Sabtu, 09 Juni 2018

Review Pribadi Lensa Tokina 11-20mm F2.8 PRO DX, Lebar dan Mengagumkan

Ini adalah ulasan mendalam dari lensa Tokina 11-20mm f2.8 PRO DX. Lensa yang mendapat predikat lensa ultra lebar terbaik di kelas APS-C Versi DXOMARK.
Tokina 11-20mm F2.8 PRO DX
Setelah sebelumnya saya me-review lensa Tokina 11-16mm RRO DX II (simak ulasannya di sini). Kali saya akan me-review generasi penerus dari lensa itu. Yaitu Tokina 11-20mm F2.8 DX. Dalam ulasan ini juga saya menyajikan beberapa foto hasil dari jepretan lensa ini. Seperti biasa, ini adalah review pribadi, bukan produk sponsor, endorsment ataupun yang lainnya.
Hasil pengujian DXOMARK. Tokina 11-20mm F2.8 PRO DX mendapatkan skor tertinggi.
Ini adalah lensa generasi ke tiga dari lensa 11-16mm F2.8 PRO DX. Di generasi ketiga ini, lensa ini hadir dengan panjang fokal yang lebih panjang, desain lensa yang berbeda dan tentu saja kualitas optik yang berbeda juga. Dengan lapisan coating untuk menahan flare yang lebih baik pula.

Mari kita lihat seperti apa lensa yang dinobatkan DXOMARK sebagai lensa ultra lebar terbaik yang pernah mereka uji. Baca hasil pengujian lensa ini di DXOMARK di sini.

Spesifikasi:

SD: Magic low-dispersion glass.
IF: Internal Focus.
DX: Won't work on full-frame.
AT-X: Advanced Technology-seX.
PRO: Push-pull focus ring to select autofocus or manual focus.
82: 82mm filters.
Aspherical: Specially shaped lens elements for sharper pictures.
CE: (European) Consumer Electronics safety certified.

Optics
14 elements in 12 groups.
3 SD glass elements (mirip seperti Nikon ED atau Canon UD).
Internal focusing.
Front and rear groups move as zoomed.
Multicoated.
Sudut pandang 104º ~ 72.º

Sebagai generasi penerus dari lensa sebelumnya, Tokina 11-20 mm ini tentu hadir dengan berbagai perbaikan dari lensa sebelumnya. Sama seperti Tokina 11-16 DX atau pula DX II, Tokina 11-20 mm juga hadir untuk kamera APS-C atau DX. Lensa ini juga hadir untuk versi Nikon dan Canon. Lensa ini telah memiliki motor fokus di dalam lensa, sehingga bisa dipasang dihampir semua body Nikon atau canon. Yang saya uji adalah versi Nikon.
ISO: 400, 11mm, f8, 1/125 detik.
Sudut pandangnya mirip dengan 16.5 – 24mm pada kamera full frame Nikon. Lensa ini juga bekerja dengan baik jika dipasang ke kamera Full frame. Yaitu pada rentang fokal 16-20mm.

Kualitas bangun dan Bentuk Fisik
Sepintas bentuk fisik lensa ini tidak jauh berbeda dengan lensa Tokina sebelumnya yang saya coba, Tokina 11-16mm f/2.8 PRO DX II. Bentuknya terlihat kuno dan kurang kekinian. Tapi jika diteliti lebih mendalam lensa Tokina 11-20mm ini sedikit lebih besar, panjang dan diameter filternya sedikit lebih besar. Hal ini memang wajar, karena penambahan 4mm menambah ruang di dalam lensa.
Tokina 11-20mm. Tampak depan.
Tokina 11-20 tanpa Hood.
Diameter ring filternya sedikit lebih besar dari pendahulunya. Jika dulu menggunakan ring 77mm yang sudah sangat populer. Sekarang menggunakan ukuran 82mm. Sedikit lebih besar, juga membuat harga filter yang akan kita beli menjadi sedikit lebih mahal juga.

Kualitas bahan juga hampir mirip, terlihat kokoh dan nyaman digenggam. Ring fokusnya terasa sangat lembut dan nyaman. Sedangkan untuk ring zoom, terasa sedikit berat, tapi masih nyaman diputar. Bukan masalah yang besar.

Bentuk fisiknya yang besar, membuat agak kurang proporsional ketika dipasangkan di kamera saya, Nikon D7200. Tidak kebayang jika lensa ini dipasangkan ke kamera kecil seperti Nikon D5500 atau Canon EOS 100D. Ketika lensa hoodnya di pasang, kamera saya jadi semakin terlihat aneh saja. Tapi jika Anda suka bentuk fisik lensa yang besar dan gagah, lensa ini cocok untuk Anda.
Tokina 11-20mm digemgaman tangan saya.
Sama seperti lensa sebelumnya dan semua lensa Tokina pada umumnya, ring fokus dan ring zoom berada pada posisi yang terbalik dari kebanyakan lensa. Ring fokus berada di depan, dan ring zoom berada di belakang ring fokus. Hal ini membuat sedikit merepotkan saat hendak memasang dan melepas lensa ke kamera. Karena saat lensa diputar, bagian ring zoom lah yang jadi pegangan.
ISO: 100, 11mm, f8, 1/125 detik.

Kinerja
Secara keseluruhan, kinerja lensa ini terbilang baik. Masih tanpa penstabil gambar, tapi bagi saya ini bukan masalah yang besar. Kinerja lensa ini sama seperti yang saya harapkan untuk ukuran lensa ultra lebar; akurat, handal walaupun tidak secepat kilat. Motor fokusnya agak sedikit berisik tapi ini sedikit lebih baik dari pada pendahulunya.
ISO: 100, 11mm, f8, 1/200 detik.

Masih sama seperti lensa Tokina yang lain, sistem fokusnya masih menggunakan sistem kopling. Yaitu untuk berpindah dari mode manual ke auto fokus harus menarik ring fokus. Jujur, saya kurang suka cara ini. Karena biasanya ketika mengubah mode dari auto fokus ke manual dengan menarik ring fokus, itu akan sedikit mengubah fokus.
ISO: 100, 17mm, f5.6, 30 detik.
Sayangnya lagi, ring fokusnya tidak mengijinkan overade fokus manual. Mau tidak mau, untuk mengubah fokus ke manual harus menarik ring terlebih dahulu. Sedikit merepotkan ketika berhadapan dengan situasi rendah cahaya di mana kamera sudah tidak mengenali jarak fokus dan harus beralih ke manual fokus.

Kualitas Gambar
Tokina telah puluhan tahun membuat lensa Ultra lebar, tentu saja kualitas optik lensa ini tidak bisa dipandang remeh. Gambar yang dihasilkan lensa ini sungguh mengagumkan. Tajam bahkan hingga bukaan terbesar; f2.8. Hingga pada f16 lensa ini masih menghasilkan gambar yang tajam, bahkan hingga ke area pinggir gambar. Ketika menurunkan ke f18 atau f20. Sedikit ada pengurangan kualitas gambar. Di mana dipraksi mulai menurunkan kualitas foto.

Warna yang dihasilnya juga sangat menawan. Kontras dan saturasinya sudah sangat baik. Untuk keperluan posting di sosmed, kita tidak perlu melakukan toning warna lagi. Cukup jepret dan sudah bisa di upload.
ISO: 500, 14mm, f2.8, 1/800 detik.
Cromatic aberation dan distorsi juga terkendali dengan baik. Memang terkadang saya menemukan Cromatic abberation yang cukup terlihat di bagian paling pinggir gambar, tapi itu hanya terjadi jika berada pada kondisi cahaya yang ekstrim. Kita bisa dengan mudah mengkoreksi distrosi dan cromatik abberation di Adobe Light Room atau Adobe Camera Raw.
ISO: 200, 12mm, f8, 25 detik.
Masalah klasik lensa sebelumnya adalah flare dan ghosting. Saya rasa Tokina telah belajar banyak. Kemampuan lensa ini menahan flare sudah lebih baik. Tapi dalam situasi cahaya yang ekstrim lensa ini sedikit kehilangan kontras.

Dianugrahi aperture yang besar yaitu f2.8 ini adalah kelebihan Tokina. Memang untuk landscape aperture besar tidak terlalu penting. Tapi jika anda berencana menggunakan lensa ini untuk memotret objek atau foto grup di cahaya minim, maka lensa ini siap diandalkan. Bagi yang suka memotret Bima Sakti, sudah pasti lensa ini bisa diandalkan.
Saya memotret langsung ke arah matahari, tidak ada flare terlihat.

ISO: 100, 11mm, f10, 25 detik.
Dari segi kualitas gambar yang dihasilkan, saya merasa kagum dengan lensa ini. Tidak salah jika DXOMARK menempatkan lensa ini sebagai lensa ultra lebar terbaik yang pernah mereka coba di kelas APS-C.

Berikut Contoh foto yang lain Tokina 11-20mm F2.8 PRO DX
ISO: 100, 11mm, f14, 10 detik. (Foto ini menggunakan tambahan Nisi Filter Medium GND 1.2. Mungkin nanti saya akan membuat ulasan filter ini.)
ISO: 100, 11mm, f5.6, 30 detik. (Foto ini menggunakan tambahan Nisi Filter Reverse GND 0.9. Mungkin nanti saya akan membuat ulasan filter ini.)
ISO: 200, 11mm, f8, 1/100 detik.
ISO: 100, 11mm, f7, 25 detik.
ISO: 320, 11mm, f14, 1/50 detik.(Foto ini menggunakan tambahan Nisi Filter Medium GND 1.2)
ISO: 100, 11mm, f13, 30 detik.
Yang paling menarik menggunakan lensa ultra lebar adalah ketika foto grup, tidak perlu jauh-jauh moto.
Untuk melihat foto-foto yang lainya teman-teman bisa lihat di Intagram @adrasa_id
Klik di sini

Kesimpulan
Ini bukan lensa yang sempurna. Dalam beberapa hal kita akan menemukan sedikit kekurangan dari lensa ini. Seperti desain yang kurang proporsional, serta sistem auto fokus yang tidak populer, juga motor fokus yang masih agak berisik.

Tapi soal kualitas gambar, ini adalah lensa terbaik di kelas APS-C. Dibandrol dengan harga yang lebih murah dari lensa Nikon dan Canon. Ini adalah lensa yang jadi alternatif menarik di kelas ultra lebar. Jika Anda adalah orang yang tidak bisa berkompromi dengan kualitas gambar, maka ini adalah lensa yang cocok untuk Anda.

Pertimbangan dengan lensa kompetitor
Pasti teman-teman yang akan membeli lensa ultra lebar akan dibingungkan dengan banyaknya pilihan lensa di kelas ini. Tapi saya akan sedikit memberikan gambaran dan rekomendasi tentang ini.

Untuk pengguna Nikon
Nikon memiliki dua buah lensa di kelas ini. Pertama AF-P 10-20mm VR. Kedua, AF-S 10-24mm F3.5-4.5.
AF-P 10-20mm f4,5-5.6 VR. Jika harga jadi masalah maka lensa AF-P 10-20mm bisa menjadi pilihan. Lensa ini dibanderol lebih murah dari lensa Tokina. Terlebih ukurannya yang ringkas dan beratnya yang sangat ringan membuat enak untuk dibawa berpergian. Sudah dilengkapi penstabil gambar, ditambah motor fokusnya juga sangat sunyi. Tapi secara kualitas bahan, lensa ini terlihat sedikit murahan. Tidak jauh berbeda dengan lensa kit Nikon 18-55mm.
Kedua, AF-S 10-24 f3.5-4.5. ini adalah lensa yang bagus, walaupun terbilang cukup berumur, tapi lensa ini masih menghasilkan gambar yang tajam dan indah. Tapi harga yang ditawarkannya sangat tidak masuk akal. Harga resminya dibanderol sekitar 15jutaan. Jika Anda menyukai lensa Nikon dan anggaran buka masalah, maka lensa ini bisa menjadi pilihan.

Untuk pengguna Canon
Sama seperti Nikon, lensa ultra lebar Canon di kelas ini juga ada dua. Pertama Canon 10-18mm. Dan kedua Canon 10-22mm.
Canon 10-18mm. Mungkin lensa ultra lebar yang paling basic dikelas APS-C. Dibandrol dengan harga yang murah tapi jangan remehkan kualitasnya. Kualitasnya gambar yang dihasilkan berani bersaing dengan lensa yang lebih mahal. Ya memang built quality nya kurang begitu menawan, maklum harga berbanding dengan kualitas. Body nya dibungkus dengan plastik yang terlihat kurang menawan. Tapi lensa ini telah dilengkapi dengan penstabil gambar, nilai plus untuk lensa ultra lebar.

Canon 10-22mm. Ini adalah lensa yang cukup berumur. Saya sendiri belum mencoba lensa ini, tapi banyak fotografer yang mengeluh soal ketajaman hasil fotonya.

Lensa Pihak Ketiga
Tokina 11-16 F2.8 PRO DX II
Pertanyaan pertama, bagaimana perbandingannya dengan lensa sebelumnya? Yaps, dari segi kualitas gambar 11-20mm sedikit unggul. Selain itu pula, lensa ini memiliki 4mm lebih panjang, lebih flexible. Tapi harga yang ditawarkan cukup signifikan. 11-16 lensa yang cukup lama, membuatnya menjadi lebih murah. Harga barunya sekitar 6jutaan. Jika anda memiliki lebih sedikit anggaran. Mungkin 11-16mm adalah pilihan yang lebih bijak. Lebih lengkapnya tentang Tokina 11-16 F2.8 PRO DX II bisa baca ulasannya di sini.

Tamron 10-24mm VC HLD.
Ini adalah lensa paling baru di kelas ultra lebar dengan bentuk fisik paling kekinian dan elegan dari semua lensa pesaing. Gambar yang dihasilkannya tajam. Panjang fokalnya cukup flexible. Mulai dari ultra lebar (10mm) sampai hampir normal (24mm) banyak yang sudah menguji lensa ini. Dan banyak yang memuji juga. Lensa ini masih baru dan harganya masih mahal. Di Indonesia, harga barunya dibandrol 8,4 juta.  Dari segi harga bersaing tipis dengan Tokina 11-20mm yang dibandrol 8 jutaan. Uniknya, di luar negeri, lensa Tamron 10-24mm VC HLD justru dibanderol lebih murah dari pada Tokina 11-20mm.

Jika Anda bingung memilih antara kedua lensa ini, sama, saya juga bingung.

Tokina menghasilkan gambar yang sangat tajam hampir di semua aperture dan panjang fokal. Tamron tidak, lensa ini hanya tajam merata di aperture terbaiknya. Antara f8-f11. Tapi Tamron memiliki 1mm lebih lebar dan 4mm lebih panjang. Membuat lensa ini jauh lebih fleksible dari Tokina. Tapi pada rentang fokal di atas 20mm, kualitas gambar yang dihasilkan sedikit menurun.

Lensa Tamron 10-24mm VC HLD sudah dilindungi dengan weather shield, membuatnya tidak kawatir saat dibawa ke tempat bercuaca ekstrim.

Tamron hadir dengan penstabil gambar yang efektif hingga 4 stop. Kelebihan yang sangat menggoda. Sedangkan Tokina, tidak. Sayangnya, Tamron memiliki aperture variabel, dari mulai 3.5 sampai 4.5. Membuatnya terasa kurang PRO. Sedangkan Tokina memiliki aperture yang konstan. Terasa pro banget.

Dari segi kualitas gambar, Tokina unggul. Tapi segi fitur, Tamron unggul. Sungguh pilihan yang sulit. Jika Anda punya uang, mungkin alangkah baiknya membeli kedua lensa ini. Jika tidak, silahkan pilih salah satu di antara keduanya. Saya rasa kedua lensa ini memiliki kelemahan dan keunggulan masing-masing.

Sigma 10-20mm F3.5
Ini adalah lensa yang bagus, tajam, memiliki aperture yang konstan. Saya sendiri belum mencoba lensa ini. Tapi ini adalah lensa alternatif yang menarik, melihat harga yang ditawarkan juga lebih murah dari kedua lensa di atas.

Pertanyaan klasik, Penstabil Gambar vs Aperture Besar?
Dahulu, lensa lebar tidak dilengkapi dengan penstabil gambar. Karena memang tujuannya bukan untuk action photography yang membutuhkan kecepatan. Tapi seiring waktu, produsen mulai berinovasi, beberapa lensa ultra lebar pun mulai dilengkapi dengan penstabil gambar.

Di kelas APS-C, lensa ultra lebar yang telah dilengkapi penstabil gambar di antaranya. Canon EF-S 10-18mm IS STM, Nikon AF-P 10-20mm VR, dan Tamron 10-24mm VC HLD. Pertanyaannya, bagaimana jika dibandingkan dengan lensa aperture besar seperti Tokina 11-20mm atau 11-16mm?

Dengan penstabil gambar, membuat kita tetap mendapatkan gambar yang tajam walaupun menggukakan shutter speed yang lambat. Tapi jika kita lebih sering menggunakan tripod. Maka penstabil gambar ini jadi tidak berguna.

Idealnya, untuk seorang fotografer landscape. Ketika berada pada keadaan minim cahaya, bermain dengan long exposure dan menggunakan tripod jauh lebih menyenangkan dari pada harus menggunakan penstabil gambar.

Bagaimana dengan aperture besar?
Untuk apa lensa ultra lebar menggunakan aperture besar? Toh untuk landscape aperture kecil seperti f8-f16 lebih sering dipakai.

Sebenarnya, apeture besar juga sangat berguna saat kondisi cahaya rendah. Bedanya, jika menggunakan shutter speed yang lambat, gambar akan tetap buram karena gerakan tangan saat memotret.

Jadi jika ada pertanyaan apakah fitur penstabil gambar atau aperture besar?
Kembali ke diri masing-masing. Jika lebih sering memotret dengan tangan, bahkan di saat cahaya rendah juga. Maka fitur penstabil gambar jauh lebih berguna. Tapi jika lebih senang menggunakan tripod dan bermain long exposure, saya rasa pentabil gambar jadi tidak terlalu penting.

Share This
Latest
Next Post

0 komentar: