Selasa, 24 Oktober 2017

Curug Ciarjuna, Surga Tersembunyi Di tanah Pandawa

Curug Ciarjuna.
Curug ini dinamakan Curug Ciarjuna (Iya, Arjuna sang Pandawa Lima) dan berada di desa Panawa. Mungkin kah Panawa ini bahasa lain dari kata Pandawa? Ini mengacu pada dialek orang sunda yang kadang menghilangkan ejahan ‘d’ setelah ejahan ‘n’. Contoh katanya adalah ‘sendok’ yang kadang sering disebut ‘senok’. Atau kata ‘sendal’ menjadi ‘senal’. Dan ‘Pandawa’ menjadi ‘Panawa’, betul kan? Saya tidak sempat mencari tahu asal usul desa Panawa dan Curug Ciarjuna. Maklum capek di jalan.

Desa Panawa, letaknya sangat terpencil, jauh dari kota sangat sulit dijangkau. Desa ini berada di kaki Gunung Papandayan dan berbatasan langsung dengan Pangalengan. Untuk sampai di sini diharuskan untuk melewati hutan dan perkebunan teh yang sangat luas. Tapi di desa ini menyimpan surga yang keindahannya tak tertandingi. Salah satu keindahan itu dan yang sedang ngehits akhir-akhir ini adalah Curug Ciarjuna.

Curug Ciarjuna dari bawah.
Curug ini berada di Cikopo, Desa Panawa, Kec Pamulihan. Curug ini memang belum se terkenal Curug Sanghiyang Taraje yang sudah lebih dulu ngehits. Curug Ciarjuna ini mudah ditemukan tapi susah di jangkau. Curug ini juga relatif sangat jarang dikunjungi karena memang susah untuk dijangkau. Tapi keindahannya sungguh mengagumkan. Percayalah jerih payah untuk sampai di sini terbayar sudah ketika sampai di curug ini. Jujur saja, ini adalah petualangan paling epik yang pernah saya hadapi sejauh ini.

Area Curug Ciarjuna.
Ada dua jalur untuk bisa sampai di tempat ini. Pertama, jalur jahanam via perkebunan teh Papandayan, Sumadra. Kedua menggunakan jalur yang tidak kalah jahanam via Desa Pakenjeng, Kec. Pamulihan. Saya sendiri menggunakan kedua jalur ini. Ketika berangkat menggunakan jalur Pakenjeng, dan Pulang Via Perkebunan teh Papandayan, Sumadra.

Jika menggunakan jalur Sumadra, jaraknya hanya 48 KM dari Garut Kota. Jika menggunakan jalur Pakenjeng menjadi sedikit memutar menjadi sekitar 65KM. 

Melalui jalur Desa Pakenjeng, Pamulihan
Jika menggunakan Jalur Desa Pakenjeng, jalurnya berupa tanah merah yang akan sangat licin ketika musim hujan. Sangat tidak disarankan jalur ini ketika musim hujan. Tapi jika musim kemarau jalur ini lebih mudah dilalui dari pada jalur Sumadra yang sangat jahanam yang berupa batu koral dan aspal yang nyaris habis tergerus air.

Jika memakai motor, di musim kemarau lebih di sarankan untuk memakai jalur Pakenjeng karena jalur ini belum bisa di lalui mobil. Tapi pastikan dulu motor kalian dalam kondisi prima. Dan untuk motor matic, sebaiknya jangan cari masalah, hehe.

Ketika berangkat, saya menggunakan jalur ini dan hampir saja menyerah di tengah jalan dan kembali pulang. Yaitu ketika berada di tengah hutan dengan kondisi jalan tanjakan yang sangat licin. Di dorong pun motor saya masih susah bergerak. Kurang lebih 30-40 menit berada di hutan bersusah payah membawa motor dengan kondisi jalan tanah yang licin. Saya membulatkan tekad karena jika menyerah di tengah jalan saya tidak akan mendapatkan apa-apa selain capek.

Jarak dari desa Garumukti menuju curug dengan kondisi jalan tanah merah. Saya tidak sempat moto kondisi jalan jalur ini, karena waktu itu sedang berjibaku ngadodorong motor.
Ketika sampai di Desa Pakenjeng, Kecamatan Pamulihan, di pertigaan menuju Curug Sanghiyang Taraje berbelok lah ke kenan dan terus ikuti jalan. Kondisi jalannya di sini masih mulus. Terus ikuti hingga melewati jembatan dan pos penjaga, setelah itu ada tanjakan yang panjang banget sampai ke Desa Gurumukti. Jalanan aspal hanya sampai desa Garumukti, setelah itu kita akan masuk ke dalam kebun dan hutan, jalan akan berubah dari aspal mulus ke beton yang cuma setapak. Sudah pasti mobil tidak bisa masuk jalur ini. Jaringan seluler 4G/3G cuma sampai di sini. Selebihnya kalian akan kesusahan mencari sinyal. Dari sini menuju curug sekitar 11 KM lagi (menurut perkiraan Google Map).
Ikuti terus. Sering lah bertanya ke warga sekitar tanyakan ke mana arah desa Panawa. Karena biasanya ada beberapa warga yang sedang mencari kayu bakar. Setelah habis jalan beton, kita akan dihadapkan pada kondisi jalan tanah merah. Tanjakan yang curam yang kadang mengharuskan mendorong motor. Dengan jalur ini waktu tempuh sekitar 1 jam dari Desa Pekenjeng.

Jalur Sumadra
Lain cerita jika menggunakan jalur Sumadra. Walaupun jarak tempuh lebih dekat tapi waktu tempuh lebih lama karena kondisi jalan berupa batuan koral. Atau dalam bahasa kerennya; walungan saat.

Selepas Curug Orok, ada pertigaan menuju perkebunan Teh Papandayan. Kita belok kanan dan ikuti terus jalan. Banyak-banyaklah bertanya ke pada warga. Jika menggunakan jalur ini, kita juga bisa memakai mobil, karena lebar jalan yang cukup untuk mobil. Tapi jangan bawa mobil sedan ya, jangan cari masalah pokoknya.

Kondisi jalan melewati lajur Sumadra.
Jika menggunakan jalur Sumadra, di tengah jalan kita kan menemukan curug yang lain. Oleh warga sekitar menyebut curug ini curug panjang atau curug Ciherang. Saya tidak sempat berfoto di Curug ini.

Setelah melewati perkebunan teh dan hutan belantara, perjalanan mengelilingi kaki Gunung Papandayan kita akan sampai di Desa Pawana. Jika kira-kira menggunakan jalur ini adalah sekitar satu jam setengah. Relatif lebih lama dari jalur Pakenjeng.

Awalnya saya tidak percaya setelah melewati hutan belantara seperti ini, di sana ada peradababan, sebuah desa bernama Panawa. Dan menyimpan surga bernama Curug Ciarjuna.

Percayalah, di sini juga ada sekolah, SMPN 2 Pamulihan.
Ketika pulang saya menggunakan jalur ini, dan saya rasa tidak lebih baik dari jalur desa Pakenjeng. Jarak tempuh dari desa Panawa ke Sumadra sekitar 15 KM, tapi ditempuh dengan waktu hampir 2 jam. Luar biasa kan.

Sampai di Desa Panawa
Ketika sampai di desa Panawa, di pos pertama PLTMH ada pertigaan kita berbelok kiri, ikuti jalur sungai menuju PLTMH. Dari sini kita sudah dekat dengan Curug. Waktu saya ke Curug ini, belum dikenakan tiket, cuma mengisi buku kunjungan di pos penjaga. Saya juga tidak dijinkan untuk membawa kendaraan hingga ke curug (Walaupun sebenarnya bisa.) Kendaraan hanya bisa disimpan di area sebelum masuk Rumah Pembangkit PLTMH. Yaitu di dekat pipa raksasa PLTMH. Dari sini harus jalan kaki turun ke bawah sekitar 300 atau 400 meter. Lumayan tuh, pulangnya cape banget, nanjak!!!.
Dari sini sudah dekat dengan Curug tinggal belok kiri.
Pipa raksasa untuk mengalirkan air ke rumah pembangkit, kendaraan cuma sampai di sini.
Rumah Pembangkit PLTMH Cikopo. Curug Ciarjuna berada di sebeolah kiri.
Curug Ciarjuna berada dekat dengan rumah pembangkit PLTMH. Yaitu berada di sebelah kiri. Ketika sampai di curug, jujur saja, saya masih tidak percaya bisa sampai di curug ini. Rasanya seperti mimpi. Saya langsung menikmati keindahannya. Jerih payah terbayar sudah. Di sini ada beberapa curug di mana curug utama dengan debit ari paling besar dan paling tinggi berada di kanan. Area curug sangat luas, kita bisa bermain, berfoto atau kalau mau prewed aja sekalian. Untuk fasiltas juga belum tersedia fasilitas wisata lengkap seperti curug Orok. Untuk sholat kita bisa lakukan di mesjid di perkampungan warga.

Curug utama Ciarjuna, paling besar, paling tinggi dan paling megah.
Sebenarnya di sini juga ada curug yang lain, berada bersebelahan dengan Curug Ciarjuna. Yaitu Curug Angkeub, ada yang bilang Curug ini adalah Curug Cibatarua. Jika Ciarjuna berada di sebelah kiri rumah pembangkit, nah curug ini berada ke sebalah kanan. Sebenarnya saya juga tidak sempat ke curug ini. Kelupaan, maklum saking senengnya bisa sampai di curug Ciarjuna. Tapi jika kalian sampai di sini, wajib kunjungi juga.

Curug Cibatarua atau Curug Angkeub. (sumber foto: instagram @ekagartiwa)
Curug Angkeub atau Curug Cibatarua (sumber foto: Instagram @dikikie )
Pulangnya, bersiaplah untuk menghadapi jalan kaki dan nanjak hingga sampai tempat menyimpan kendaraan. Dan perjuangan kalian belum berakhir ya, karena jalan pulang sama melelahkannya dengan ketika datang. Ketika nyampai rumah, jangan lupa beli jamu pegal linu ya.

Pulang dari curug, jalan kaki, nanjak broh!!

Sabtu, 14 Oktober 2017

Pengalaman membeli buku POD di Gramedia.com

Jika kamu sedang mencari buku langka yang sudah tidak tersedia di toko-toko buku. Sudah nyari di toko buku online pun tetep tidak ada hasilnya. Tidak usah khawatir, sekarang ada Gramedia Print on demand.

POD atau Print on Demand adalah fitur terbaru dari Gramedia.com. Di mana buku-buku yang telah habis stock kamu masih bisa memesannya. Bagi para pecinta buku yang mencari buku-buku spesial untuk dicetak ulang. Gramedia akan mencetak langsung buku itu khusus untuk kamu. Tapi fitur ini khusus untuk buku-buku yang diterbitkan oleh penerbit Gramedia. Harga buku POD biasanya lebih mahal karena ongkos cetaknya lebih tinggi dibanding ongkos cetak offset.

Wuthuring Heights Karya Emily Bronte yang saya pesan dengan Gramedia POD.
Gramedia mengklaim Buku yang dicetak dengan print on demand mirip dengan buku aslinya baik dari segi ukuran maupun isi. Kover buku dicetak berwarna di atas kertas Art Carton 230 gsm + Laminating gloss 4/0 (No emboss, spot UV, Hotprint). Kertas isi menggunakan HVS 70gsm/Bookpaper 55gsm dicetak hitam putih. Tidak ada tambahan poster/CD/Stiker/Pembatas buku atau sisipan lainnya. 

Sistem POD ini berbeda dengan percetakan skala besar menggunakan cetak offset. Jika cetak offset minimal mencetak 1000 buku. Buku cetak offset lebih murah karena percetakannya sekala besar.

Lain halnya dengan POD. POD menggunakan sistem digital printing yang lebih mudah. Sehingga Gramedia bisa melayani cetak buku walaupun cuma 1 buah saja. Tapi ongkosnya dibayar lebih mahal tentunya.

Syarat dan Ketentuan Pembelian Produk POD di Gramedia.com

  1. Pembeli memilih produk POD saat beberbelanja di Gramedia.com
  2. Setelah dibayar lunas, pihak Gramedia memproses buku POD pesanan pembeli.
  3. Lama produksi buku POD berkisar antara 3 s/d 5 hari kerja.
  4. Gramedia akan mengirimkan produk buku POD setelah buku selesai dicetak.
  5. Dalam kondisi normal, pembeli akan menerima buku POD dalam waktu 7 hari terhitung dari konfirmasi pembayaran oleh pembeli.
  6. Pembeli tidak bisa melakukan refund atas produk POD kecuali jika ada kesalahan pengiriman dari pihak Gramedia.
Pemesanan Buku POD
Buku yang saya pesan adalah novel legendaris inggris karya Emily Bronte. Novel ini sudah sangat langka di toko buku. Saya sudah cukup lama mencari buku ini tapi di semua toko sudah out of stock. Cetakan terakhit buku ini pada tahun 2015. 

Ketika membuka Gramedia.com. Gramedia masih menyediakan buku ini, tapi dengan versi POD. Penasaran juga, Sambil mencoba akhirnya saya putuskan pesan saja. Di beberapa toko, buku ini di bandrol sekotar 70rbuan. Tapi versi POD ini di babdrol Rp 130.900 belum termasuk ongkir. Tambah ongkir ke Garut Rp 14.000,- jadi Rp 140.900

Tebal buku sekitar 489 halaman.
Saya melakukan pembayaran pada hari jumat tanggal 6 oktober. Karena saya bayar via BRI E-payment, jadi konfirmasi dari Gramedia juga cepet. Dan waktu itu juga sudah langsung di konfirmasi Gramedia. Maka buku langsung di proses oleh Gramedia.

Menurut hasil pelacakan, buku tersebut sudah dikirim pada hari Senin tgl 9 Oktober Pukul 21.00. Jadi jika hari minggu tidak dihitung maka pencetakan bukunya cuma 2 hari. Lebih cepet dari perkiraan Gramedia. Dan bukunya sampai ke rumah di hari rabu. Cepet kan. Kurang dari 7 hari.

Analisa kualitas buku
Seperti klaim Gramedia, cover buku di cetak dalam kertas Art Carton 230 gsm + Laminating gloss 4/0 (No emboss, spot UV, Hotprint). Okai, ini memang agak berbeda dengan kebanyakan buku jaman now. Di mana biasanya bagian kover akan dicetak menggunakan teknik emboss yang membuat tulisan sedikit menonjol. But, overal bagi saya tidak masalah.

Kover buku menggunakan kertas Art Carton.
Lanjut ke dalamnya. Secara kualitas cetakan, isinya sangat mirip dengan buku aslinya. Kertas isi menggunakan HVS 70gsm/Bookpaper 55gsm dicetak hitam putih. Kita bisa lihat setiap detil huruf yang tercetak, kualitasnya sangat baik dan mirip dengan buku asli.

Kualitas cetakan dan kertas isi.

Kesimpulan
Secara pribadi saya merasa puas dengan Gramedia Print On Demand ini. Dari pada susah mencari-cari buku yang sudah kehabisan stock. Saya rasa jauh lebih mudah dengan memesan buku dengan Gramedia Print On Demand. Memang harga yang kita tebus sedikit lebih mahal tapi saya rasa masih wort it.