Selasa, 02 Januari 2018

Review Pribadi Lensa Tokina 11-16mm AT-X Pro DX II dan Contoh Foto

Tokina 11-16mm ATX Pro DX II.
Beberapa waktu lalu saya mendapatkan kesempatan mencoba salah satu lesna ultra wide yang sangat populer di kalangan fotografer landscape yaitu Tokina 11-16mm AT-X Pro DX II. Ini adalah lensa generasi kedua, penerus dari Tokina 11-16mm AT-X DX. Lensa ini diperkenalkan tahun 2012. Untuk ukuran lensa sih ini tidak terlalu baru-baru amat. Lensa ultra wide ini cocok untuk potret pemandangan atau pula arsitektur.

Di toko-toko kamera, baik online ataupun biasa lensa ini dibandrol sekitar 6,5 -7 jutaan. Apakah lensa ini masih worth it untuk harga segitu? Kita lihat...

Memiliki rentang fokal yang sama yaitu 11-16mm. Lensa ini hadir dengan beberapa perbaikan dari versi yang pertama, terutama ketahannya terhadap flare. Di versi kedua ini telah ditambahkan pula motor fokus sehingga bisa dijalankan hampir di semua kamera DSLR sekarang. Memang, Tokina sendiri telah memiliki penerus lensa ini, yaitu Tokina 11-20mm (simak ulasan lensa Tokina 11-20mm F2.8 PRO DX di sini.). Panjang fokal lebih panjang sampai 20mm dan memiliki ketahanan terhadap flare yang lebih baik.

Lensa ini hadir dalam dua versi, untuk kamera Nikon dan Canon. Kebetulan yang saya coba adalah versi Nikon. Berikut spesifikasi lengkapnya.

SD: Magic low-dispersion glass.
IF: Internal Focus.
DX: Won't work on full-frame.
II: New model of the original 11-16mm.
AT-X: Advanced Technology-seX.
PRO: Push-pull focus ring to select autofocus or manual focus.
77: 77mm filters.
Aspherical: Specially shaped lens elements for sharper pictures.
CE: (European) Consumer Electronics safety certified.

Optics
13 elements in 11 groups.
2 SD glass elements (mirip seperti Nikon ED atau Canon UD).
Internal focusing.
Front and rear groups move as zoomed.
Multicoated.
Sudut pandang 104º ~ 82.º

Lensa ini diperuntukan untuk kamera APS-C atau DX. Tapi juga bekerja baik di kamera full frame pada panjang fokal 16mm. Panjang fokal 11-16 mm. Sudut pandangnya mirip dengan 16.5 – 24mm pada kamera full frame Nikon.

Memang pada umumnya lensa ultra wide untuk APS-C berada pada rentang fokal 10mm. Seperti Sigma 10-20mm F3.5, Tamron 10-24mm bahkan Nikon sendiri memasang di panjang fokal 10mm, yaitu Nikon AF-S 10-24mm atau pula AF-P 10-20mm. Dan sejujurnya saya juga lebih suka 10mm. Memang dalam fotografi landscape perbedaan 1 mm juga bisa sangat berarti. Tapi dengan 11 mm kita masih bisa mendapatkan sudut pandang yang unik dan dramatis di foto. Di lapangan perbedaan 1mm ini bisa terasa bisa juga tidak. Tergantung objek yang akan kita foto.

Kualitas bangun
Secara disain, lensa ini terlihat sedikit kuno. Berbeda dengan lensa kompetitor. Apalagi jika dibandingkan dengan Tamron 10-24mm f3.5-4.5 VC HLD yang memiliki bentuk fisik yang modern dan kekinian. Bentuk tuas manual fokus tidak biasa. Jika kebanyakan lensa memiliki tuas terpisah tinggal swith. Di lensa ini, dan seperti lensa Tokina lainya, untuk beralih dari auto ke manual, maka kita harus menarik ring fokus ke mode manual.

Lensa terlihat kokoh, dan sangat nyaman digengam. Posisi ring fokus dan ring zoom yang berada terbalik tapi sangat nyaman ketika diputar. Jujur, ini lensa paling enak yang pernah saya coba ring zoom dan ring fokusnya. Bahkan lensa saya, Nikon AF-S 50mm F1.4 G yang sekarang harga barunya sekitar 8 jutaan juga tidak seenak ini. Dan sayang sekali fokus ring ini tidak mengijinkan override dari auto ke manual secara langsung. Jadi kita harus berpindah mode ke manual dulu. 

Ukuran filter 77mm, membuat harga filter menjadi mahal.
Ukuran fisik lensa ini terbilang porposional untuk kamera saya, Nikon D7200. Tidak terlalu besar dan tidak juga terlalu kecil. Lensa ini memiliki ukuran filter 77mm, yang sudah sangat populer. Memang filter apapun yang akan anda beli, harganya pasti mahal. Tapi ini sebenarnya hal yang sudah umum, bahkan beberapa lensa untra wide yang lain sudah memakai ukuran filter 82mm. Seperti Sigma 10-20mm f3.5 HSM. Atau lensa terbaru dari Tokina sendiri yaitu 11-20mm.

Hasil foto Tokina 11-16mm DX II di malam hari. ISO:100, F: 11mm, f/13, 30s. (Post prosessing dengan Adobe Camera RAW)
ISO : 200, 11mm, f/7.1, 5s. (Post prosessing dengan Adobe Camera RAW)

Kinerja
Secara umum kinerja lensa ini terbilang baik. Memang motor fokusnya agak sedikit berisik, terlebih jika anda membandingkan dengan motor HSM, STM, SWM atau motor Stepper. Fokusnya juga tidak terlalu cepat. Ini bukan lensa action, jadi menurut saya untuk ukuran lensa landscape itu bukan hal masalah yang besar.
Hasil foto Tokina 11-16mm AT-X Pro DX II dipadukan dengan kamera saya, Nikon D7200. Klik foto untuk memperbesar. 
Dianugrahi aperture yang besar yaitu f2.8 menurut saya ini adalah kelebihan tersendiri. Memang untuk landscape aperture besar tidak terlalu penting. Tapi jika anda berencana menggukan lensa ini untuk memotret objek atau foto grup di cahaya minim, maka lensa ini siap diandalkan.

Sudut Pandang yang dramatis dari lensa ini.
Jika anda suka memotret bima sakti, maka aperture f2.8 akan sangat berarti. Karena ini 2/3 stop lebih cepat dari lensa wide di pasaran. Lensa ini tidak dilengkapi dengan teknologi peredam getar seperti VR (Nikon), IS (Canon) atau VC (Tamron) seperti lensa AF-P Nikkor 10-20mm, atau pula lens Tamron 10-24mm VC HLD. Apakah itu masalah besar? Kembali kepada masing-masing.

Saya mencoba memotret bintang dengan lensa ini, hasilnya memuaskan. ISO 800, f2.8, f:11mm, 25s. (Foto telah diedit dan dicrop di Lightroom)
Kalau menurut saya tidak. Untuk lensa landscape, ketika dalam keadaan minim cahaya saya lebih suka menggunakan tripod dan bermain dengan long exposure dari pada memakai VR, VC, atau pula IS. Betul kan?

Kualitas gambar
Saya tidak akan menganalisa hasil foto secara ilmiah ala DxOMark. Tapi saya akan menganalisa berdasarkan pengalaman dan pembandingan dengan lensa yang lain.

Jujur, saya sangat suka dengan hasil foto lensa ini. Gambar yang dihasilkan tajam bahkan hingga bukaan terbesar. Menghasilkan kontras dan saturation yang baik. Bahkan menurut DxOMark ini adalah lensa tertajam di kelas APS-C. Tapi ingat, ketajaman gambar bukan segalanya.

Dengan sudut pandang yang lebar, saya bisa memotret ini. ISO: 100, f13, 11mm, 1/100s.
Crop 100% dari foto di atas.
Ketajaman pada bukaan f2.8 terbilang baik bahkan hingga piggir gambar. Memang di paling pinggiran agak sedikit lembut, tapi itu adalah hal yang wajar untuk lensa lebar. Ketajaman di pinggir membaik di f4, dan ketika kembali ke tengah gambar ketajamnannya meningkat luar biasa. Di aperture sempit seperti f8 atau f11 kebawah maka hampir seluruh area moto memiliki ketajaman yang sangat baik.

Yang jadi sedikit masalah bagi saya adalah ketahanannya terjadap flare, terutama saat sumber cahaya berada di pinggir. Kebetulan saya mencoba lensa ini tanpa hood. Tokina telah melakukan perbaikan dari versi sebelumnya, tapi saya masih menemukan beberapa flare. Bahkan jika dibandingkan dengan lensa 18-140mm saya, juga masih lebih baik.

Penyimpangan kromatik (cromatic aberation) dan distrorsi juga terkontrol dengan baik. Di 11mm memang terlihat ada distorsi. Hal yang wajar untuk lensa ultra wide. Jika di zoom 100% cromatic abberation akan terlihat. Distorsi dan cromatic aberation bisa diatasi hanya dengan sekali klik dengan Adobe Lightroom atau Adobe Camera Raw. Tapi pastikan anda memotret dengan format RAW (.NEFF).

Panjang fokal memang terbilang pendek, hanya sampai 16mm. Membuatnya kurang begitu fleksibel. Tapi jika kita memang mau menggunakan untuk landscape maka ini sudah lebih dari cukup.

Saya memotret langsung ke arah cayaha matahari, ada beberapa flare terlihat.

Berikut saya tampilkan beberapa contoh foto dari lensa ini. Klik pada foto untuk memperbesar (Sebagian foto telah diedit dan di crop)


Dipadukan dengan ND filter Haida Pro MC II 64X untuk membuat air terjun yang lembut. ISO:100, 11mm, f14, 13s. 
ISO: 100, 11mm, f/14, 6s.

ISO: 100, 11mm, f9, 1/160s.
ISO:100, f8, 1/80s.
ISO: 100, 12mm, f/9, 8s.
Dengan sudur pandang yang lebar, saya bisa membuat potret dramatis seperti ini. ISO: 100, 13mm, f4.5, 1/3200s. Model: Sofi Hady (Intagram: Sofiehady94)
ISO: 100, 11m, f/9, 1/200s.
Untuk hasil yang lainnya, teman-teman bisa lihat di instagram saya :@adrasa_id.

Kesimpulan
Menurut saya ini adalah lensa yang rekomended untuk anda pecinta landscape. Ini masih jadi alternatif menarik lensa ultra wide. Berkisar pada harga 6 jutaan menurut saya ini lensa yang cukup bersaing dengan kompetitor yang lain. Jika anda pengguna Nikon maka ini salah satu lensa ultra wide termurah yang ada di pasaran selain AF-P 10-20mm yang berkisar di harga 4,5 - 5 jutaan.

Terlebih jika dibandingkan dengan lensa Nikon 10-24mm yang harganya masih di atas 12 jutaan. Tentu saja ini adalah pilihan yang menarik. Memang Tokina sendiri telah memiliki penerus dari lensa ini yaitu Tokina 11-20mm, tapi dari segi harga lensa itu masih mahal, harganya masih 8 jutaan(simak ulasan lensa Tokina 11-20mm F2.8 PRO DX di sini.).

Untuk ketahanan terhadap flare yang saya kira kurang oke, jadi saat berada dalam keadaan menyamping sumber cahaya, kita harus selalu siap memakai hood untuk mengurangi itu.



Share This
Previous Post
Next Post

0 komentar: