Minggu, 26 Agustus 2018

Nisi Medium GND, Mungkin Hanya Satu filter GND yang Kamu Butuhkan


Sebelumnya saya secara umum telah menjelaskan tentang GND filter di sini. Kali ini saya akan memberikan sedikit ulasan dari pengalaman memakai Nisi Medium GND. Yang saya ulas di sini adalah Nisi iR Medium GND 1.2 (4 stop).

Saya sudah cukup lama memakai filter ini. Ini adalah filter GND pertama saya. Saya sudah memakai filter ini dalam berbagai kondisi memotret. Saya katakan ini adalah ulasan berdasarkan pengalaman saya memotret. Dan mungkin pengalaman setiap orang bisa sedikit berbeda.

Nisi Medium GND ini merupakan filter yang relatif baru. Baru diperkenalkan tahun kemarin. Banyak yang merespons positif kehadiran filter ini.

Sejauh ini hanya ada dua produsen yang telah mengeluarkan filter GND Medium. Pertama Lee filter, salah satu nama besar dalam industri filter dunia. Dan kedua, Nisi Filter. Perusahaan asal China yang selama beberapa tahun terakhir telah meningkat pesat dalam produk filternya.

Nisi telah menjadi terkenal karena kualitas gambarnya yang sangat baik dan color cast-nya yang sangat rendah. Nisi melapisi filter mereka dengan teknologi nano yang membuatnya sangat mudah dibersihkan dan tahan lama.
Teknologi Nano Nisi.
Sebelumnya kita telah mengenal filter GND hard dan GND Soft. Tapi di lapangan kita kadang menemukan situasi di mana tidak bisa dengan GND hard ataupun soft. Maka GND Medium adalah jawabannya. Transisi Nisi Medium GND ini merupakan perpaduan antara hard dan soft sehingga membuatnya lebih fleksibel di berbagai situasi dan kondisi.
Paket penjualan Nisi Medium GND.
Ketika anda membeli filter GND Nisi, kita akan berikan softcase dalam paket penjualan sebagai tempat menyimpan filter. Tapi, jujur saya sangat tidak suka softcase-nya. Disainya memang sangat stylish dan elegan tapi sangat tidak fleksibel saat mau memasukkan atau mengeluarkan filternya. Lagi pula softcase tidak akan melindungi filter dari benturan keras. berbeda dengan hardcase dari plastik yang umum dijual filter lain.

Ilustrasi Nisi Medium GND
Nisi memberikan ilustrasi bagai mana medium GND bekerja. Tapi menurut saya itu sedikit salah. Karena diameter lensa tidak sepanjang filter. Sehingga ketika kita memasang filter area transisi masih menutupi sebagian besar area lensa.
Transisi GND medium
Perbandingannya adalah diameter ring filter lensa ultra wide saat ini rata-rata 77mm (Walaupun ada yang memakai 82mm). Sedangkan area transisi Medium filter adalah 30 mm. Artinya jika kita menempatkan horizon tepat di tengah lensa, dan memasang filter lensa tepat di tengah-tengah. Maka sebagian besar area gelap adalah area transisi, bukan area solid. Bahkan area transisi akan sedikit turun ke bawah garis Horizon. Kita harus sedikit menurunkan filter agar bisa mendapatkan lebih banyak area solid.

Tapi walaupun demikian, transisi Medium lebih solid dari Soft GND. Jadi bisa dikatakan GND medium lebih kuat dalam mereduksi area terang ketimbang GND Soft. Dan karena lebih solid dan memiliki area transisi yang cukup. Maka GND medium lebih flesible dari Soft ataupun Hard.

Nisi GND Medium ini kompatibel dengan sistem Lee Filter ataupun sistem filter yang lain yang mendukung ketebalan 2mm dengan sistem 100x150mm. Jadi Anda tidak usah khawatir untuk ganti holder filter jika sudah memiliki holder filter yang lain.

Contoh Gambar
Ulasan tidak lengkap tanpa contoh foto. Saya akan memberikan beberapa contoh foto yang telah saya ambil menggunakan GND medium ini. Saya menggunakan Medium GND 4 stop. Saya telah melakukan post processing dengan Adobe Camera Raw hampir semua foto ini.

Situ Bagendit.
Saya mencoba untuk pemandangan sunset di Situ Bagendit. Di sini Saya tidak menempatkan filter secara lurus tapi agak miring ke kanan. Kenapa? Kita lihat ada pantulan cahaya di air di area foto sebelah kanan. Jika lurus, maka area air tidak akan tereduksi. Area transisi filter saya gunakan untuk mereduksi pantulan cahaya di air. Ini tidak mungkin bisa dilakukan kalau kita menggunakan GND Hard atau Reverse. Karena transisinya solid, maka akan susah jika harus diturunkan ke bawah untuk mereduksi pantulan cahaya di air.

Pemangan situ Bagendit dari belakang.
Berikutnya saya mencoba pemandangan matahari terbit, masih di Situ Bagendit, tapi dari arah belakang. Ini pemandangan sunrise yang sangat kuat. GND Medium 4 stop pun tidak bisa mereduksi dengan baik. Area darat masih under exposure sedangkan area langit exposurenya sudah cukup. Saya harus menaikkan area shadow dengan Adobe Camera Raw.

Matahari terbit di Situ Bagendit 1.
Matahari terbit di Situ Bagendit 2.
Kedua foto diatas diambil hampir bersamaan. Medium Nisi GND 4 stop mereduksi cahaya dengan sangat baik sehingga saya mendapatkan foto dengan exposure yang hampir merata.

Kesimpulan
Nisi Medium GND ini mungkin filter yang lebih fleksibel dari GND Hard ataupun Soft. Saya rasa ini akan jadi pertimbangan untuk anda yang akan membeli filter pertama anda.

Selera orang ketika memotret akan mempengaruhi hasil foto dari filter ini. Okai, memang tidak semua kondisi akan bisa teratasi dengan Medium GND seperti saat pemandangan di pantai di mana GND hard atau Reverse jauh lebih berguna. Tapi sedidaknya GND medium ini bisa mereduksi area untuk selanjutnya bisa kita perbaiki saat post processing.


Sabtu, 25 Agustus 2018

GND Filter, Filter Paling Mewah Fotografer Landscape

Pemandangan Matahari terbenam di Pulau Santolo.
Para fotografer landscape menghabiskan puluhan juta rupiah untuk membeli sensor yang canggih pada kamera mereka. Optik yang berkualitas pada lensa mereka. Dan ketika kita membicarakan filter, orang akan mengira itu efek warna di Android dan iPhone. Tidak, filter yang akan dimaksud di sini adalah filter optik tambahan yang digunakan para fotografer landscape untuk mengambil foto mereka.
Filter GND dan holder filter. (Photo by www.capturelandscapes.com)
Filter dan holder filter yang terpasang di kamera. (Photo by www.lifepixel.com.)

Kenapa GND filter itu perlu?
Karena sensor kamera yang harganya puluhan juta sekalipun belum lah sempurna.  Salah satu kelemahan kamera digital yang paling terlihat hingga saat ini yaitu Dynamic Range.

Sejak kamera digital lahir beberapa dekade lalu, produsen kamera terus berusaha memperbaiki kelemahan itu. Kemampuan dynamic range kamera sekarang sudah jauh meningkat tapi masih belum sempurna.

Dynamic range adalah kemampuan kamera mengenali cahaya dari yang paling terang, hingga yang paling gelap. Terang dan gelap di sini bukan warna tapi intensitas cahaya, yang terang tidak selalu putih, dan yang gelap tidak selalu hitam.

Setiap kamera memiliki kemampuan dynamic range yang berbeda. Semakin tinggi semakin baik pula. Kamera smartphone saat ini memiliki sekitar 8-10 Stop. Kamera D-SLR dan Mirrorless sekitar 11-14 stop. Hingga tulisan ini diposting, kamera dengan Dynamic Range terbaik masih di pegang Nikon D850 sekitar 14,8 Stop. Mata manusia? Luar biasa, mampu mengenali hingga 22 stop.

Perbedaan yang sangat terasa yaitu saat memotret sunset atau sunrise. Saat kita melihat pemandangan sunrise atau sunset. Langit yang cerah menerangi area darat. Semuanya indah. Tapi tidak bagi kamera.
Pemandangan matahari terbit yang saya ambil sendiri di atas rumah saya.
Area darat yang merupakan area shadow, area yang tidak tersinari langsung oleh matahari memiliki dynamic range yang sangat kecil, jauh berbeda dengan area langit. Hasilnya ketika kita memotret area darat akan tampak lebih gelap. Exposure darat dan langit menjadi tidak seimbang.

Setiap fotografer landscape pasti akan berjuang untuk mendapatkan seluruh gambar terpapar dengan benar. Ada yang memotret beberapa kali dengan tingkat exposure yang berbeda untuk kemudian melakukan post processing di photoshop. Itu sedikit merepotkan memang. Bagaimana cara untuk mendapatkan exposure sempurna dalam sekali memotrt? Jawabannya adalah GND Filter.
Dengan bantuan GND Medium saya bisa mendapatkan foto yang lebih baik.
Untuk mengurangi perbedaan exposure langit dan darat ini, maka fotografer menambahkan filter GND di depan lensa. Hasilnya fotografer akan mendapatkan foto dengan exposure yang lebih seimbang antara darat dan langit.

GND Filter
GND atau Graduated Neutral Desensity Filter adalah filter yang digunakan untuk mereduksi cahaya di area tertentu. Dan sesuai namanya Neutran Density yang artinya tidak mengubah warna foto. GND Filter ini memiliki dua bagian gelap dan transparan. Bagian atas yang merupakan area gelap biasanya digunakan untuk mereduksi area langit yang terang, sedangkan bagian transparan digunakan untuk area darat. Area gelap ini memiliki tingkat gelap yang berbeda, mulai dari 1 stop hingga sampai 5 stop, tergantung kebutuhan.
Pemandangan matahari terbit dengan bantuan GND Reverse 3 stop.
Diantara semua filter yang digunakan dalam fotografi, bisa dikatakan filter GND ini lah yang paling mewah. Selain dari fungsinya juga dari harga. Walaupun harga juga tergantung dari bahan GND tersebut.

Untuk memasang GND filter ini ditbutuhkan holder filter juga ring adapter untuk memasang holder pada lensa. Biasanya dalam satu holder terdapat beberapa slot yang bisa di isi dengan filter. Jadi kita bisa memasang beberapa filter sekaligus sesuai slot yang tersedia.

Ada tiga jenis GND dilihat dari bahannya.

Plastik
Paling murah juga kualitasnya tidak begitu bagus. Karena filter dari bahan plastik mengurangi ketajaman foto juga menghasilkan color cast yang sangat tinggi. Bisanya filter dari bahan plastik dibandrol dibawah Rp 500 ribuan.

Resin
Kelas menengah. Menghasilkan foto yang lebih baik dari bahan plastik. Lebih sedikit color cast juga menghasilkan ketajaman yang lebih baik. Dari segi harga bahan resin sedikit lebih mahal dari yang berbahan plastik. Harganya sedikit lebih mahal dari bahan plastik. Sekitar Rp 500 ribu sampai satu  juta rupiah.

Terakhir, berbahan kaca
Paling premium. Menghasilkan ketajaman foto yang sangat baik dan paling sedikit color cast bahkan sama sekali tanpa color cast. Tentu saja semua ini berbanding lurus dengan harga. GND yang berbahan kaca biasanya dibandrol mulai harga 1,5 juta sampai 3 jutaan tergantung merek dan jenis GND.

Jenis GND berdasarkan transisi
Filter GND ini berdasarkan transisinya memiliki beberapa jenisnya.

GND Hard Edge
GND ini memiliki transisi yang solid dari area gelap ke transparan. GND ini biasanya digunakan untuk memotret di mana garis horizon terlihat jelas tanpa ada objek lain. Contohnya seperti di pantai. Atau padang rumput, padang pasir di mana horizon benar-benar tak terhalang objek lain. Kerapatan yang sering dipakai biasanya 3 stop.
Ilustrasi GND Hard. Photo by Nisi Filter.
GND Soft Edge
GND ini memiliki transisi yang lembut dari area gelap ke terang. GND ini biasanya digunakan untuk memotret di mana garis horizon terhalang oleh objek-objek tertentu seperti bangunan, gunung, pohon. Kerapatan yang sering dipakai biasanya 4 atau 5 stop.
Ilustrasi GND Soft. Photo by Nisi Filter.
 
GND Reverse
Ini adalah filter GND yang khusus, biasanya harganya juga lebih mahal dari kedua jenis di atas. Reverse ini adalah versi kebalikan dari soft edge. Karena area gelap berada di tengah semakin ke atas semakin pudar. GND ini dikhususkan untuk pemandangan sunrise atau sunset tepat matahari sebelum tenggelam. Kerapatan yang sering dipakai biasanya 3 atau 4 stop.
Ilustrasi GND Reverse. Photo by Nisi Filter.

Pemandangan matahari terbenam di pulau Santolo dengan bantuan filter GND Reverse 3 stop.
GND Medium
Ini merupakan jenis GND yang relatif baru. Hanya ada dua produsen yang mengeluarkan GND jenis ini. Yaitu Lee Filter dan Nisi Filter. Filter ini merupakan filter yang merupakan tengah-tengah di antara filter GND Hard dan Soft. Transisi dari area gelap ke terang lebih kontras terlihat dari GND soft tapi tidak se solid GND Hard. Secara khusus saya telah mengulas filter ini. Bisa dibaca di sini.

GND Horizon
Ini merupakan filter GND yang lebih khusus lagi. Karena area gelap hanya di tengah saja. Filter ini digunakan untuk pemandangan matahari terbenam di mana, cahaya matahari memantul di air di mana tidak akan bisa diatasi oleh filter GND reverse. Filter ini merupakan filter yang paling mahal dari semua GND di atas. Hanya Nisi yang memproduksi filter jenis ini.
Perbedaan transisi GND. (Photo by www.lifepixel.com.)
Nisi GND Horizon
GND filter apa yang harus dibeli?
Pertanyaan yang sama seperti saya sebelum memiliki filter ini. Terutama untuk kita yang memiliki anggaran terbatas. Rasanya tidak mungkin membeli semua filter GND.

Setiap GND memiliki fungsi yang berbeda, tapi bukan berarti kita harus membeli semuanya. Jika Anda seorang fotografer pemula yang akan memutuskan membeli filter GND pertama Anda. Putuskan dulu apa yang akan sering Anda fotret. Jika pemandangan horizon yang lebih sering tak terganggu objek lain. GND Hard atau reverse lebih cocok untuk Anda.

Jika lebih sering memotret pemandangan matahari terbenam atau terbit di mana banyak objek yang menghalangi, maka GND soft atau medium lebih cocok untuk Anda. Kerapata yang sering dipakai 4 stop.

Adakah GND yang bisa dipakai untuk segala kondisi?
Sebenarnya tidak ada, tapi jika kita sedikit lebih kreatif mengakali situasi. Bisa memilih GND Soft 4 stop atau Medium 4 stop.

Dulu sebelum Medium GND lahir, GND Soft 4 stop yang banyak direkomendasikan untuk segala kebutuhan. Sekarang banyak fotografer yang lebih merekomendasikan GND Medium sebagai filter GND yang bisa dipakai hampir di semua kondisi. Kita hanya butuh lebih kreatif untuk menempatkan transisi yang tepat.

Kerapatan yang di pilih bisa 3 stop atau 4 stop. Pengalaman saya di lapangan, lebih sering memakai yang 4 stop.
Pemandangan Situ Bagendit saat matahari terbit dengan bantuan GND Medium 4 stop.

Apakah setelah memakai GND masih butuh post processing?

Pengalaman saya, di hampir kebanyakan foto tetap selalu butuh post processing baik itu di Adobe Lightroom atau pula Adobe Camera Raw. Karena saya hanya memiliki dua buah GND, yaitu GND Medium 1.2 (4 stop) dan satu buah GND Reverse 0.9 (3 stop). Di lapangan saat memakai salah satu GND itu kadang terasa terlalu gelap dan terkadang kurang gelap. Sehingga saya tetap membutuhkan post processing untuk memperbaiki exposure foto.

Kata akhir
Memotret dengan filter GND memang tidak akan membuat foto kita langsung terlihat sempurna. Bahkan saya masih perlu melakukan post processing di Adobe Camera Raw atau Lightroom untuk menyempurnakannya. Tapi setidaknya dengan memakai filter GND kita bisa mendapatkan foto dengan exposure yang lebih seimbang antara darat dan langit.

Kamis, 02 Agustus 2018

Karom Coffee, Kopi Papandayan Dengan Rasa Paling Istimewa

Kopi Papandayan.
Kopi Garut khususnya kopi Papandayan sudah terkenal sejak dahulu bahkan sejak era kolonial Belanda. Kopi yang di tanam di gunung Papandayan memiliki aroma dan cita rasa yang khas. Bahkan menjadi kopi terbaik saat cupping test di Bandung pada 2016. Sejak saat itu, popularitas kopi Papandayan terus meningkat. 

Biji kopi Papandayan yang telah disanggrai.
Kepopuleran ini membuat banyak petani mulai membudidayakan Kopi Papandayan. Tahun ke tahun produksi kopi Papandayan terus meningkat. Di Papandayan sendiri ada banyak pengrajin kopi. Salah satu pengrajin kopi yang telah tersohor adalah Pak Karom dengan produk andalannya Karom Coffee.
Pak Karom.
Pak Karom ini, sudah sangat pengalaman mengolah biji kopi terbaik dari Gunung Papandayan menjadi kopi yang bercitarasa tinggi dan sangat istimewa. Jika anda ingin pencari kopi Papandayan dengan kualitas terbaik. Maka inilah jawabannya.
Coffee Story FC.
Karom Coffee melalui Coffee Story FC menawarkan lima varian kopi Papandayan. Varian ini tergantung dari tingkat kelangkaan kopi dan juga tingkat kerumitan saat memproses biji kopi menjadi kopi yang siap saji. Semakin langka. semakin rumit, semakin enak, semakin mahal pula. Lima varian ini adalah Lanang Pea Berry, Yellow Bourbon, Honey Process, Natural Process, dan terakhir Original Process.


LANANG PEA BERRY
Kopi Lanang Karom Coffee.

Biji kopi yang paling istimewa yang kami miliki, paling langka dan paling berharga. Tanya kenapa!

Idealnya ketika satu buah ceri kopi dikupas akan terdapat dua biji kopi (Dikotil). Tapi sebagian ceri kopi memiliki kondisi anomali yaitu hanya memiliki satu biji kopi (Monokotil). Biji kopi lanang memiliki bentuk hampir bulat dan cenderung utuh tanpa terbelah. Lanang sendiri berasal dari bahasa Jawa yang artinya bulat. 

Dari keanehan ini, kopi lanang justru sangat istimewa dan langka. Dari 100 Kg biji kopi, mungkin hanya terdapat sekitar 5 Kg biji kopi lanang. Dan karena melalui proses penyortiran yang sangat rumit, kopi lanang juga menjadi sangat berharga. Keistimewaannya juga terdapat pada rasa yang dimilikinya. Rasa kopinya sangat kuat dan dahsyat. Bahkan bagi sebagian orang percaya bahwa kopi lanang memiliki khasiat menambah stamina.

Yellow Bourbon
Yellow Bourbon Karom Coffee.
Berbeda dari semua biji kopi yang kami miliki. Yellow Bourbon adalah biji kopi yang sangat unik. Yellow Bourbon adalah kopi yang dihasilkan dari biji kopi di mana ketika matang tidak berwarna merah melainkan berwarna kuning.

Hanya ada tiga tempat di dunia ini yang menghasilkan biji kopi kuning. Pertama Brazil dengan nama Borbon. Kedua dari Flores dengan sebutan Yellow Katura. Ketiga, tentu saja Garut, yaitu biji kopi yang ditanam di tanah vulkanik Papandayan. Kopi ini juga yang memenangkan Cuping Test di Bandung pada tahun 2016. Biji kopi yang menghasilkan rasa yang khas dan berbeda dari yang lain. Kami memilih biji kopi kuning terbaik untuk kami proses untuk anda penikmat kopi sejati.

Honey Process.
Honey Process Karom Coffee.
Ceri kopi terbaik yang telah kami pilih, kami proses dengan cara yang sangat istimewa, diproses tanpa tersentuh air. Setelah ceri kopi segar dibersihkan, kami kupas kulitnya lalu kami menjemurnya selama dua puluh hari. Dari mulai proses pengupasan kulit hingga proses roasting, biji kopi ini sama sekali tak tersentuh oleh air. Dari hasil proses yang sangat istimewa ini, biji kopi ini menghasilkan rasa yang nikmat, lembut dan penuh kasih sayang.

Jika Anda menyeduh kopi ini, buih yang dihasilkannya lebih banyak dari yang lain. Kopi honey paling digemari oleh kaum hawa. Tapi bagi Anda kaum adam bukan berarti tidak boleh menikmati kekhasan rasanya.

Natural Process
Natural Process Karom Coffee.
Jangan pernah anggap nama natural di sini adalah kopi yang biasa. Ini adalah kopi spesial dengan proses paling lama. Biji kopi segar terbaik yang kami pilih, tanpa dikupas kulitnya, kami menjemurnya dengan durasi hingga satu bulan. Itu pun terjadi jika di musim kemarau, jika di musim hujan? Bisa lebih dari satu bulan tentunya.  Lalu apa faedahnya dari proses yang lama ini? Tentu saja rasanya. Natural Process ini akan mengunci rasa yang berbeda tergantung tempat penanaman biji kopi dan musim. Setiap tempat dan setiap musim akan menghasilkan rasa yang berbeda. Kami sendiri tidak bisa secara pasti menentukan rasa yang akan terjadi pada kopi ini. Yang jelas nikmatnya juga beda.

Original Process

Original Process Karom Coffee.
Kami menamai kopi ini Original Process bukan berarti kopi yang lain Kawe. Biji kopi segar kami proses sepenuhnya tanpa rekayasa. Tentu saja kopi yang kami proses adalah kopi yang terbaik, hanya saja prosesnya tidak serumit yang lain. Apa faedahnya? Tidak semua penikmat kopi menginginkan kopi hasil proses yang rumit. Sebagian orang justru menginginkan rasa kopi yang sederhana dengan rasa yang sama seperti rasa yang dulu pernah ada. Dari itu kami mengolah kopi terbaik kami untuk diproses tanpa rekayasa.

Cascara
Teh Cascara Karom Coffee.
Teh dihasilkan dari kopi? Bagi sebagian orang mungkin menganggap ini sebuah lelucon. Tapi percayalah, ini bukan lelucon, dan rasanya juga bukan lelucon. Rasanya nikmat dan berbeda karena teh cascara memiliki kekhasan rasa buah kopi yang asam manis. Bagi Anda penikmat teh, harus mencoba teh cascara ini.

Teh ini kami hasilkan dari kupasan kulit kopi. Setelah kami bersihkan, Kami menjemurnya beberapa hari lalu kami kemas. Cara penyeduhannya juga sangat gampang, sama seperti teh pada umumnya. Tinggal diseduh dengan air panas, teh cascara pun siap dihidangkan.  

Semua varian Karom Coffee ini tersedia dalam kemasan 250gr atau 125gr dengan harga yang bervariasi tergantung varian kopi. Untuk untuk pemesanan bisa dilakukan melalui Bukalapak, Tokopedia, atau order secara langsung. Semuanya bisa, tergantung cara yang favorit anda.

Coffe Story FC
Tokopedia : Coffee Story FC
Bukalapak : Coffee Story FC
Instagaram : @coffeestory_fc