaman gambar yang berkurang. Aperture di kamera ditandai dengan nilai F11, F12, F14 dan seterusnya. Semakin besar nilainya, maka aperturenya semakin sempit. (Sebagai contoh F8 lebih besar dari F11). Semakin kecil aperture semakin besar ruang tajam di kamera.

Selanjutnya shutter speed bisa kita sesuaikan, antara 1-30 detik. Misalnya jika dengan ISO 100 dan F11 kita dapat shutter speed 2 detik. Jika kita ingin lebih lama dari 2 detik, kita tinggal turunkan aperture ke F12, F14 dan seterusnya. Lihat indikator di light meter, jika sudah menunjukkan ke angka 0, berarti kita sudah mendapatkan exposure yang pas.

Pakailah timer atau remote saat memotret. Karena ini untuk menghindari kamera bergoyang saat menekan tombol shutter yang bisa mengurangi ketajaman gambar. Atau jika sudah punya remote realease bisa dipakai.

Jika kita menggunakan tripod, kita bisa mematikan setingan VR (Nikon) atau IS (Canon) pada kamera. Ini bertujuan agar kamera tidak bingung. Karena memakai tripod kita tidak butuh VR atau IS. Untuk kamera smartphone atau poket, jika ada pengaturan ini silahkan matikan juga.

Usahakan memakai format RAW, karena jika menggunakan format RAW akan lebih leluasa untuk kedepannya jika seandainya kita salah seting kamera. Kita masih bisa menyelamatkan foto, berbeda dengan JPEG atau JPG yang lebih terbatas.

Untuk memotret air terjun menurut saya tidak perlu shutter speed yang terlalu lama. Karena kalau terlalu lama kesel juga nunggunya. 5-10 detik juga sudah cukup bagus untuk membuat airnya selembut salju. Tapi jika ingin lebih meriah silahkan mau lebih dari 10 detik juga gak masalah, tidak ada yang membatasi dalam berkreatifitas.

Menambahkan model agar terlihat lebih dramatis.
Kita juga bisa berkreasi dengan menambahkan model manusia ke dalam foto. Karena modelnya manusia rasanya akan susah jika menggunakan shutter speed yang terlalu lama. Kita bisa pakai 1-3 detik. Agar modelnya tidak ngblur, usahkan si model jangan bergerak selama foto diambil.

ISO : 200, f5.6, 1,5 detik.
Karena menggunkan model, agar shuter speednya tidak terlalu lama, memaksa saya untuk menaikkan aperture sampai ke f5.6. Sebagian foto terlihat kurang tajam.



Share This
Previous Post
Next Post

1 komentar:

  1. Blognya bagus Mas, keep up the good work. Keren fotonya, sampe sekarang selalu pengen buat foto slow speed air terjun, tapi belum kesampaian yg model kayak sampeyan itu haha.

    BalasHapus