Senin, 29 Januari 2018

Stasiun KA Cikajang, Stasiun tertinggi di Indonesia yang kini tinggal cerita


Kids Garut jaman now mungkin tidak banyak yang tahu bahwa dahulu kota ini dilalui oleh kereta api, jalurnya membentang sepanjang 47 KM dari Garut bagian utara (Cibatu) hingga ke selatan (Cikajang). Jalur kereta ini menghubungkan daerah-daerah penting di Garut seperti Cibatu, Wanaraja, Garut Kota, Samarang, Bayongbong, Cisurupan dan berakhir di Cikajang. Jalur kereta ini memiliki panorama yang sangat indah, melewati pegunungan dan pesawahan Garut.

Kondisi Stasiun Cikajang jaman now.
Walaupun terbilang jalur yang berat karena konturnya yang menanjak. Dahulu jalur kereta api adalah jalur kereta api yang sangat penting yang menunjang kehidupan warga Garut. Jalur ini berhenti di stasiun Cikajang yang merupakan stasiun ujung.

Stasiun Cikajang pernah menjadi stasiun kereta api tertinggi di Indonesia bahkan di Asia Tenggara sebelum akhirnya di nonaktifkan pada tahun 1983 karena rusaknya jalur kereta dan penurunan jumlah penumpang, dan kalahnya bersaing dengan moda transportasi jalan raya seperti bis yang waktu itu semakin popular.

Stasiun ini memiliki 3 jalur, jalur 1 merupakan sepur badug, jalur 2 merupakan sepur belok yang ujungnya terdapat banyak percabangan yang mengarah ke pabrik, jalur 3 merupakan sepur lurus. Stasiun yang merupakan stasiun ujung ini itu dikelilingi oleh pegunungan maka dari itu hawa daerah situ pun sangat sejuk. Stasiun ini dulu sangat ramai dengan penumpang. Hasil bumi seperti buah-buahan dan sayuran dari Cikajang dan Cisurupan diangkut menggunakan kereta untuk kirim ke kota Garut.

Kondisi Stasiun Cikajang

Sekarang, Stasiun yang bersejarah ini hanya tinggal puing-puing yang tidak terawat. Atap bangunan sudah tidak ada karena dimakan sijago merah. Bangunan stasiun ini pernah terbakar beberapa tahun  yang lalu yang memakan hampir seluruh bangunan. Di belakang bangunan sudah menempel tempok dengan bangunan baru. Di sebelah sisi bangunan, kita masih bisa melihat tulisan yang hampir pudar ‘Cikajang’. Sementara itu, di depan bangunan sudah tidak terlihat lagi jejak rel yang dahulu melintasi stasiun ini.
Stasiun Cikajang sebelum kebakaran. (Sumber foto : WIkipedia)
Jika kita lihat kondisinya sekarang, sulit dibayangkan bahwa dahulu tempat ini adalah stasiun yang sangat ramai dikunjungi oleh masyarakat. Tempat masyarakat menggantungkan hidup masyarakat banyak. Di mana setiap hari orang-orang Cikajang berhilir-mudik di tempat ini untuk berpergian ke kota, atau mengirimkan hasil bumi mereka untuk di jual di kota. Ah, sudahlah,  saya tidak perlu baper membahas masa lalu yang menyenangkan seperti itu.

Minggu, 28 Januari 2018

Pabrik Belerang Wanaraja, Sisa puing-puing yang bersejarah

Baprik Belerang Wanaraja.
Sekitar 2 KM dari arah pasar Wanaraja menuju Kampung Cikole, dahulu di sini berdiri dengan megah sebuah komplek pabrik pengolahan belerang yang sangat luas. Bangunan bersejarah yang dibangun untuk mengolah belerang dari Gunung Talaga Bodas. Dengan area seluas 9 ha, dahulu pabrik ini adalah salah satu pabrik terbesar di jamannya. Dahulu pabrik ini sangat terkenal, sama halnya Pabrik Tenun Garut dan Pabrik Coklat Ceres di Leuwi daun.

Sisa pondasi bangunan yang masih kokoh.
Bangunan yang didirikan di masa kolonial ini sekarang hanya tersisa puing-puing dan pondasi bangunan yang masih kokoh. Banyak sekali kisah mistis yang mewarnai bangunan yang sudah berhenti beroprasi sejak 9-10 tahun yang lalu ini. Bahkan tempat ini pernah diliput oleh sebuah acara TV swasta untuk acara uji nyali dan sebagainya. Puing-puing bangunan-bangunan tua, dan ilalang tumbuh liar meninggi di area pabrik menambah aura seram.

Puing-puing bangunan.
Komplek bangunan tua ini berada di Kampung Cikole, Desa Wanasari Kec Manaraja Garut. Sekitar 2 KM dari Pasar Wanaraja. Dari pasar Wanaraja terus ikuti jalan, tidak jauh dari pertigaan menuju Talaga Bodas, berbelok kiri ke arah kampung Cikole. Terus ikuti jalan nanti akan sampai di pertigaan, lalu berbelok kanan. Terus ikuti jalan, dari jauh menara pabrik ini sudah terlihat, maka tinggal ikuti jalan saja.

Area pabrik yang sangat luas.
Sebenarnya tempat ini akan dikelola dan akan dijakikan argo wisata. Sewaktu saya sampai di sini, saya dikenakan tarip Rp 5.000 per motor. Ini udah termasuk parkir. Dari gerbang masuk kita tinggal jalan kaki saja.

Sisa pondasi pabrik yang masih bediri.
Banyak juga memberitakan bahwa baprik ini tidak mengolah belerang, sebenarnya saya tidak percaya, karena ketika sampai di tempat ini, walaupun tempat ini sudah di tinggalkan bertahun-tahun tapi tetap saja masih tercium bau belerang.

Sisa pengolahan belerang.
Bangunan-bangunan tua ini walaupun terlihat menyeramkan, tapi sebenarnya banyak orang yang melakukan prewed di sini. Pondasi bangunan tua dan ilalang menjadi pemandangan yang eksotis untuk foto prewed. Tertarik untuk melakukan prewed di sini?

Senin, 08 Januari 2018

Kamojang Ecopark, Tempat Main Baru Yang Bakal Nghits Di Garut Dan Galeri Lengkap

Kamojang Ecopark.
Sebentar lagi Garut akan punya tempat main baru yang akan nghits, yaitu Kamojang Ecopark. Kamojang Ekopark ini berada di hutan pinus kamojang, tepat di perbatasan antara Garut dan Bandung. Sekitar 400m sebelum Gerbang masuk menuju Kecamatan Ibun, Bandung. Atau sekitar 2 KM sesudah Pusat Konservasi Elang Kamojang. Walaupun demikian Kamojang Ecopark masih masuk dalam wilayah administratif Kabupaten Garut.
Area Utama Kamojang Ecopark
Untuk saat ini tempat ini masih dalam progess pengerjaan. Baru sekitar 50%. Mungkin dalam waktu dekat tempat ini akan segera launching. Walaupun demikian pengunjung masih bisa masuk ke area dan melihat langsung pengerjaannya.

Kamojang Ecopark ini juga mudah dijangkau, baik kendaraan roda dua ataupun roda empat. Berada sekitar 2 KM setelah Pusat Konservasi Elang Kamojang. sekitar 5 menit perjalanan dari Konservasi Elang Kamojang.

Dari arah Garut terus lah menuju Jalan Raya Kamojang, Samarang. Terus ikuti jalan raya, hingga melewati Pusat Konservasi Elang Kamojang. Setelah tanjakan yang panjang dan berbelok-belok, maka Kamojang Ecopark berada di sebelah kiri.

Fasilitas yang ditawarkan juga akan bermacam-macam camping ground, flying fox, outbond, off road, kedai makanan dan minuman, toilet dan mushola telah lengkap. Tempat yang seru untuk piknik bersama keluarga. Tempat parkir yang tersedia juga cukup luas baik untuk kendaraan roda empat atau pula kendaraan roda dua.

Selain itu juga ada jasa penyewaan seperti tenda, hammock, dan baju kimono ala jepang. Harga yang ditawarkan juga menarik.

Untuk masuk ke sini pengunjung harus membeli tiket masuk seharga Rp. 15.000,- (Per 6 April 2018). Tiket bisa dituker dengan minuman.

Untuk harga makanan dan minuman yang ditawarkan juga menarik. Kalau menurut saya, masih ramah di dompet.

Berikut saya tampilkan galeri lengkapnya:

Hutan Pinus.
Hutan Pinus.
Sky Gate, Kamojang Ecopark. Kalau pagi, di sini kita bisa melihat matahari terbit.

Tuker tiket dapat minuman.

Tempat foto favorit, selalu terjadi antrian panjang untuk berfoto di sini.
Pemandangan sekitar.

Taman Bunga berbentuk cinta
.
Area Kedai makan.
Area Kedai Makanan.
Kolam yang belum selesai.
Perosotan
Masih banyak perbaikan di sana-sini.
Balon yang belum terbang.
Toilet dan mushola.
Area parkir mobil.
Area Parkir Motor
Daftar harga penyewaan.
Pengunjung harap bersabar, karena tempat ini belum resmi dibuka maka masih banyak perbaikan di sana-sini.  Bagaimana apa anda tertarik berkunjung ke tempat ini beserta keluarga tercinta?


Selasa, 02 Januari 2018

Review Pribadi Lensa Tokina 11-16mm AT-X Pro DX II dan Contoh Foto

Tokina 11-16mm ATX Pro DX II.
Beberapa waktu lalu saya mendapatkan kesempatan mencoba salah satu lesna ultra wide yang sangat populer di kalangan fotografer landscape yaitu Tokina 11-16mm AT-X Pro DX II. Ini adalah lensa generasi kedua, penerus dari Tokina 11-16mm AT-X DX. Lensa ini diperkenalkan tahun 2012. Untuk ukuran lensa sih ini tidak terlalu baru-baru amat. Lensa ultra wide ini cocok untuk potret pemandangan atau pula arsitektur.

Di toko-toko kamera, baik online ataupun biasa lensa ini dibandrol sekitar 6,5 -7 jutaan. Apakah lensa ini masih worth it untuk harga segitu? Kita lihat...

Memiliki rentang fokal yang sama yaitu 11-16mm. Lensa ini hadir dengan beberapa perbaikan dari versi yang pertama, terutama ketahannya terhadap flare. Di versi kedua ini telah ditambahkan pula motor fokus sehingga bisa dijalankan hampir di semua kamera DSLR sekarang. Memang, Tokina sendiri telah memiliki penerus lensa ini, yaitu Tokina 11-20mm (simak ulasan lensa Tokina 11-20mm F2.8 PRO DX di sini.). Panjang fokal lebih panjang sampai 20mm dan memiliki ketahanan terhadap flare yang lebih baik.

Lensa ini hadir dalam dua versi, untuk kamera Nikon dan Canon. Kebetulan yang saya coba adalah versi Nikon. Berikut spesifikasi lengkapnya.

SD: Magic low-dispersion glass.
IF: Internal Focus.
DX: Won't work on full-frame.
II: New model of the original 11-16mm.
AT-X: Advanced Technology-seX.
PRO: Push-pull focus ring to select autofocus or manual focus.
77: 77mm filters.
Aspherical: Specially shaped lens elements for sharper pictures.
CE: (European) Consumer Electronics safety certified.

Optics
13 elements in 11 groups.
2 SD glass elements (mirip seperti Nikon ED atau Canon UD).
Internal focusing.
Front and rear groups move as zoomed.
Multicoated.
Sudut pandang 104º ~ 82.º

Lensa ini diperuntukan untuk kamera APS-C atau DX. Tapi juga bekerja baik di kamera full frame pada panjang fokal 16mm. Panjang fokal 11-16 mm. Sudut pandangnya mirip dengan 16.5 – 24mm pada kamera full frame Nikon.

Memang pada umumnya lensa ultra wide untuk APS-C berada pada rentang fokal 10mm. Seperti Sigma 10-20mm F3.5, Tamron 10-24mm bahkan Nikon sendiri memasang di panjang fokal 10mm, yaitu Nikon AF-S 10-24mm atau pula AF-P 10-20mm. Dan sejujurnya saya juga lebih suka 10mm. Memang dalam fotografi landscape perbedaan 1 mm juga bisa sangat berarti. Tapi dengan 11 mm kita masih bisa mendapatkan sudut pandang yang unik dan dramatis di foto. Di lapangan perbedaan 1mm ini bisa terasa bisa juga tidak. Tergantung objek yang akan kita foto.

Kualitas bangun
Secara disain, lensa ini terlihat sedikit kuno. Berbeda dengan lensa kompetitor. Apalagi jika dibandingkan dengan Tamron 10-24mm f3.5-4.5 VC HLD yang memiliki bentuk fisik yang modern dan kekinian. Bentuk tuas manual fokus tidak biasa. Jika kebanyakan lensa memiliki tuas terpisah tinggal swith. Di lensa ini, dan seperti lensa Tokina lainya, untuk beralih dari auto ke manual, maka kita harus menarik ring fokus ke mode manual.

Lensa terlihat kokoh, dan sangat nyaman digengam. Posisi ring fokus dan ring zoom yang berada terbalik tapi sangat nyaman ketika diputar. Jujur, ini lensa paling enak yang pernah saya coba ring zoom dan ring fokusnya. Bahkan lensa saya, Nikon AF-S 50mm F1.4 G yang sekarang harga barunya sekitar 8 jutaan juga tidak seenak ini. Dan sayang sekali fokus ring ini tidak mengijinkan override dari auto ke manual secara langsung. Jadi kita harus berpindah mode ke manual dulu. 

Ukuran filter 77mm, membuat harga filter menjadi mahal.
Ukuran fisik lensa ini terbilang porposional untuk kamera saya, Nikon D7200. Tidak terlalu besar dan tidak juga terlalu kecil. Lensa ini memiliki ukuran filter 77mm, yang sudah sangat populer. Memang filter apapun yang akan anda beli, harganya pasti mahal. Tapi ini sebenarnya hal yang sudah umum, bahkan beberapa lensa untra wide yang lain sudah memakai ukuran filter 82mm. Seperti Sigma 10-20mm f3.5 HSM. Atau lensa terbaru dari Tokina sendiri yaitu 11-20mm.

Hasil foto Tokina 11-16mm DX II di malam hari. ISO:100, F: 11mm, f/13, 30s. (Post prosessing dengan Adobe Camera RAW)
ISO : 200, 11mm, f/7.1, 5s. (Post prosessing dengan Adobe Camera RAW)

Kinerja
Secara umum kinerja lensa ini terbilang baik. Memang motor fokusnya agak sedikit berisik, terlebih jika anda membandingkan dengan motor HSM, STM, SWM atau motor Stepper. Fokusnya juga tidak terlalu cepat. Ini bukan lensa action, jadi menurut saya untuk ukuran lensa landscape itu bukan hal masalah yang besar.
Hasil foto Tokina 11-16mm AT-X Pro DX II dipadukan dengan kamera saya, Nikon D7200. Klik foto untuk memperbesar. 
Dianugrahi aperture yang besar yaitu f2.8 menurut saya ini adalah kelebihan tersendiri. Memang untuk landscape aperture besar tidak terlalu penting. Tapi jika anda berencana menggukan lensa ini untuk memotret objek atau foto grup di cahaya minim, maka lensa ini siap diandalkan.

Sudut Pandang yang dramatis dari lensa ini.
Jika anda suka memotret bima sakti, maka aperture f2.8 akan sangat berarti. Karena ini 2/3 stop lebih cepat dari lensa wide di pasaran. Lensa ini tidak dilengkapi dengan teknologi peredam getar seperti VR (Nikon), IS (Canon) atau VC (Tamron) seperti lensa AF-P Nikkor 10-20mm, atau pula lens Tamron 10-24mm VC HLD. Apakah itu masalah besar? Kembali kepada masing-masing.

Saya mencoba memotret bintang dengan lensa ini, hasilnya memuaskan. ISO 800, f2.8, f:11mm, 25s. (Foto telah diedit dan dicrop di Lightroom)
Kalau menurut saya tidak. Untuk lensa landscape, ketika dalam keadaan minim cahaya saya lebih suka menggunakan tripod dan bermain dengan long exposure dari pada memakai VR, VC, atau pula IS. Betul kan?

Kualitas gambar
Saya tidak akan menganalisa hasil foto secara ilmiah ala DxOMark. Tapi saya akan menganalisa berdasarkan pengalaman dan pembandingan dengan lensa yang lain.

Jujur, saya sangat suka dengan hasil foto lensa ini. Gambar yang dihasilkan tajam bahkan hingga bukaan terbesar. Menghasilkan kontras dan saturation yang baik. Bahkan menurut DxOMark ini adalah lensa tertajam di kelas APS-C. Tapi ingat, ketajaman gambar bukan segalanya.

Dengan sudut pandang yang lebar, saya bisa memotret ini. ISO: 100, f13, 11mm, 1/100s.
Crop 100% dari foto di atas.
Ketajaman pada bukaan f2.8 terbilang baik bahkan hingga piggir gambar. Memang di paling pinggiran agak sedikit lembut, tapi itu adalah hal yang wajar untuk lensa lebar. Ketajaman di pinggir membaik di f4, dan ketika kembali ke tengah gambar ketajamnannya meningkat luar biasa. Di aperture sempit seperti f8 atau f11 kebawah maka hampir seluruh area moto memiliki ketajaman yang sangat baik.

Yang jadi sedikit masalah bagi saya adalah ketahanannya terjadap flare, terutama saat sumber cahaya berada di pinggir. Kebetulan saya mencoba lensa ini tanpa hood. Tokina telah melakukan perbaikan dari versi sebelumnya, tapi saya masih menemukan beberapa flare. Bahkan jika dibandingkan dengan lensa 18-140mm saya, juga masih lebih baik.

Penyimpangan kromatik (cromatic aberation) dan distrorsi juga terkontrol dengan baik. Di 11mm memang terlihat ada distorsi. Hal yang wajar untuk lensa ultra wide. Jika di zoom 100% cromatic abberation akan terlihat. Distorsi dan cromatic aberation bisa diatasi hanya dengan sekali klik dengan Adobe Lightroom atau Adobe Camera Raw. Tapi pastikan anda memotret dengan format RAW (.NEFF).

Panjang fokal memang terbilang pendek, hanya sampai 16mm. Membuatnya kurang begitu fleksibel. Tapi jika kita memang mau menggunakan untuk landscape maka ini sudah lebih dari cukup.

Saya memotret langsung ke arah cayaha matahari, ada beberapa flare terlihat.

Berikut saya tampilkan beberapa contoh foto dari lensa ini. Klik pada foto untuk memperbesar (Sebagian foto telah diedit dan di crop)


Dipadukan dengan ND filter Haida Pro MC II 64X untuk membuat air terjun yang lembut. ISO:100, 11mm, f14, 13s. 
ISO: 100, 11mm, f/14, 6s.

ISO: 100, 11mm, f9, 1/160s.
ISO:100, f8, 1/80s.
ISO: 100, 12mm, f/9, 8s.
Dengan sudur pandang yang lebar, saya bisa membuat potret dramatis seperti ini. ISO: 100, 13mm, f4.5, 1/3200s. Model: Sofi Hady (Intagram: Sofiehady94)
ISO: 100, 11m, f/9, 1/200s.
Untuk hasil yang lainnya, teman-teman bisa lihat di instagram saya :@adrasa_id.

Kesimpulan
Menurut saya ini adalah lensa yang rekomended untuk anda pecinta landscape. Ini masih jadi alternatif menarik lensa ultra wide. Berkisar pada harga 6 jutaan menurut saya ini lensa yang cukup bersaing dengan kompetitor yang lain. Jika anda pengguna Nikon maka ini salah satu lensa ultra wide termurah yang ada di pasaran selain AF-P 10-20mm yang berkisar di harga 4,5 - 5 jutaan.

Terlebih jika dibandingkan dengan lensa Nikon 10-24mm yang harganya masih di atas 12 jutaan. Tentu saja ini adalah pilihan yang menarik. Memang Tokina sendiri telah memiliki penerus dari lensa ini yaitu Tokina 11-20mm, tapi dari segi harga lensa itu masih mahal, harganya masih 8 jutaan(simak ulasan lensa Tokina 11-20mm F2.8 PRO DX di sini.).

Untuk ketahanan terhadap flare yang saya kira kurang oke, jadi saat berada dalam keadaan menyamping sumber cahaya, kita harus selalu siap memakai hood untuk mengurangi itu.



Senin, 01 Januari 2018

Kesejukan Curug Gado Bangkong dan Kejernihan Air Curug Badak yang Saling Bertetanggaan

Curug Gado Bangkong.
Kecamatan Cisayong merupakan surga curug-curug keren di tasikmalaya. Ada puluhan curug yang jaraknya saling berdekatan. Di antaranya adalah Curug Badak dan Curug Gado Bangkong yang jaraknya hanya terpisah beberapa ratus meter saja. Kedua Curug ini berada di Kampung Cicurug, Desa Santanamekar Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya. Selain itu di Kecamatan Cisayong, ada pula curug Batu Blek dan puluhan curug lainnya yang berada pada aliran sungainya.

Curug Badak dan Curug Gado Bangkong, kedua curug ini juga relatif mudah dijangkau, dengan kendaraan roda dua, baik motor atau sepeda anda hanya cukup berjalan kaki sedikit dari tempat parkir untuk sampai ke kedua Curug ini. Untuk kendaraan roda empat, sepertinya harus berjuang ekstra. Karena akses mobil cukup jauh dari lokasi. Jadi, bersiaplah untuk jalan kaki yang menanjak dan cukup jauh. Curug ini sudah dikelola oleh Perhutani, fasilitas yang disediakan cukup lengkap.

Curug Gado Bangkong
Curug ini sangat tinggi, debit airnya terbilang kecil. Air jatuh menuju kolam yang bisa dipakai untuk berenang juga. Pemandangan menawan ditawarkan disekitar curug. Tapi harus berhati-hati berada dicurug ini. Karena potensi bahaya seperti longsor, dan bergerakan bebatuan.

Curug Gado Bangkong dilihat dari atas.
Dari tempat parkir kita cuma tinggal turun menuju curug. Jika sudah sampai di Curug, tidak usah heran dan bingung karena tidak ada bangkong di sini. Asal muasal nama Gado Bangkong, konon menurut mitos warga setempat di area sekitar curug ada mahluk halus berbentuk Bangkong (katak) raksasa.

Curug Badak
Dinamakan demikian karena curug ini mengalir diantara bebatuan besar berwarna abu mirip badak. Nama ini juga mirip dengan Curug Badak yang berada satu aliran dengan Curug Batu Blek. Jika Curug Badak yang itu lebih susah dijangkau, maka curug Badak yang ini mudah sekali. Dari Curug Gado Bangkong kita hanya perlu berjalan sekitar 10 menit untuk menuju Curug Badak.

Ada banyak kolam-kolam air alami di curug ini. Airnya sangat jernih, jamin anda akan puas berlama-lama mandi di sini. Kita bisa terus menelusuri aliran air Curug badak terus ke atas, karena kita akan menemukan banyak curug dan kolam-kolam yang lainnya.

Aliran air Curug Badak.
Kolam air yang sangat jernih, Curug Badak.
Menelusuri aliran Curug Badak ke atas, masih banyak curug dan kolam yang indah.
Kolam air Curug Badak yang jernih. Yakin gak mau berenang nih?
Sedangkan jika ke bawah, aliran Curug badak ini jatuh ke bawah jurang menjadi curug yang lain. Sayang sekali tidak ada jalur untuk menuju bawah jurang ini. Jika bisa, akan sangat megah menikmati jatuhnya aliran air Curug Badak ini dari bawah.
Aliran air terus menuju jurang.
Aliran Curug Badak jatuh ke bawah jurang.
Rute
Kedua curug ini berada di kaki gunung Galunggung. Jarak yang ditempuh dari alun-alun Singaparna sekitar 30-40 menit menggunakan kendaraan motor. Dari alun-alun Singaparna terus lah menuju jalan raya Ciawi – Singaparna (Jln Cisinga), terus menuju Kec Cisayong, Desa Santanamekar.

Dari jalan ini ada banyak belokan untuk menuju kampung Cicurug. Waktu itu saya berbelok ke perempatan menuju kampung Cimala, terus melanjutkan menuju Kampung Cicurug. Jadi jika belum tahu sebelumnya ada baiknya banyak bertanya. Patokannya adalah kampung Cicurug. Atau anda juga bisa mengandalkan Google Map yang akurat memandu anda sampai Kampung Cicurug.
 
Gapura Kampung Cicurug, dari sini menuju curug cuma sekitar 1km lagi. Hati-hati, jalannya setapak dengan jurang di pinggir jalan.
Jika sudah sampai di Gapura Kampung Cicurug, dari sini curug sudah dekat, sekitar 1 km lagi akan sampai. Berhati-hatilah membawa kendaraan, karena di sebagian pinggir jalan berupa jurang yang cukup dalam. Motor bisa terus masuk ke tempat parkir. Dari tempat parkir menuju Curug Gado Bangkong cuma tinggal jalan kaki dikit.

Untuk menuju Curug Badak. Dari tempat parkir kita perlu berjalan kaki lagi, sekitar 300 meter atau kita juga bisa membawa motor hingga dekat dengan curug. Tapi jalurnya melalui jalan setapak, galeng sawah yang cukup sempit. Jika cukup ahli membawa motor, kita bisa terus membawa motor hingga dekat dengan curug. Tapi jika tidak, sebaiknya simpan di tempat parkir saja. Itung-itung olah raga lah, jalan kaki dikit.

Jalan dari Curug Gado Bangkong menuju Curug Badak, jalan setapak mapay sawah.
Tiket masuk
Untuk masuk ke Curug Gado Bangkong ini kita akan di tarip Rp 8.000,- per orang (Up date harga per 1 Januari 2018). Saya tidak tahu apakah ini sudah termasuk parkir atau tidak, sepertinya sih sudah. Karena ketika saya meninggalkan tempat parkir tidak ada petugas yang meminta bayaran parkir. Haha. Sedangkan menuju curug Badak saya tidak dikenakan tiket sama sekali.

Fasilitas
Fasilitas yang tersedia di Curug Gado Bangkong sudah lengkap. Mushola untuk sholat, WC dan warung yang menjajakan makanan dan minuman sudah tersedia. Seperti biasa di depan WC anda akan menemukan kotak amal Rp 2.000,-.